Satu Buah Tiga Rasa

Filed in Uncategorised by on 02/07/2012 0 Comments

Kulit pupuan saat matang terasa empuk bila ditekanBuah pupuan yang langka itu memang kaya rasa.

Di Pasar Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Timur, pedagang itu menghamparkan begitu saja buah pupuan seukuran bola takraw. Rambut lembut membungkus buah yang Trubus cari hingga ke pedalaman Kalimantan itu. Sayang, ketika itu empat tahun lalu buah masih mentah. Pedagang menjajakan pupuan muda untuk bahan sayur. Dalam kondisi mentah sosok pupuan kurang menarik, daging buah pucat berselimut getah putih. Kulit buah pun keras.

Coba kalau sudah matang, sosok pupuan alias mentawak sungguh menarik. Pada kesempatan lain, Trubus pernah menemukan pupuan matang di Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kulit buah empuk. Saking lembutnya, “Seperti menekan kain beludru,” kata Sodik SP, pegawai di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH), Provinsi Kalimantan Selatan, yang mengirimkan buah itu untuk Trubus.

Gen pewarna

Untuk mengupas pupuan Artocarpus lanceifolius, cukup sayat kulit buah dari tangkai ke bawah, lalu melingkar kembali ke atas. Mirip teknik mengupas cempedak yang masih sekerabat dengan pupuan. Begitu terbuka, tampaklah bulatan daging buah berwarna jingga. Saat daging buah menempel di lidah, seorang pencicip mengatakan rasanya mirip durian lai. Yang lain menyebut rasa pupuan seperti sirsak dan srikaya.

“Rasanya enak. Jauh lebih enak daripada tarap yang hanya manis,” kata Hasan Zainudin, salah seorang pencicip. Buah kulidang-nama lain pupuan-itu manis dengan sensasi 3 rasa: durian lay, sirsak, dan srikaya. Itulah komentar yang muncul saat Trubus menyodorkan daging buah pupuan kepada para pengunjung sebuah rumah makan di Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Mereka terheran-heran melihat buah bulat berdaging buah jingga.

Sumber plasma nuftah yang dapat memberi warna jingga pada nangka atau cempedakSodik SP, memburu pupuan dari Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan“Saya baru lihat dan mencicip sekarang. Biasanya buah seperti sukun yang berbiji disebut tarap, tapi daging buahnya putih,” kata Khairul Saleh, pria tertua berumur 70 tahun asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Menurut Hasan di tanah nenek moyangnya di Paringin, Balangan, pupuan sudah mulai langka. Panen raya pupuan hanya 5 tahun sekali. Sayang, meski langka harganya hanya Rp10.000 per 10 buah. Sementara di Ampah, Murungraya, Kalimantan Tengah, lebih mahal Rp5.000-Rp10.000 per buah tergantung ukuran.

Menurut Dr Achmadi, mantan kepala Balai Penelitian Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, pupuan disebut juga tarap merah. “Sepintas semua morfologi tanaman serupa. Yang membedakan hanya daging buahnya saja,” katanya. Daging buah tarap Artocarpus odoratissimus berwarna putih. Aroma tarap sangat menyengat dan membuat pusing. Masyarakat Jawa Barat menyebut teureup. Pemburu memanfaatkan getahnya yang sangat lengket untuk menjerat burung.

Achmadi pernah menemukan pupuan di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, 5 tahun silam. Di sana pupuan disebut kopuan. “Ini sumber genetik yang harus diselamatkan. Gen kopuan bisa menjadi pewarna pada buah nangka Artocarpus heterophyllus atau cempedak Artocarpus integer,” tuturnya. Kopuan dapat disilangkan dengan kedua buah itu untuk menghasilkan nangka dan cempedak jingga yang menarik.

Kaya artocarpus

Nyamplung buah menempel di tangkai buah mirip cempedakMenurut Kepala Kebun Percobaan Balandean, Kalimantan Selatan, Mawardi SP MSc, pupuan bukan satu-satunya kerabat nangka yang eksotis di Pulau Kalimantan. Di Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, terdapat buah peluntan. Kulit buahnya unik karena di beberapa titik sebagian duri kulit memanjang mirip rambut. Namun, sebagian besar tetap pendek sehingga terkesan botak. Daging buah putih mirip tarap. “Daging buah manis, tapi tipis. Ia lebih banyak dipetik muda untuk disayur,” kata Mawardi.

Pedagang buah  mentawak di Parindu, Kabupaten SanggauSayang, nama peluntan tidak tercatat sama sekali di literatur-literatur klasik tanaman Nusantara. “Itu nama lokal yang kurang populer karena penyebarannya terbatas,” kata Greg Hambali, pakar buah di Bogor, Jawa Barat. Menurut Greg, di antara genus Artocarpus hanya nangka dan cempedak yang penyebarannya paling luas. Maklum, 2 buah yang disebut terakhir produksinya paling tinggi dan bagian buah yang dapat dimakan paling banyak. Ia juga paling tahan simpan 2-4 pekan.

Sayang, kini pupuan dan peluntan kian menghilang karena banyak ditebang. “Yang di hutan ditebang untuk diambil kayunya, sementara yang di pekarangan ditebang karena berbatang tinggi. Bila dibiarkan khawatir roboh menimpa rumah,” katanya. Toh, menurut Mawardi, sebagai buah eksotis pupuan dan peluntan layak dilestarikan agar “si buah 3 rasa” dan “si botak” tak lenyap dari Bumi Borneo. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Keterangan Foto :

  1. Kulit pupuan saat matang terasa empuk bila ditekan
  2. Sumber plasma nuftah yang dapat memberi warna jingga pada nangka atau cempedak
  3. Sodik SP, memburu pupuan dari Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan
  4. Nyamplung buah menempel di tangkai buah mirip cempedak
  5. Pedagang buah  mentawak di Parindu, Kabupaten Sanggau
 

Powered by WishList Member - Membership Software