Sayuran Hidroponik Pasar Kian Terbentang

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 08/04/2019

Pasar masih menanti pasokan sayuran hidroponik.

Peluang bisnis sayuran hidroponik masih besar. Pasar menunggu pasokan.

Lantip Kurniawan S.E, M.M., petani sayuran hidroponik sejak 2018 di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kebun hidroponik berupa rumah tanam atau green house seluas 528 m² menjadi sumber pendapatan tambahan Lantip Kurniawan S.E, M.M. Pegawai negeri sipil di salah satu kementerian itu memanen 20—30 kg selada hijau dan merah setiap hari serta menjualnya seharga Rp20.000 per kg. Dari harga jual itu Lantip mengutip laba Rp7.000 per kg sehingga rekeningnya bertambah Rp210.000 per hari atau Rp6,3 juta per bulan. Pelanggan selada hidroponik Lantip konsumen langsung dan pemasok.

Alasan pekebun hidroponik di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu menanam selada karena harga jual lebih tinggi daripada sayuran lain seperti bayam yang dibanderol Rp10.000 per kg. Dengan begitu laba yang didapat pun lebih besar. Konsumen menyukai selada produksi Lantip lantaran daya simpan relatif lama, tidak pahit, dan renyah. Lantip membudidayakan selada hijau dan selada merah di 228 guli trapesium masing-masing sepanjang 8,4 m (160 guli) dan 6 m (68 guli) di atas 20 meja tanam.

Permintaan tinggi

Meja tanam terbagi menjadi meja produksi dan meja remaja. Setiap meja produksi sepanjang 8,4 m berisi 10 guli trapesium dan setiap guli trapesium terdiri atas 42 tanaman. Adapun meja remaja sepanjang 6 m tempat sayuran muda tersusun dari 17 guli trapesium dan ada 80 tanaman di setiap guli trapesium. Total jenderal rumah tanam milik Lantip memiliki 11.000 lubang tanam. Ia mengandalkan teknik hidroponik nutrient film technique (NFT) karena penggunaan nutrisi efisien dan pertumbuhan tanaman lebih optimal.

Pasar swalayan menghendaki sayuran hidroponik berdaun utuh, mulus, dan bebas bercak hitam.

Lantip berhidroponik karena ingin memaksimalkan lahan dan menghasilkan sayuran berkualitas yang lebih cepat panen dibandingkan budidaya konvensional. Alasan lainnya, “Lahan pertanian makin sempit dan jumlah petani menurun. Sementara jumlah penduduk meningkat. Itu peluang untuk menyediakan makanan,” kata petani sayuran hidroponik sejak 2018 itu. Nun di Desa Tlajungudik, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Seno Widya Manggala S.T., mencurahkan seluruh waktunya berkebun sayuran hidroponik.

Keunggulan sayuran hidroponik antara lain berdaya simpan lebih lama dan kandungan gizi lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran konvensional.

Setelah lulus kuliah pada 2016 Seno merintis kebun hidroponik. Padahal latar belakang pendidikan Seno jauh dari dunia pertanian. Ia alumnus Departemen Teknik Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur. “Saya tertarik berhidroponik karena modalnya tinggi, tapi depresiasinya rendah. Selain itu harga sayuran hidroponik juga mahal,” kata pria berusia 25 tahun itu. Semula Seno berhidroponik di halaman rumah. Kini ia memiliki kebun 600 m2 yang memproduksi 2 ton bayam, kangkung, dan pakcoy setiap bulan.

Seno melego sayuran hidroponik minimal Rp15.000 per kg sehingga omzetnya Rp30 juta sebulan. Pelan tapi pasti bisnis sayuran hidroponik pemilik kebun Hyseed Farm itu berkembang. Kini Seno juga bermitra dengan 25 pekebun hidroponik dan memasarkan minimal 15 jenis sayuran seperti selada, bayam, kangkung, dan pakcoy. Bisa dibilang saat ini ia lebih fokus memasarkan sayuran hidroponik. Dari semua kebun mitra itu ia menyalurkan 5—8 ton sayuran hidroponik ke usaha katering, pasar bersih, restoran, dan toko swalayan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Sayangnya Seno enggan menyebutkan laba yang masuk ke kantongya. Yang pasti pasar swalayan menjual sayuran hidroponik milik Seno yang bermerek Kiosayur minimal Rp59.000 per kg.

Permintaan tinggi

Kafe dan restoran memerlukan selada segar sebagai bahan makanan seperti salad

Menurut Lantip, dengan kapasitas produksi saat ini, ia belum memenuhi permintaan pembeli. “Masih ada permintaan 10 kg selada per hari yang belum terpenuhi,” tuturnya. Oleh sebab itu ia juga berencana menambah kebun baru berisi 12.000 lubang tanam di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. “Ada permintaan 30 kg romaine per hari. Saya juga bakal menanam salanova,” kata pria berumur 35 tahun itu. Lantip serius berhidroponik meski hanya usaha sampingan.

Buktinya ia membangun green house seharga Rp300 juta di Sleman, Yogyakarta. Lantip menghitung biaya investasi kembali setelah 2 tahun berproduksi. Green house juga bakal dibangun di kebun baru di Pasuruan. Ia berani berinvestasi besar di hidroponik karena meyakini perkembangan bisnis sayuran hidroponik makin bagus di masa depan. Charlie Tjendapati juga kewalahan melayani permintaan sayuran hidroponik. Pemilik Serua Farm di Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, itu memproduksi 50—60 kg per 2 hari dari kebun sendiri dan mitra. “Kapasitas produksi itu baru memenuhi 50—60% permintaan rutin. Belum termasuk pembelian nonrutin,” kata pekebun hidroponik sejak 2013 itu. Hal serupa dirasakan Manajer Villa Biru Farm, Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Henry Soetrisno. Ia mesti menyetor 800 pak selada berbobot 250 gram per pekan ke salah satu pasar swalayan di Jakarta pada awal 2019. Padahal permintaan sebelumnya hanya 350 pak per pekan pada Oktober 2018.

