Sayuran Organik: Berorganik di Tengah Kota

Filed in Sayuran by on 02/10/2013

Budidaya sayuran organik di lahan sempit perkotaan.

Dalam 66 hari, Diyah Rahmawati Wicaksana panen hingga 900 kg kailan dan memperoleh Rp9,9-juta. Hasil itu ia peroleh dari 22 guludan di lahan 583 m2 miliknya. Diyah membudidayakan sayuran secara organik. Setiap bedeng menghasilkan 10—15 kg kailan yang ia panen seminggu sekali selama 3 minggu. Artinya, total produksi dari 22 bedengan selama 66 hari 660—990 kg. Jika harga Rp13.000 per kg, omzetnya Rp9,9-juta—Rp12,87-juta.

Jangan bayangkan lahan Diyah di desa sentra produksi sayur-mayur, tetapi di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Dari pusat kota hanya perlu 15—20 menit untuk mencapai lahan Diyah. Alumnus Jurusan Ilmu Tanah Universitas Brawijaya itu bertani organik sejak 2007. Semula Diyah menanami pekarangan rumahnya seluas 6 m2. Ia membudidayakan berbagai jenis sayuran daun seperti kailan, pakcoy, bayam, caisim, dan kangkung dalam polibag berdiameter 17 cm.

Vigur Organik membudidayakan 10 sayuran daun seperti seledri

Vigur Organik membudidayakan 10 sayuran daun seperti seledri

Kelompok tani

Ternyata pertanian kecil-kecilan itu berhasil. Diyah panen sayuran dan terserap pasar. Itulah sebabnya ia lantas memperluas lahan. Di sisi rumahnya  terdapat lahan kosong berukuran 25 m x 70 m. Jenis sayuran yang ia tanam sama, bedanya ia menanam langsung di tanah. Sayang, petani di sekitar lahannya masih menggunakan pestisida kimia sehingga lahan Diyah yang menerapkan sistem organik menjadi “pelarian” serangga.

Efeknya Diyah gagal panen. Pengalaman itu tidak membuat Diyah patah arang. Ia dan Titik Widayati, rekannya, mengajak petani untuk mengubah cara budidaya menjadi organik. Mereka juga mengajak sesama warga kompleks perumahan agar memanfaatkan lahan untuk bertanam sayuran organik. Akhirnya pada 2010 terbentuk kelompok tani Vigur Organik yang beranggota 20 orang. Anggota kelompok terdiri dari warga perumahan dan petani di sekitar Desa Cemorokandang dengan luas lahan total 8.000 m2.

Pascapembentukan kelompok, langkah Diyah pun menjadi lebih ringan. Lahannya tidak lagi menjadi pelarian hama yang kabur dari lahan sekitarnya. Ia lantas fokus menanam kailan sejak 2011. Namun, ia hanya menanami sepertiga luas lahan miliknya. Sementara dua per tiga lahannya ia tanami tanaman kayu `seperti sengon dan jabon.

 “Luas penanaman ditentukan bersama sejak permulaan tanam sehingga jenis sayuran yang ditanam setiap orang bisa berbeda,” tutur Diyah. Begitu juga luas tanam antaranggota pun berlainan. Tujuannya mencegah harga jatuh akibat produksi berlebih. Manfaat lain kesinambungan pasokan pun terjaga. Dalam perkembangan selanjutnya, Vigur Organik hanya menanam 10 jenis sayur hijau antara lain sawi-sawian, bayam seledri, kacang merah, dan kangkung.

 Pasalnya, masa tanam jenis sayuran lain—umbi atau buah—lebih lama sehingga risiko pun lebih besar. Menurut I Ketut Kariada dan I Made Sukadana dari Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar, Bali, peluang budidaya sayuran daun seperti sawi-sawian besar karena permintaan tinggi, cocok di dataran rendah maupun tinggi, dan masa tanam singkat. Menurut ketua Vigur Organik, Titik Widayati, sistem budidaya sayuran organik distandarkan.

Contoh sebelum menanam, Diyah membuat 22 bedengan masing-masing berukuran 1,5 m x 10 m. Di setiap bedengan ia mencampur tanah dengan sekam bakar dan bokasi dengan perbandingan 1 : 1 : 1. “Itu teorinya, di lapang biasanya saya lebih banyak menggunakan perasaan,” kata Diyah. Jika merasa tanah kurang gembur, ia menambahkan bokasi, sementara di tanah berpasir Diyah menambahkan lebih banyak sekam sebagai penyimpan air.

Berikutnya Diyah membasahi bedengan dengan air, lalu mulai menanam benih. Penanaman benih bergantung jenis sayuran. Untuk menanam kangkung, ia melubangi tanah sedalam 1,5—2 cm, membenamkan biji, lalu menutup dengan tanah. Sementara untuk menanam bayam, ia langsung menabur biji di tanah. Jika menanam sawi-sawian, Diyah terlebih dahulu membibitkan di polibag berukuran 17 cm x 20 cm.

Diyah Rahmawati W SP membibitkan sayuran di halaman seluas 2,5 m x 2,5 m

Diyah Rahmawati W SP membibitkan sayuran di halaman seluas 2,5 m x 2,5 m

Akar serabut banyak

Diyah baru memindahkan bibit terdiri atas 3—4 daun, ke lahan. Setiap dua pekan Diyah menyemprotkan pupuk cair sejak seminggu pascatanam. Pupuk cair itu ia buat sendiri dari campuran 50 liter rumen sapi. Selang 28—35 hari pascatanam benih, ia panen sayuran setinggi 15—20 cm. Ia memanen dengan mencabut tanaman termasuk akar. Pasalnya akar menjadi salah satu bukti perlakuan organik. “Sayuran organik memiliki lebih banyak akar serabut ketimbang sayuran hasil budidaya konvensional,” kata Diyah.

Pemasaran hasil panen semua anggota kelompok dilakukan bersama. Dari luas lahan itu, Vigur Organik rutin menuai rata-rata 7—15 kg bayam, seledri, dan kangkung per minggu. Adapun harga jual per kg keempat komoditas itu berkisar Rp13.000—Rp24.000. Paling murah kangkung; paling mahal, seledri. Untuk menjaga kualitas produk, Vigur Organik menerapkan standar pengiriman ketat. Pasca pengemasan dan pelabelan, sayuran dikirim dengan mobil khusus.

Mereka memastikan kendaraan baik dan bahan bakar cukup sehingga tidak perlu berhenti untuk sekadar mengisi bensin atau memompa ban. Tujuannya mencegah kontaminasi dan kerusakan. Di gerai pun sayuran organik mesti dipajang di rak khusus agar tidak tercemar residu dari sayuran konvensional. Semua sistem dari hilir hingga hulu harus bebas bahan kimia buatan pabrik.

Pada November 2011, Diyah dan rekan-rekan memperoleh sertifikasi organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) dari lahan seluas total 8.000 m2 milik anggota kelompok. Wajar kalau pembeli sayuran organik itu antre. Perempuan kelahiran 28 tahun lalu itu kebanjiran permintaan restoran berkelas dan pasar modern di Malang dan Surabaya. Itu belum menyebut permintaan pembeli mancanegara yang mengantre di dunia maya, yang mencapai ratusan kilogram setiap pekan. (Lutfi Kurniawan)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software