Sekali Lagi, Berguru Pada Negeri Siam

Filed in Laporan khusus by on 02/08/2013
Koleksi anggrek Nopporn Orchids, nurseri anggrek di Nakorn Pathom, Thailand

Koleksi anggrek Nopporn
Orchids, nurseri anggrek di
Nakorn Pathom, Thailand

Berkali-kali datang ke Thailand selalu ada hal baru ditemukan.

Melepas lelah di paviliun anggrek di Royal Park Ratchaphruek, Chiang Mai, Thailand, sungguh mengasyikkan. Suara gemericik air terjun buatan dan semilir angin menyejukkan kota Chiang Mai yang suhunya pada Mei 2013 mencapai 34°C. Apalagi mata kita dimanjakan oleh hamparan beragam jenis anggrek seperti oncidium, dendrobium, vanda, phalaenopsis, cattleya, epidendrum, dan paphiopedilum yang begitu populer, pun thecostelinae dan smitinandia yang lebih jarang didengar.

Pengelola taman menata tanaman anggota famili Orchidaceae itu di beberapa tempat. Di tiang penyangga bangunan, batang pohon, dinding air terjun buatan, batu di pinggir kolam, atau pot yang dijejer di pinggir jalan setapak. Alhasil, ke mana pun kepala kita menoleh di sana ada anggrek. Pantas, setiap pengunjung yang datang pasti menghentikan langkah. Entah hanya mengagumi anggrek yang belum pernah mereka lihat, istirahat sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan, atau sekadar mengabadikan pemandangan dalam gambar.

Anggrek andalan

Thailand juga gencar mengekspor phalaenopsis pot

Thailand juga gencar mengekspor phalaenopsis pot

Berada di sana seperti melihat galeri keragaman anggrek di Tanah Siam. Koleksi anggrek juga Trubus temui di Queen Sirikit Botanical Garden di Mae Rim, Chiang Mai. Warna-warni anggrek juga menghiasi bandara internasional Suvarnabhumi dan anjungan Thailand pada perhelatan pameran tanaman hias dunia Floriade 2012 di Venlo, Belanda. Bahkan maskapai nasional Thailand memakai anggrek sebagai logo armada. Pendek kata, anggrek menjadi identitas negeri Gajah Putih. Harap mafhum, “Anggrek adalah komoditas andalan pertama di sektor tanaman hias,” kata Choomjet Karnjanakesorn PhD, atase pertanian Thailand untuk Indonesia.

Koleksi anggrek di Queen Sirikit Botanical Garden

Koleksi anggrek di Queen
Sirikit Botanical Garden

Lumbung anggrek Thailand ada di Bangkok, Nonthaburi, Nakorn Pathom, Ratchaburi, Samut Sakorn, Kanchanaburi, dan Ayuthaya. Total jenderal luas kebun anggrek di Thailand mencapai 3.500 hektar. Sekitar 3.300 ha dari total area merupakan kebun anggrek potong, sisanya anggrek untuk pot. Dari seluruh total produksi, separuhnya ditujukan untuk memenuhi pasar ekspor, sisanya lokal. Data Thai Customs Department menunjukkan angka ekspor anggrek potong pada 2009 mencapai  US$69-juta setara Rp6,9-triliun.

Stan Departemen Pertanian Thailand di perhelatan Asia Horti Fair 2013 semarak dengan warna-warni anggrek

Stan Departemen Pertanian
Thailand di perhelatan Asia
Horti Fair 2013 semarak
dengan warna-warni anggrek

Pendapatan itu hasil penjualan 24,6 ton anggrek potong dendrobium, mokara, oncidium, aranthera, aranda, vanda, arachnis, dan ascocenda. Permintaan anggrek potong tertinggi datang dari Cina dan Jepang. Pada 2009, Cina mendatangkan anggrek potong dari Thailand sebesar 7.493 ton setara US$6-juta, sedangkan Jepang 4.407 ton setara US$22-juta. Dendrobium adalah jenis yang paling banyak diekspor.

Sementara untuk anggrek pot, pada 2009 Thailand mengekspor sebanyak 30-juta tanaman senilai US$10-juta. Jenis yang paling banyak diekspor yakni dendrobium dan phalaenopsis. Amerika dan Jepang adalah konsumen terbesarnya. Sepanjang 2009, Amerika mengimpor anggrek pot sebanyak 7-juta tanaman setara US$1,4-juta, sedangkan Jepang 3,2-juta tanaman setara US$2,4-juta.

Nun di Rotterdam, Belanda, misalnya sebuah nurseri seluas 3 ha rutin mendatangkan jutaan bibit dendrobium dari Thailand. Di Belanda bibit-bibit itu dibesarkan dan dibungakan lalu dikirim untuk memasok pasar lelang yang melayani kebutuhan warga Eropa. Bibit dendrobium asal Thailand juga dikembangkan di sebuah nurseri modern di Cikampek, Jawa Barat.