Henry Soetrisno mengatakan Jabodetabek kekurangan pasokan sayuran hidroponik hingga 40% setara puluhan ton per hari.

Henry senang sekaligus sedih dengan kenaikan permintaan yang tiba-tiba itu. Senang karena produknya diminati pasar, tapi sedih juga karena baru bisa memasok 500—600 pak per pekan. Artinya “utang” Henry masih 200—300 pak per pekan. Meski begitu pekebun hidroponik sejak 2012 itu berupaya keras memenuhi permintaan itu. Ia dan tim membuat program penanaman 124 lubang tanam untuk satu jenis sayuran per hari. Henry menyebut 124 lubang tanam per hari itu 1 kamar.

Ia berencana membuat 30 kamar hingga April 2019. “Ketika kamar 30 selesai, maka kamar 1 dipanen. Dengan cara itu kami bisa memenuhi permintaan pelanggan,” kata pria kelahiran Jember, Jawa Timur, itu. Namun pekerjaan Henry belum selesai. Pasar swalayan bukan satu-satunya konsumen Villa Biru Farm. Kebun hidroponik yang dikelola Henry itu juga salah satu mitra Parung Farm. Saat ini permintaan sekitar 30 kg selada per pekan dari Parung Farm belum terpenuhi. Pengelola Parung Farm mendorong Henry dan tim menyelesaikan pesanan pasar swalayan.

Menurut anggota staf pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Endah Budi Irawati, S.P., M.P., pengalaman Lantip, Seno, Charlie, dan Henry menunjukkan perkembangan hidroponik pesat. “Riset seputar hidroponik juga sangat banyak dibandingkan 2014,” kata Endah. Ia juga kerap didapuk sebagai pemateri pada seminar hidroponik di instansi pemerintah dan komunitas sejak 2011.

Henry Soetrisno mengatakan Jabodetabek kekurangan pasokan sayuran hidroponik hingga 40% setara puluhan ton per hari.

Tantangan

Banyaknya permintaan sayuran hidroponik pun menuntut Bayu Widhi Nugroho menjalin kemitraan pada 2017. Saat ini pekebun hidroponik di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu memiliki 4 mitra yang memproduksi 12—20 kg selada saban hari. Sayangnya kapasitas produksi itu baru memenuhi 10% permintaan. Bayu menjual sayuran hidroponik ke restoran dan hotel. Selain permintaan yang belum terpenuhi, penjualan peralatan hidroponik pun laku keras.

Kapasitas produksi kebun hidroponik milik Charlie Tjendapati baru memenuhi 50—60% permintaan rutin.

Perusahaan produsen perlengkapan hidroponik milik Lantip, CV. Jalantara Tirtamarta Hidroponik, menjual 27.000 meter guli trapesium pada Agustus—Desember 2018. Itu termasuk penjualan 600 m guli trapesium ke Singapura pada Desember 2018 melalui seorang rekan. Jika jarak tanam pada meja produksi 20 cm, maka 27.000 m guli trapesium setara 135.000 lubang tanam. Pada Januari—Maret 2019 (pekan ketiga) perusahaan di Surabaya, Jawa Timur itu melego sekitar 6.000 m guli trapesium setara dengan 30.000 lubang tanam jika jarak tanam 20 cm.

Permintaan belum terpenuhi dan berkembangnya pasar hidroponik bukti cerahnya masa depan hidroponik. Henry menghitung Jabodetabek kekurangan pasokan sayuran hidroponik sekitar 40% setara puluhan ton per hari. Itu peluang besar untuk pehidroponik pemula membuka kebun. Charlie mengatakan hidroponik adalah pertanian masa depan. Alasannya penggunaan air pada teknik hidroponik efisien. Sementara penggunaan air di lahan konvensional sangat besar.

Hidroponik juga cocok untuk anak muda karena tidak ada praktik bertani konvensional seperti mencangkul, memupuk, dan menyiram. Produk hidroponik pun relatif lebih sehat karena tanpa penggunaan pestisida. Menurut Endah prospek hidroponik terus berkembang. Syaratnya, “Kita harus mendidik pasar karena tidak semua orang memahami sayuran hidroponik,” kata alumnus Program Studi Agronomi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Endah Budi Irawati, S.P., M.P. mengatakan peluang pasar hidroponik di masa depan sangat terbuka jika pasar sudah teredukasi.

Mengedukasi pasar salah satu tantangan berhidroponik. Konsumen yang belum teredukasi cenderung memilih produk yang lebih murah. Itu dialami Bayu yang menjual sayuran hidroponik sama dengan harga konvensional. Meski begitu ia masih mendapatkan laba. Buktinya bisnis sayuran hidroponik Sarjana Sains alumnus Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada itu berkembang. Pekebun hidroponik di Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Yusep Jalaludin, menuturkan idealnya pehidroponik pemula mengetahui pasar tujuan penjualan hasil panen.

Mereka juga mesti mengetahui komoditas yang diperlukan (Baca Sayuran Hidroponik Favorit halaman 82—83.). Dengan begitu mereka tidak pusing menjual hasil panen. Tantangan lain berhidroponik antara lain hama, penggunaan nutrisi, dan pemasaran (Baca Mengatasi Hambatan Hidroponik halaman 80—81.). Endah mengatakan yang paling utama pehidroponik pemula mesti menguasai ilmunya seperti cara meramu nutrisi. Itu bisa didapat dari buku, informasi daring, seminar, atau berkunjung ke pehidroponik senior. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software