Satu Mulsa Tiga Kali Pakai

Filed in Inspirasi, Majalah by on 17/10/2019

Penanaman beragam sayuran seperti tumpang sari tomat-bawang memerlukan mulsa untuk mencegah gulma.

 

Petani dapat menggunakannya hingga tiga kali penanaman.

Sumber nafkah Usep Sabari lahan 2 hektare di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di lahan berketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut itu, Usep Sabari menanam kentang, wortel, tomat, cabai, sawi, dan kubis. Petani sejak 2010 itu menanamnya dalam tiga periode dalam setahun. Periode pertama pada Januari—Maret ia menanam tomat Solanum lycopersicum dan sawi Brassica juncea.

Petani hortikultura di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Usep Sabari.

Pada periode ke-2 Usep pun menanam komoditas yang sama. “Tomat perlu mulsa lantaran cenderung banyak gulma. Berbeda dengan wortel saya tidak pakai mulsa karena gulma jarang tumbuh. Benih wortel ditebar di bedengan sehingga jarak tanamnya relatif rapat. Dengan demikian lebih sedikit ruang tumbuh untuk gulma,” kata laki-laki berusia 40 tahun itu.

Perak di atas

Usep memang menanam sayuran secara tumpang sari. Sawi di bagian tepi bedeng, sedangkan tomat pada bagian tengah. Jarak tanam sawi sekitar 40 cm. Di lahan 300 tumbak setara 4.200 m2 Usep memerlukan 4.500 lubang tanam tomat dan sekitar 9.000 lubang tanam sawi. Jarak itu tergolong renggang sehingga memungkinkan gulma tumbuh subur.

Ia harus menyiangi gulma setidaknya tiga kali dalam satu periode tanam, yakni empat bulan. Namun, sejak menggunakan mulsa, ia hanya menyiangi sekali. Itu pun dilakukan setelah panen sawi. Pemasangan mulsa lazimnya pada pukul 08.00—12.00. Menurut Usep terik sinar matahari membantu perenggangan mulsa sehingga lebih mudah menyesuaikan alur bedengan.

Menurut Managing Director PT Plastin Eka Prakarsa, Mark Setiawan, mulsa produksinya bisa dipasang kapan saja pagi atau siang. Pemasangan mulsa tidak perlu menunggu terik matahari. Hal itu lantaran formulasi bahan mulsa bermerek Million membuatnya elastis dan kuat.

Mark mengatakan, mulsa sepanjang 90 cm bisa memanjang hingga 100 cm. Idealnya lapisan perak mulsa harus dipasang di bagian atas sedangkan hitam di bagian bawah. “Lapisan perak memantulkan sinar matahari ke sela-sela daun yang tidak terkena pancaran matahari langsung. Bagian hitam untuk menjaga kelembapan tanah,” kata Mark.

Warna hitam cenderung hangat sehingga dapat menjaga suhu, kelembapan, dan kadar air tanah. Itu sesuai dengan hasil riset Dwi Setyorini dari Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Provinsi Jawa Timur. Setyorini membuktikan pengaruh warna mulsa plastik terhadap kualitas buah tomat. Bersama dengan tim riset dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Setyorini menanam tomat dengan tiga warna mulsa plastik, yakni merah, biru, dan perak-hitam.

Hasilnya tomat dengan mulsa perak-hitam menghasilkan buah per tanaman lebih banyak daripada warna lain. Selain itu nilai kematangan buah juga lebih tinggi dibandingkan dengan mulsa merah atau biru. Cahaya pantulan mulsa perak-hitam menyebabkan ukuran buah lebih besar. Kadar lengas tanah yang tinggi juga mampu memperbesar diameter buah. Riset itu juga membuktikan, mulsa plastik merah mengurangi persentase buah rusak. Sayangnya warna itu dapat menurunkan kematangan buah. Adapun mulsa biru mampu meningkatkan kekerasan buah.

Kapan saja

Kapan sebaiknya melubangi mulsa plastik? Mark mengatakan, petani dapat melubangi mulsa sebelum atau setelah pemasangan di bedeng. Pelubangan sebelum pemasangan menghemat waktu pengerjaan. Petani dapat melubangi beberapa lapis mulsa sekaligus dengan cara menumpuknya. Dua atau lebih mulsa pun berlubang sesuai ukuran yang dikehendaki.

Pemasangan mulsa warna perak di bagian atas.

Sayangnya cara itu memiliki kelemahan. Ketika pemasangan mulsa di bedeng, elastisitasnya berkurang sehingga tidak dapat ditarik mengikuti kontur bedeng. Jika pelubangan setelah pemasangan, petani dapat menarik mulsa sesuai kontur tanah. Mark mengatakan, petani dapat menggunakan mulsa beberapa kali agar hemat. Usep menggunakan mulsa untuk dua periode tanam.

Mark membenarkan petani bisa memakai mulsa 2―3 kali periode tanam bergantung pada perlakuan petani dan kondisi tanah. Sebaiknya mulsa dibiarkan terpasang di lahan setelah periode pertama selesai. Pembongkaran malah merusak mulsa sehingga tidak dapat digunakan untuk periode berikutnya. Ia menganjurkan petani merevitalisasi kesuburan tanah sebelum tanam selanjutnya.

Adanya lapisan antiultraviolet pada mulsa dapat melindungi dari paparan sinar matahari sehingga lebih awet. Namun, lapisan itu bisa hilang jika terkena semprotan pestisida. Mark mencegahnya dengan memberikan formula khusus sehingga lapisan itu tidak pudar alias awet. Mulsa cepat hancur salah satu tanda memudarnya lapisan antiultraviolet.

Satu periode berkisar 3—4 bulan bergantung komoditas yang ditanam. Setelah periode pertama beres, Usep menyiangi gulma yang tumbuh di lubang tanam bekas tomat dan sawi, dan memupuk kembali tanpa membongkar mulsa. Pemupukan itu meliputi pemberian pupuk kandang, kapur pertanian, dan pupuk cair yang mengandung mikroorganisme secara bergantian dengan menggali lubang tanam.

Metode Usep kerap disebut bokashi, pembuatan pupuk kompos dengan bakteri pemacu baik aerob maupun anaerob. Usep memberikan 25 gram pupuk kandang, 10 gram kapur pertanian, dan 1 ml bokashi per lubang tanam. Usep memerlukan 1 ton pupuk kandang, 150 kg kapur pertanian, dan 15 liter pupuk cair. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software