Setapong Lekawatana, kepala bagian produksi dan promosi tanaman hias dan bunga dari Departement of Agriculture Extension, menuturkan pekebun anggrek Thailand sudah melakukan ekspor sejak 40 tahun silam. Kualitas menjadi kunci para pekebun anggrek di Thailand mampu bertahan hingga puluhan tahun. Thai Orchid Corporation (TOC), misalnya. Nurseri anggrek potong terbesar di Thailand itu menjaga kepercayaan konsumen selama 24 tahun dengan mengirim bunga berkualitas premium. Bila tidak konsumen akan mengembalikan barang dan TOC harus menerima denda serta menanggung biaya kirim. “Itu belum seberapa dibanding pemutusan kontrak kerja,” kata Jade Meyanyiem, direktur eksekutif.

Jade menuturkan semua pasokan anggrek mereka datangkan dari kebun sendiri seluas 244 ha. “Selain anggrek potong, kami juga mengekspor dalam bentuk rangkaian,” katanya. Negara pengimpor anggrek TOC adalah Jepang, Amerika Serikat, Cina, Korea, dan negara-negara Eropa. Setiap tahun, TOC mampu meraih omzet US$1,5-miliar setara Rp14,5-triliun dari penjualan kedua produk itu. Konsumen tidak pernah bosan pada anggrek Thailand karena para pekebun aktif melakukan penyilangan untuk mendapatkan varietas baru.

“Mereka membantu melahirkan anggrek-anggrek hibrida baru yang unik terutama dendrobium,” kata Setapong. Para pekebun lalu mendaftarkan anggrek hasil silangan itu ke Departemen Pertanian untuk mendapat hak perlindungan varietas. Data Office of Agricultural Economic pada 2008 menunjukkan Thailand memiliki 21 varietas dendrobium hibrida yang sudah teregistrasi dan 33 varietas masih dalam proses.

Kebun anggrek seluas 3 ha di Rotterdam, Belanda. Bibit didatangkan dari Thailand

Kebun anggrek seluas 3 ha di Rotterdam, Belanda. Bibit didatangkan dari Thailand

Promosi

Kerja keras pekebun memproduksi anggrek-anggrek terbaik juga didukung oleh beragam festival untuk mempromosikan komoditas itu. Sebut saja Sukhotai Orchid Festival, Nakorn Pathom Orchid Fair, Ratchaburi Orchid Competition, dan Surat Thani Orchid Competition. Para pekebun, penyilang, maupun pehobi pun terpacu untuk melahirkan anggrek terbaik. Pantas bila dunia mengenal Thailand sebagai negara pemasok anggrek tropis terbesar.

Laju pertumbuhan pertanian Thailand itu tak luput dari peran pemerintah. “Kami membantu menyalurkan informasi, mengawasi, dan mendukung semua sektor pertanian dari hulu hingga hilir,” kata Karnjanakesorn. Dengan dukungan itu, para pelaku pertanian pun berlomba menghasilkan jenis baru atau menciptakan inovasi baru. “Setiap ada jenis baru yang lahir atau inovasi tercipta, kami langsung memperkenalkan pada petani dan membantu bagaimana cara menerapkannya,” kata Karnjanakesorn.

Salah satu bentuk dukungan pemerintah antara lain menghadirkan pameran yang memperkenalkan kemajuan pertanian Thailand. Sebut saja perhelatan Asia Horti Fair 2013 pada 9—11 Mei 2013. Di ajang itu Thailand gencar memamerkan produk yang dimiliki dan membuka peluang bisnisnya dengan mengundang ekshibitor dan pengunjung dari mancanegara. Pemerintah Thailand juga terbuka pada pasar dunia. “Kami mendukung perdagangan bebas sebab memacu untuk selalu menghasilkan produk pertanian unggul dan berkualitas. Cina, Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa adalah pasar bagi kami,” ujar Karnjanakesorn.

Kemajuan pertanian Thailand juga diakui oleh oleh pelaku bisnis di tanahair. “Maju karena didukung faktor sumberdaya manusia dan birokrasi yang mudah,” kata Ricky Hadimulya, penangkar buah di Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Para pemain aglaonema tanahair misalnya pernah dikejutkan dengan cepatnya Thailand memproduksi massal pride of sumatera, sri rejeki silangan Gregori Garnadi Hambali.

