Sayur Segar dari Halaman

Filed in Sayuran by on 30/11/2011

Sejak 4 tahun silam, Boedi senang menanam beragam tanaman pangan dan sayuran di pekarangan rumahnya. Namun, pekarangan berukuran 2 m x 10 m itu terasa sempit karena Boedi ingin menanam beragam jenis. Pemilik Vila Hutan Jati, kawasan kebun jati dengan sistem investasi, itu menyiasatinya dengan menanam dalam pot. Dengan menggunakan pot keramik dan plastik berdiameter 30 cm, Boedi bisa menanam sayuran hingga ke teras maupun balkon rumah di lantai 2 dan 3.

Dari pot-pot itulah Boedi dan istri setiap hari memanen sawi, oyong, terung, cabai, bahkan padi, jagung, singkong, dan kacang tanah. “Ibaratnya kalau ke pasar saya hanya membeli garam dan minyak goreng,” ujarnya. Menurut Boedi, jika setiap keluarga mau menanam tanaman pangan di pekarangan rumahnya, masyarakat dapat terhindar dari krisis pangan. “Ini contoh bahwa mewujudkan ketahanan pangan keluarga dengan menanam di pekarangan bukan hal sulit,” ujarnya.

Petani kota

Bercocok tanam ala Boedi itu belakangan memang sedang berkembang. Istilah kerennya urban agriculture (UA) alias pertanian kota. Para pelaku UA memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam, bahkan di pekarangan sempit sekalipun dengan memanfaatkan wadah berupa pot, bambu, maupun talang air yang disusun bertingkat.

Boedi menggunakan pot-pot cantik agar tampilan tanaman lebih rapi dan sedap dipandang. Toh, ia juga memanfaatkan limbah seperti kotak styrofoam bekas wadah es krim, ember plastik, hingga akuarium bekas, untuk tempat menanam. “Wadah apa saja dapat dipakai asal bisa menampung media tanam yang cukup untuk pertumbuhan tanaman,” tutur Boedi.

Penanaman pun bisa dilakukan dengan cara konvensional: menggunakan media tanah, maupun hidroponik. Penanaman secara hidroponik bisa ditempatkan di dapur atau ruang keluarga karena bersih, bebas media tanah. Jenis tanaman yang dibudidayakan pun beragam. Tanaman sayuran daun seperti sawi, kangkung, dan selada yang berakar pendek dan berumur singkat misalnya, bisa ditanam di pot kecil atau talang bertingkat. Sementara di pot lebih besar ditanami cabai, tomat, hingga padi dan jagung seperti di kediaman Boedi.

Nun di Bandung, Jawa Barat, Soeparwan Soeleman menanam beragam jenis sayuran eksotis seperti mizuna, green dan red mustard, mint, serta rosemary. Ia menanam dalam pot tunggal untuk tiap tanaman, atau kombinasi beragam sayuran dan tanaman herbal dalam satu wadah.

Sebelum menanam pemilik kebun organik itu terlebih dulu menyemai benih dalam baki plastik. Bibit umur 1 minggu kemudian dipindahkan ke wadah-wadah kecil, misalnya gelas air mineral, hingga akar bibit itu cukup kuat. Setelah 10-14 hari dalam gelas plastik, sayuran dipindahkan ke pot lebih besar atau dimasukkan dalam keranjang-keranjang bambu mungil dan dijual sebagai suvenir.

Menurut Dr Ir Mubiar Purwasasmita, anggota staf pengajar Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung, pemanfaatan pekarangan untuk bertanam sayuran selain mempunyai nilai ekonomis juga bisa bernilai rekreatif sebagai pelepas lelah. Pantas, kegiatan UA makin berkembang di masyarakat.

Praktis

Sebagian besar benih sayuran dan tanaman pangan yang ditanam petani kota itu dengan mudah ditemukan di kios-kios pertanian. Bermodal benih awal itu Boedi lalu mencoba membuat benih sendiri. Alumnus Institut Sains dan Teknologi itu misalnya mengambil buah cabai matang untuk diambil bijinya sebagai sumber benih. Produktivitas tanaman asal benih F2 itu kadang lebih rendah dibanding benih yang dijual di pasaran. “Tapi tidak masalah karena untuk dikonsumsi sendiri,” kata Boedi.

Benih dan bibit sayuran itu ia tanam di atas media tanah dan kompos, komposisi 1:1. Kompos terdiri dari campuran kotoran ayam atau sapi dan hijauan, komposisi 1:1. Boedi juga menambahkan 3-4% kapur untuk mengurangi keasaman media. Sementara Soeparwan menggunakan campuran sekam bakar, kascing (minimal 25%), dan cocopeat (5-10%). Hobiis yang ingin praktis bisa saja membeli paket berisi benih beserta media siap pakai seperti produksi salah satu perusahaan benih di tanahair.

Produsen itu menawarkan paket siap pakai berupa kaleng berdiameter sekitar 10 cm. Isi tiap kaleng meliputi media tanam, benih, dan pupuk. Hobiis tinggal menaburkan benih di atas media dalam kaleng lalu menaburkan pupuk setelah tanaman berumur 2 minggu. Pilihan jenis sayuran yang ditawarkan beragam seperti selada, bayam merah, dan caisim.

Sebagai tambahan nutrisi, seminggu sekali Boedi menyiramkan cairan pupuk hayati ke akar dan menyemprot ke daun. Hasilnya, tanaman lebih segar dan sayuran buah rajin berproduksi. Tanaman terung berumur 1,5 bulan misalnya, menghasilkan hingga 6 buah. Sementara cabai yang berumur 8 bulan masih dipenuhi buah.

Supaya umur panen Capsicum annuum panjang, setelah berumur 6 bulan tanaman cabai dipruning. Cabang-cabang bekas pruning nantinya memunculkan tunas-tunas baru yang kemudian berbunga dan berbuah. Kalau sudah begitu berkebun di pot sungguh mengasyikkan. (Tri Susanti/ Peliput: Pranawita Karina)

 

  1. Hidroponik bisa ditempatkan di halaman atau teras rumah, bahkan di dapur atau ruang keluarga.
  2. Kebun mini menjadi andalan Boedi dan keluarga untuk mendapatkan beragam sayuran segar
  3. Bertanam mentimun tak mesti di lahan luas

 

Berkebun di Teras

  1. Gunakan wadah pot maupun barang bekas seperti ember dan styrofoam. Wadah styrofoam mampu menahan air sehingga dapat ditinggal bepergian tanpa disiram hingga 3 hari
  2. Gunakan media campuran tanah dan kompos dengan komposisi 1:1. Boedi juga menambahkan koran yang direndam semalaman ke dalam media sebanyak 2 lembar tiap pot. Fungsinya untuk menyerap air ketika media disiram
  3. Semai benih sayuran di media campuran tanah dan kompos selama 1-2 minggu sebelum dipindah ke pot. Jika menggunakan wadah berukuran besar, benih sayuran bisa langsung ditebar.
  4. Seminggu sekali pupuk menggunakan pupuk hayati yang diencerkan dengan air perbandingan 1:5 dengan cara disemprotkan ke daun dan disiram ke akar
  5. Sayuran buah rajin berproduksi

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software