Satu Mulsa Banyak Faedah

Filed in Inspirasi, Majalah by on 06/01/2021

Kepadatan tebar sebaiknya tak lebih dari 100 ekor/m2.

Penggunaan plastik tambak memangkas proses persiapan lahan dan meningkatkan kualitas air. Uadang lebih cepat tumbuh.

Enam tambak berlapis plastik high density polyethylene (HDPE) itu masing-masing berukuran 3.500—4.000 m². Manajer tambak udang vannamei di Kabupaten Lampung Selatan, Diar Setiawan, mengatakan, “HDPE bisa awet sampai 5 tahun walau harganya lebih mahal.” Tambak itu masih proses persiapan. Tak kurang dari sepekan, ia akan menebar benur berukuran stadia pascalarva (PL) 9 atau 10.

Kepadatan tebar tambak dengan geomembran alias HDPE bisa lebih tinggi daripada tambak dengan dasar tanah. “Tambak HDPE kepadatan tebar tinggi 200—300 ekor per meter persegi,” kata Diar. Bila menggunakan plastik mulsa—lebih tipis dari geomembran—ia hanya menebar 100—150 ekor per m2. Lain halnya dengan tambak tanah kemungkinan lebih rendah lagi.

Pangkas proses

Diar menghitung dengan kepadatan tebar 150—200 ekor per m² produktivitas mencapai 20 ton per hektare. Ia mengamati pertumbuhan vannamei memang lebih cepat di tambak HDPE. Meski demikian, ia mengatakan sebetulnya kecepatan tumbuh dipengaruhi oleh kepadatan tebar dan kualitas air.

Vannamei cepat tumbuh asal kepadatan tebar tepat dan kualitas air baik.

PT Hidup Baru Plasindo memproduksi beragam plastik tambak. Marketing PT Hidup Baru Plasindo, Adi Wijaya, mengatakan, bahan plastik berasal dari bijih plastik murni. Ada dua jenis mulsa tambak berbahan LDPE dan plastik geomembran berbahan HDPE dan LDPE.

Keunggulannya dengan bahan murni jelas lebih elastis dan lebih kuat. Kalau ada bagian yang sobek mudah ditambal. Durasi pemakaian bergantung ketebalan. Plastik dengan ketebalan 200 mikron bisa digunakan hingga 1—2 tahun. Ada juga petambak memakai sampai 5 tahun. Itu sangat bergantung perawatan tiap petambak.

Pada budidaya vannamei Litopenaeus vannamei konvensional, kondisi tanah sangat menentukan tingkat kehidupan benur. Tahap awal yang krusial yakni persiapan tanah. Menurut dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si., persiapan lahan adalah kunci budidaya vannamei. “Persiapan lahan kurang optimal maka dipastikan akan ada masalah di tengah masa pemeliharaan,” kata Sinung.

Persiapan lahan antara lain pengeringan, pengapuran, pembalikan tanah. Bila kondisinya tak siap menerima limbah budidaya, tanah tidak akan mampu menguraikannya dengan optimal. Pemasangan plastik pada dasar tambak itu dapat memangkas persiapan tanah. Plastik sebagai penghalang kontak air tambak dan tanah. Dengan begitu, petambak hanya perlu menyiapkan media tumbuh.

“Tanpa plastik, kita harus menyiapkan tanah. Dengan adanya plastik sehingga tidak ada kontak tanah dan air, kita hanya perlu mengolah air,” kata Sinung. Sisa pakan dan metabolisme dapat disifon. Sementara itu, kotoran pada tambak tanah tidak bisa disifon begitu saja. Budidaya udang pun menjadi lebih efektif dengan plastik.

Sinung merekomendasikan kepadatan tebar tak lebih dari 100 ekor per meter persegi bagi pemula. “Lebih mudah mengendalikan tambak dengan kepadatan di bawah 100 ekor per meter. Tebar 80—90 ekor per m2 sudah cukup,” kata Sinung. Begitu kepadatan tebar dinaikkan, sudah tentu biaya produksi turut naik serta risiko lebih besar. Harus ada pengelolaan yang lebih cermat bila kepadatan tinggi.

Cepat tumbuh

Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si., dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan.

Peneliti dari Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan, Universitas Pekalongan, Miftah Ulumuddin dan tim, meriset penggunaan plastik LDPE sebagai pelapis dasar tambak udang vannamei. Ia membandingkan pertumbuhan vannamei pada tambak dengan dasar LDPE dan tanah. Secara umum whiteleg shrimp atau udang kaki putih pada kolam LDPE memiliki pertumbuhan lebih cepat, sintasan tinggi, dan konversi pakan rendah.

Pertumbuhan pada tambak LDPE 11:9,9 dengan tambak tanah. Sintasan atau survival rate (SR) dan konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) tambak LDPE lebih tinggi. Miftah menduga itu lantaran kualitas air pada tambak LDPE lebih stabil sedangkan tambak tanah mengalami penurunan mutu tanah dasar. Itu yang menyebabkan kualitas air menurun dan turut berdampak pada pertumbuhan satwa famili Penaeidaei itu.

Miftah mengamati air tambak LDPE berwarna transparan dan secara bertahap berubah hijau muda lalu hijau pekat. Sementara itu, air tambak tanah mulanya transparan dan segera berubah hijau muda lalu cokelat pekat.

Warna air tambak erat berkaitan dengan populasi fitoplankton. Air yang pekat menandakan tingginya populasi fitoplankton. Fitoplankton tumbuh subur pada tambah dengan dasar tanah. Harap mafhum bila air tambak tanah lebih cepat keruh daripada tambak LDPE. Hal itu karena tambak tanah mengandung bahan organik lebih tinggi. Tingginya biaya awal tambak HDPE nyatanya sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software