Sari Nurmayani, S.Pd. : Nilai Tambah Bahan Alami

Filed in Majalah, Muda by on 16/05/2019

Salah satu laboratorium produksi Griin.id yang memproduksi teh dan hidrosol, dipenuhi murid-murid magang.

 

Harga jual olahan komoditas pertanian melonjak signifikan di tangan Sari Nurmayani, S.Pd.

Sari Nurmayani, S.Pd mendirikan Griin.id pada tahun 2017.

Di tingkat petani harga rimpang kunyit hanya Rp10.000 per kg. Di tangan Sari Nurmayani rimpang anggota famili Zingiberaceae itu melonjak drastis, Rp250.000 per kg. Sari Nurmayani bukan tengkulak yang menaikkan harga beli. Perempuan muda kelahiran 26 Agustus 1995 itu mengolah rimpang kunyit Curcuma longa dan komoditas pertanian lainnya menjadi olesoresin dan hidrosol.

Olesoresin adalah ekstrak berupa campuran minyak esensial dan resin. Adapun hidrosol adalah cairan berisi zat-zat aktif. Pantas harga jual olesoresin kunyit melonjak hingga Rp250.000 per kg. Tingginya harga merupakan dampak sulitnya mendapatkan oleoresin dari ekstrak bahan baku yang digunakan. Bayangkan saja, Sari memerlukan 1 kg bahan baku berupa rimpang kunyit hanya untuk memanen 5 ml oleoresin.

Permintaan besar

Menurut Sari jika komoditas berbeda, maka rendemen pun berlainan. Perempuan kelahiran Bandung 23 tahun lalu itu memperoleh bahan baku dari para petani mitra yang tersebar di tujuh lokasi di Provinsi Jawa Barat. Alumnus Pendidikan Tenologi Industri Universitas Pendidikan Indonesia itu mengolah berbagai hasil pertanian sejak 2016.Ia mengolah lebih dari 20 komoditas menjadi oleoresin dan hidrosol.

Contoh olahan oleoresin yang dipasarkan ke industri berbentuk pasta.

Beberapa di antaranya adalah biji dan daun moringa, biji dan daun avokad, lada, calendula, serai, serta mawar. Menurut Sari dari sekian banyak komoditas yang telah diolah Griin.id, dua besar produksi oleoresin adalah kentang dan mentimun. Sari mengatakan, untuk menghasilkan 5 g oleoresin kentang memerlukan 25 kg umbi. Adapun untuk menghasilkan 5 gram oleoresin mentimun ia memerlukan 17 kg buah Cucumis sativus.

Harga kedua oleoresin itu berturut-turut Rp423.000 dan Rp300.000 per gram. Adapun dua besar produksi hidrosol adalah teh putih yang harganya Rp350.000 per liter dan mentimun (Rp240.000 per liter). Pendiri perusahaan rintisan Griin.id—kependekan dari Gelora Rempah Inti Indonesia—itu menuturkan, sejatinya permintaan oleoresin dan hidrosol lebih besar dari kapasitas produksi.

Ragam produk hidrosol versi eceran.

“Selama ini Griin.id mengolah komoditas apa pun yang petani tanam, dan mencarikan pasar untuk produk-produk olahan itu. Harapannya Griin.id bisa memaksimalkan penyerapan pemasaran hasil panen petani,” kata Sari.

Pantas banyak industri pangan, kecantikan, dan farmasi membutuhkannya. “Oleoresin dan hidrosol masih banyak mengandung senyawa bioaktif seperti terpen, alkaloid, likopen, dan karoten. Nanti industri bisa melakukan fraksinasi sesuai kebutuhan masing-masing,” kata Sari. Sari menuturkan, oleoresin bahan baku berbagai produk seperti krim perawatan maupun produk pangan.

Produsen produk-produk kecantikan pun mencari hidrosol pun sebagai pengganti pelarut air. “Peruntukan hidrosol skala retail biasanya untuk semprotan wajah. Kegunaannya secara umum untuk pelembap dan penyegar wajah.

Griin.id bekerja sama dengan produsen kosmetik dan jasa boga yang mengolah oleoresin menjadi bahan penyusun produk-produk perawatan kulit, penguat rasa, dan pengaya gizi. Senyawa bioaktif bernilai gizi yang terkandung dalam oleoresin lebih mudah dicerna tubuh berkat proses ekstraksi. Ia mencontohkan ketika mengonsumsi sayuran kaya karoten. Suhu tubuh tidak cukup untuk mengekstraknya. Namun, jika karoten terekstraksi dapat langsung dicerna.

Kemitraan

Blended tea produksi Griin.id menghasilkan beragam warna yang berasal dari bahan-bahan natural.

Sari bekerja sama dengan petani yang mempunyai lahan di daerah tinggi dengan suhu lingkungan rendah. Lahan itu cocok sekali untuk budidaya bunga seperti marigold, calendula, dan mawar. Pehobi merajut itu menampung hasil panen para petani dan mengolahnya menjadi minuman siap seduh. Keran saja, ia menambahkan rempah-rempah, herba, dan buah-buahan.

Meski tanpa daun teh Camelia sinensis, konsumen menyebut sediaan itu teh campuran atau blended tea. Isu penggunaan pestisida dan kandungan tanin dalam teh membuat Sari dan tim urung menggunakan daun teh pada produk mereka yang berlabel sehat dan organik. Griin.id mendukung petani-petani untuk terus mempertahankan bertani secara organik.

“Petani tidak perlu khawatir hasil panennya ditolak karena tidak berperawakan elok. Kandungan di dalam komoditaslah yang lebih penting,” jelas perempuan pemenang berbagai kompetisi sains tingkat SMA itu. “Hasil perniagaan oleoresin, hidrosol, dan teh memberikan laba bersih rata-rata Rp10 juta—Rp15 juta per bulan,” kata mahasiswa S-2 Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu. (Tamara Yunike)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software