Sekali Lagi Demi Udang Merah

Filed in Buah by on 01/07/2009 0 Comments

Kelezatan red crown baru tercecap di hari terakhir di sebuah lapak durian di pusat kota. Itupun tinggal tersisa 1 buah. Padahal di hari kedua mendarat, semua kebun durian yang didatangi kosong. Artinya, buah yang dicicip bukan buah yang baru jatuh dari pohon. Itu karena musim durian baru saja lewat. Ketika itu musim durian maju sebulan karena cuaca tidak teratur.

Usai membaca surat elektronik itu kolega di Pinang lantas dihubungi untuk memastikan musim durian. Eureka! Pada 2009 musim durian jatuh pada pertengahan Mei hingga akhir Juli, tepat dengan jadwal rutin perjalanan ke Pulau Pinang. Udang merah matang pohon pun terbayang di depan mata. Pasti jauh lebih nikmat.

Kebun warisan

Akhir Mei 2009 tanah Pulau Pinang pun kembali dijejak. Benar saja lapak durian mudah ditemui di George Town, pusat kota Pulau Pinang. Angka RM25 setara Rp75.000 terpampang di setiap durian anghe berbobot 1,3 kg. Di Balik Pulau, sentra durian, anghe dapat ditukar lebih murah RM15 setara Rp45.000 per kg. Godaan untuk mencicip begitu kuat, tapi Toh Keat Lee, pengemudi yang mengantar melarang. ‘Di kebun pasti lebih nikmat. Dua tahun lalu Anda sudah coba yang di pinggir jalan,’ katanya.

Berbekal peta, areal Bao Sheng Durian Farm mudah ditemukan. Lokasinya di antara Balik Pulau dan Teluk Bahang. Kebun ditempuh sejauh 30 km setara 40 menit perjalanan bermobil dari Penang Hill.

Dari kebun di ketinggian 250 – 300 m dpl itu Pantai Aceh, Pinang, jelas terlihat. Di sana Teik Seng Chang, pemilik kebun sudah menyambut. Ia lantas mengajak ke balkon rumahnya – yang sekaligus menjadi showroom durian. Di atas meja, 100 durian – terdiri 6 jenis – yang jatuh dini hari tesaji.

Menurut Chang kebun itu diwariskan ayahnya, Chang Fatt Hin, yang dibangun 60 tahun silam. Chang senior menanam 180 durian di lahan seluas 7 acre (setara 2,8 ha). ‘Ada 9 jenis yang ditanam,’ kata Chang. Sebut saja anghe (60 tahun), holor (60), kunpoh angbak (60), greenskin angbak (40), D600 (30), D604 (60), lipan (50), D11 (50), dan little red (30). Toh, dari 9 jenis itu 3 yang paling digemari. Berturut-turut dari yang terenak: anghe, holo, dan kunpo angbak. Cerita Chang persis dengan yang dituturkan Fong Pow Pin, pemilik pohon durian di Pondok Upeh, Balik Pulau, 2 tahun silam.

Jawara 1996

Anghe diakui warga Pinang sebagai durian terbaik. Ia menjadi juara kontes durian se-Pulau Pinang pada 1996. Holo meraih gelar serupa tahun berikutnya. Sedangkan kunpo anbak juara 2001. ‘Sebetulnya pada 2000 digelar kontes serupa. Pemenangnya D600, sayang rasanya kurang stabil,’ tutur Chang. Menurut Lim Boon Tiong, ahli durian yang menggelar kontes itu, sejak menang di kontes ketiganya menjadi simbol durian lezat di Pulau Pinang. Makanya semua pekebun pasti menanam ketiganya.

Chang lantas menyodorkan 3 buah durian itu. ‘Jangan langsung cicip anghe. Nanti durian lain terasa tidak enak,’ kata kelahiran Pinang 48 tahun silam itu. Yang pertama dibelah kunpo angbak dari pohon berumur 30 tahun. Daging buah menarik: kuning kemerahan dengan ketebalan sedang. Rasanya manis agak pahit. Buah kualitas seperti itu sulit ditemukan di lapak-lapak di pinggir jalan di tanahair. Setelah menetralkan lidah dengan air putih yang diseruput dari kulit juring durian, giliran holo disantap.

Warna daging buah holo tak semenarik kunpo angbak, putih krem. Namun, begitu dicicip rasa holo jauh di atas kunpo angbak. Daging tebal, kering, dan manis. Saat dicecap, seperti bercampur rasa cokelat. Daging yang kering pun berubah menjadi lengket di lidah. Nikmat sekali. Berikutnya durian terakhir, anghe legenda dari Pulau Pinang. Raja buah berkulit kecokelatan pun dibelah. Daging buah kekuningan dengan semburat merah. Mirip semburat merah pada udang rebus.

Rasanya? Hmm, kunpo angbak dan holo langsung lewat. Daging buah lembut tanpa serat, teksturnya benar-benar mirip keju. Rasa yang pertama tercecap manis, lalu 30 detik kemudian rasa pahit mulai menyergap. Durian jatuhan matang pohon itu juga lebih lezat ketimbang anghe yang dicicip 2 tahun silam. ‘Yang dicicip di pinggir jalan sudah mengalami fermentasi karena disimpan lebih lama. Lebih enak lagi anghe yang disantap kurang dari 2 jam sejak jatuh dan berasal dari pohon umur 60 tahun,’ tutur Lim. Anghe kali ini berasal dari pohon berumur 30 tahun. Itu karena semakin tua pohon, maka kian stabil kualitas buah.

Terkenal

Menurut Chang, lokasi kebun durian itu terletak di tengah sentra durian di Balik Pulau, Pinang. ‘Di sini memang paling cocok untuk durian. Sumber air melimpah dan angin besar, sehingga air tidak tergenang,’ kata Chang. Kini semua kebun di Balik Pulau mengelola kebun durian secara organik sejak 1996. Ketika itu rombongan turis dari Eropa mengkritik pekebun dan pemerintah Negeri Pulau Pinang karena durian dikebunkan dengan pupuk sintetis kimia dan pestisida yang berlebihan.

Kebun menjadi gersang, tak ada serangga seperti kupu-kupu yang terbang. Padahal, Pulau Pinang terkenal dengan kupu-kupu (baca: Misi Roh Kecil di Muka Bumi, Trubus Februari 2009). Rumput pun enggan tumbuh. Begitu juga cacing dan kelelawar tak terlihat. Turis Eropa itu meramal produksi bakal menurun 5 – 10 tahun ke depan. Sejak itulah pekebun mengadopsi pertanian organik. Durian dipupuk tepung ikan dan kotoran ayam fermentasi. ‘Produksi sempat menurun 50%, tapi kemudian normal kembali setelah 5 tahun,’ kata Quah Ewe Kheng, praktikus buah di Pinang.

Label organik pun kian menarik turis. Menurut Timothy Tye, penyelenggara Asia Explorers Durian Feasts, sejak 2003 turis yang berkunjung untuk berburu durian selalu melimpah. Terkadang dalam 1 musim durian Timothy menggelar 2 kali tur dengan peserta 35 – 40 orang. Peserta umumnya dari Asia, Eropa, dan Australia. ‘Dengan udang merah saja mereka tertarik, apalagi setelah dilabeli udang merah organik,’ katanya. Durian mania peserta tur itulah yang mengabari kelezatan durian pinang ke jagad maya. (Destika Cahyana)

 

Powered by WishList Member - Membership Software