Sehat Lobster

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 10/01/2021

Lobster laut boleh diekspor jika bobot minimal 200 gram per ekor.

Tahun 2020 sudah menghilang bersama lebih dari 42 juta benih lobster yang diekspor ke Vietnam, Hongkong, dan Taiwan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan mencatat nilai total ekspor dalam tempo 4 bulan (Juli—Oktober) lebih dari Rp1 triliun, tepatnya US$74,28 juta dengan kurs Rp14.000 per dolar. Itulah kenangan singkat yang membuat Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo.

Yang belum diuraikan adalah sebagus atau seramai apakah bisnis lobster di dalam negeri. Bagaimana berjuta-juta benih bisa diekspor, padahal sudah dilarang semasa Susi Pudjiastuti menjadi menteri (2014—2019) Memang ada Peraturan Menteri (Permen) KP Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah Indonesia.

Lobster Frittata

Eka budianta

Komoditas itu boleh diperdagangkan bila bobot sudah melebihi 200 gram atau minimal bila sang lobster sudah pernah bertelur sekali. Tetapi aturan itu direvisi oleh menteri penerusnya yaitu Edhy Prabowo dengan Permen KP Nomor 12 Tahun 2020. Alasannya ekspor benih lobster diizinkan untuk membantu belasan ribu nelayan kecil yang kehilangan mata pencarian akibat pelarangan itu.

Perizinan ekspor dibuka dan perusahaan pengiriman benih lobster pun dikembangkan. Nah! Ternyata setelah diikuti sekitar tiga bulan, sang menteri dinyatakan tersangka korupsi, 26 November 2020. Operasi tangkap tangan menyiratkan ada suap beberapa miliar rupiah sebagai bukti. Mungkin, pemberantasan korupsi bukan urusan agribisnis, tetapi aspek finansial yang besar menjadi penting dalam budidaya lobster sebagai produk akuakultur, pertanian kelautan.

Bukan hanya sarana teknis yang perlu modal gede, ongkos kargo lobster bisa mencapai Rp1.800 setiap ekor. Itu pun harus sepengetahuan menteri. Secara historis, transportasi memang membuat olahan lobster menjadi mahal. Meskipun mahal, lobster tetap boleh dinikmati rakyat jelata. Para pekerja lepas pantai bahkan bisa menikmatinya gratis bila menangkap sendiri lobster di saat gerimis.

Di kantin mahasiswa juga tersedia bakso rasa lobster dengan saus rendang, paling mahal Rp50.000. Namun, di restoran yang pantas normalnya berkisar antara Rp300.000 hingga Rp600.000 per satu porsi. Bisa lobster saus tiram, asam-manis, lada hitam, maupun goreng mentega biasa. Yang penting kita tahu harga standar lobster beku antara Rp200.000—Rp400.000.

Kalau masih hidup di akuarium, harga seekor lobster mutiara biasanya di atas Rp3 juta. Maklum, lobster paling nikmat bila dimasak segar, artinya direbus ketika masih hidup. Saya ingat ikut menikmati lobster di Hongkong untuk 12 orang dikenakan US$3.600 (hampir Rp50 juta!). Makan malam itu disponsori organisasi lomba pacuan kuda dari Jepang, meski jelas lobsternya diimpor dari Indonesia.

Apakah itu termasuk mahal? Ternyata tidak. Sekarang, kalau ingin menikmati lobster paling mahal cukup melihat daftar harganya di Instagram. Lobster Frittata di New England dibanderol US$2.000 satu porsi, sedangkan di New York cukup US$1.000. Mengapa kepiting, kerang, dan lobster disukai? Padahal untuk menikmatinya perlu gergaji dan pemecah cangkang segala. Filosofinya jelas dan mantap: makin bekerja keras kian nikmat hasilnya.

Makanan mewah

Semula lobster disebut kacoak laut, menjijikkan, hanya dikonsumsi orang miskin dan narapidana. Pada abad ke-17 jumlahnya berlimpah di pantai timur Amerika. Para buruh waktu itu menolak lobster sebagai makanan sehari-hari. Maklum, susah dinikmati karena bercangkang-cangkang. Perang saudara di Amerika pada 1860-an, mengubah lobster menjadi makanan yang praktis. Ternyata daging lobster dalam cangkang itu jadi bekal yang awet lama dan enak dinikmati.

Maka berkembanglah olahan lobster tepung rolade dan aneka lobster dalam kaleng. Selama 50 tahun berkembang, makin disukai mungkin karena cita rasanya konsisten. Puncaknya, pada awal 1900-an, kereta api mengangkut lobster dari Maine di pantai timur, untuk dinikmati di San Francisco di pantai barat. Setelah menyeberangi benua, maka jadilah lobster makanan yang mewah sampai sekarang.

Lobster penganan kaya gizi yang mengandung senyawa kolin dan vitamin B12.

Sayangnya, para lansia sering mendapat pesan agar mengurangi makanan berkolesterol tinggi, termasuk lobster, kepiting, dan umumnya hidangan laut. Padahal, lobster punya tujuh khasiat selain hanya satu bahaya gara-gara rendah lemak dan berprotein tinggi. Lobster memberikan protein yang menyediakan asam amino untuk menjaga kesehatan. Lobster juga mengandung fosfor dan kalsium yang menjaga kepadatan tulang.

Yang lebih penting, “Kombinasi kolin dan vitamin B12 yang terdapat dalam lobster merupakan nutrisi penting untuk menyehatkan otak.” Begitu diterangkan dalam “7 Manfaat Lobster Untuk Kesehatan”. Saya membacanya setelah ditraktir Shierly – cendekiawan lulusan Belanda, di restoran makanan laut awal Desember 2020 di Surabaya. “Karena tubuh manusia dirancang tidak bisa menghasilkan omega-3, setiap orang perlu mengonsumsinya lewat makanan seperti lobster dan hidangan laut lain.”

Tentu kita sudah tahu, lobster mengandung yodium dan selenium yang membantu tiroid agar berfungsi lebih baik. Selain itu juga bisa mengurangi risiko kanker prostat, seperti sering dibicarakan. Jadi, sesungguhnya lebih banyak manfaat daripada bahayanya. Maka, pertanyaan yang sejati adalah bagaimana memasak lobster secara sehat? Lebih penting lagi sudah optimalkah budidaya akuakultur di tanah air ini?

Sekarang bukan hanya lobster untuk konsumsi yang banyak dicari, tapi juga lobster hias. Akhirnya, kalau ditawari paket hemat budidaya lobster mulai dengan 4 indukan, sebaiknya dengan penuh semangat kita pertimbangkan. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software