Sayangi Satpam Tubuh Anda

Filed in Fokus by on 04/06/2010 0 Comments

Di musim peralihan cuaca kerap berubah tiba-tiba. Contohnya cerah di pagi dan siang hari, lalu hujan di sore hari. Perubahan cuaca – diiringi temperatur – secara mendadak itu sangat mempengaruhi tubuh. ‘Tubuh berusaha keras menyesuaikan dengan suhu sekitar,’ kata Ipak. Untuk beradaptasi, tubuh butuh energi lebih. Itulah yang menyebabkan sistem imun dalam tubuh berkurang. Akibatnya kekebalan tubuh tak bisa menahan serangan beragam virus atau bakteri patogen.

Sejatinya organisme mikroskopis itu datang tak kenal musim. Namun, pada cuaca normal sistem imun bekerja dengan baik sehingga tubuh mampu menghalau gempuran patogen. ‘Artinya munculnya penyakit saat pancaroba bukan karena virus atau bakteri berkembang pesat, tapi karena kekebalan tubuh berkurang,’ tambah Ipak, dokter dari Herbal Insani.

Cepat saji

Menurut dr Haryman di Tangerang, kekebalan tubuh juga gampang drop karena stres, pola makan yang salah, dan lingkungan terpolusi. ‘Stres antara lain dipicu oleh pikiran negatif,’ kata dr Dwi Ristiati dari poliklinik Departemen Pendidikan Nasional. Tingkat stres tinggi menyebabkan hormon-hormon tertentu meningkat. Sebut saja adrenalin dan kortisol. Kedua hormon itu mengakibatkan jantung bekerja lebih cepat, tekanan darah tinggi, dan metabolisme tubuh meningkat. ‘Artinya kerja di dalam tubuh kita menjadi kacau sehingga sistem imun juga tidak berjalan normal,’ ujar dr Haryman, alumnus Universitas Trisakti itu.

Prof Dr dr Karnen Garna Baratawidjaja menjelaskan dalam buku Imunologi Dasar – yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – hormon kortisol diduga kuat sebagai biang keladi perusak sistem imun. Struktur kimia hormon itu mirip kortikosteroid, obat yang punya efek menekan sistem imun.

Menurut Dwi, dokter dari PT Supplemax Pharma Utama, makanan juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Contohnya makanan instan yang mengandung zat pengawet, zat pewarna, dan MSG, serta makanan cepat saji. Jadi, ‘Cukup makan saja tidak menjamin seseorang memiliki kekebalan tubuh baik jika makanan yang dimakan gizinya tak lengkap dan seimbang,’ kata Haryman. Lengkap berarti makanan mengandung nutrisi makro – seperti karbohidrat, lemak, dan protein – serta nutrisi mikro – seperti vitamin, mineral, asam amino, dan serat. Seimbang artinya semua komponen itu dalam takaran yang tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit.

Berikutnya yang mempengaruhi sistem imun adalah lingkungan yang terpolusi. Banyaknya serangan radikal bebas dari lingkungan sekitar membuat tubuh tidak mampu mempertahankan diri. Haryman mencontohkan pekerja yang sering terpapar bahan kimia seperti di pabrik cat dan  garmen. ‘Mereka lebih rentan terkena penyakit saluran pernapasan lantaran daya tahan tubuh lemah,’ ungkap Haryman.

Peronda

Sistem imun tak hanya berfungsi sebagai ‘satpam’ yang menjaga tubuh dari segala gangguan penyakit. Ia juga berperan menjaga keseimbangan komponen tubuh. Umur sel tubuh ada batasnya sehingga akan mati dalam waktu tertentu. Sel mati itu kemudian dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuh. Jika sistem imun terganggu, antibodi melihat sel tubuh sebagai benda asing sehingga serangan ditujukan pada tubuh sendiri.

Fungsi kekebalan lainnya adalah peronda. Sebagian sel imun memiliki kemampuan meronda ke seluruh bagian tubuh. Jika bertemu sel yang berubah sifat menjadi sel ganas dan berpotensi menjadi kanker, sel peronda membinasakan. Terjangkitnya kanker disebabkan sel imun yang bertugas sebagai peronda terganggu. Tidak ada yang melawan sekaligus mengalahkan sel tubuh yang mengalami mutasi menjadi sel ganas. Menurut Haryman untuk menjaga kekebalan tubuh selalu dalam kondisi optimal, sebaiknya hindari faktor penekan sistem imun seperti di atas.

Dongkrak kekebalan

Namun, sistem imun yang lemah dapat didongkrak dengan senyawa yang berperan sebagai imunomodulator. Maksudnya, senyawa itu mampu meningkatkan kekebalan tubuh di saat drop, tapi sebaliknya menstabilkan di saat sistem imun berlebih. Berbagai jenis obat berperan meningkatkan kekebalan seperti siklosprin dan azathiopin. Namun, tren kembali ke alam membuat konsumen mencari obat berbahan alami ketimbang kimia. ‘Banyak bahan alami yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Contohnya jintan hitam, mahkotadewa, sambiloto, jahe, mengkudu, dan meniran,’ ujar Mahendra, herbalis di Klinik Herbal Insani, Depok, Jawa Barat. (baca: Herbal Penjaga Pertahanan Tubuh, Tubus Juni 2010)

Hanya saja penggunaan imunomodulator juga mesti bijaksana. Menurut dr Arijanto Jonosewojo SpPD konsumsi imunomodulator secara berlebihan dapat menimbulkan beragam penyakit. Misalnya terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C menyebabkan terbentuknya batu ginjal. Selain itu, imunomudulator ditabukan bagi penderita alergi. ‘Itu karena penderita alergi hipersensitif. Pemberian imunomodulator membuat kerja kekebalan tubuh berlebihan,’ kata dokter spesialis penyakit dalam RS Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur itu.

Dr Noor Wijayahadi, MKes PhD, menjelaskan bahwa imunomodulator meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memproduksi jumlah sel limfosit sel T dan sel B. Sel T berfungsi melawan kanker dan sel B berguna menghadang infeksi. ‘Imunomodulator juga meningkatkan sekresi sitokin sekaligus merangsang sel T berkembang,’ ujar farmakolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, itu. Dengan begitu tubuh pun memiliki sistem imun yang baik sehingga mampu melawan virus atau bakteri meski saat pancaroba. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Nesia Artdiyasa dan Suci Rahmahsari)

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software