Hanya dalam waktu 2 tahun bermodal indukan yang didapat dari Indonesia, para eksportir Thailand membanjiri pasar tanahair dengan pride of sumatera hasil perbanyakan mereka. Di sisi lain dukungan pemerintah membuat para pelaku bisnis hortikultura Thailand leluasa bergerak cepat. Pengalaman Ricky, di tanahair untuk memenuhi permintaan ekspor butuh waktu hingga sebulan untuk mengurus izinnya. Di Thailand cukup 2 hari.

 

Di kebun percobaan Chantaburi Horticultural Research Centre, batang utama durian dipangkas pendek untuk meningkatkan mutu buah

Di kebun percobaan Chantaburi Horticultural Research Centre, batang utama durian dipangkas pendek untuk meningkatkan mutu buah

Dominasi durian

Bila di sektor tanaman hias Thailand unggul dengan anggrek, di sektor buah durian menjadi andalan. Menurut Karnjanakesorn durian merupakan komoditas ekspor pertama Thailand. Negara utama tujuan ekspor durian Thailand adalah Cina. Jenis yang diekspor kanyao, chanee, dan monthong. Indonesia termasuk salah satu negara tujuan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2011, misalnya, Indonesia mengimpor durian Thailand sebanyak 26.260 ton setara US$37-juta atau Rp3,7-triliun. Pada 2013 pemerintah mulai mengerem impor itu.  Menurut Dr Lutfi Bansir, peneliti durian di Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, tujuannya untuk membangun dan mengembangkan hortikultura lokal sehingga menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Sayangnya pemerintah kurang serius membina petani agar mampu menghasilkan produk bermutu dan berkelanjutan,” katanya.

Buah durian yang diekspor Thailand berwarna hijau, bobot 2—4 kg, kematangan buah 70—80%, berbentuk bagus, serta bebas hama dan pernyakit. Umur penyimpanan untuk menjangkau pasar jauh mencapai 7—10 hari. Untuk memperpanjang umur simpan durian dimasukkan ke dalam cold storage bersuhu 15°C selama 12 jam sebelum dimasukkan ke dalam kontainer berpendingin.

Teknologi produksi dan pascapanen yang terus berkembang membuat negeri Siam sanggup memenuhi permintaan pasar ekspor, bahkan hingga ke Eropa sekalipun. Di kebun percobaan Chantaburi Horticultural Research Centre (CHRC), Trubus melihat berbagai inovasi berkebun durian.

Pekerja misalnya memotong batang utama durian hingga tersisa 5—7 m di atas permukaan tanah. Dengan perlakuan itu sosok pohon durian tetap pendek meski berumur puluhan tahun. Bandingkan dengan pohon durian di sentra-sentra tanahair  yang tumbuh menjulang. Dengan mempertahankan sosok pendek pekerja lebih mudah merawat dan memanen buah.

Di Indonesia, Erik Wiraga memotong batang utama durian lantas menyangga cabang primer dengan kawat baja yang disangga tinga untuk menghindari risiko pohon tumbang

Di Indonesia, Erik Wiraga memotong batang utama durian lantas menyangga cabang primer dengan kawat baja yang disangga tinga untuk menghindari risiko pohon tumbang

Cara serupa diterapkan oleh Erik Wiraga, pekebun di Subang, Jawa Barat. Erik memangkas pohon durian setinggi 3 m dan mempertahankan hanya cabang primer. Selanjutnya, ia mengulur kawat baja yang disangga tiang besi setinggi 3 m sebagai tempat ‘merambat’ cabang. Setiap satu pohon dikelilingi oleh empat tiang besi. Teknik itu dipakai untuk mengatasi risiko pohon tumbang karena daerah kebun cenderung berangin kencang.

Thailand juga produsen dan eksportir andal untuk lengkeng, mangga, manggis, dan pisang. Nun di Maejo, Chiang Mai, Trubus menyambangi kebun mangga milik Sompatwan Sitdhisung.  Sompatwan—akrab disapa Ning—mengelola kebun mangga milik sang ayah—Prapat Sitdhisung.

Kebun sejak 1973 itu mengembangkan namdokmai, chokanan, khio sawoei, chokanan, dan jenis lain. Total jenderal, terdapat 16.000 pohon dengan produksi 200 ton mangga per tahun. Hasil panen diseleksi menggunakan mesin sortasi otomatis, lalu dipasarkan ke pasar segar yang berdiri di setiap provinsi. Dari sana mangga dan buah-buahan lain dikirim ke konsumen lokal pun untuk melayani ekspor, salah satunya Indonesia. Data BPS menunjukkan pada 2011, Thailand menjadi negara eksportir mangga nomor satu ke Indonesia dengan angka ekspor mencapai 532-ton senilai US$399-ribu setara Rp3,9-miliar. Seminggu menjelajah Thailand banyak hal baru kembali didapat (Andari Titisari/Peliput: Rizki Fadhillah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software