Sapi Potong: Lahir & Gemuk di Pandeglang

Filed in Satwa by on 01/02/2010 0 Comments

Dari sana pula pada 2009 diproduksi 1.500 sapi bunting dan 600 bakalan yang dijual ke konsumen di Jawa sampai Sumatera

Sulit untuk tidak berdecak kagum saat pertama kali melongok peternakan bernama Lembu Jantan Perkasa (LJP) pada pertengahan Januari 2010. Saat Trubus masuk melalui pintu gerbang hijau, pertamatama tampak bangunan kantor bertembok putih dan sederet truk tengah parkir. Berjarak kurang lebih 300 m dari kantor tampak kandang karantina . “Kandang itu berisi sapi bakalan impor yang akan di karantina selama 2 minggu. Selama itu sapi diperiksa contoh darah dan kotorannya untuk memastikan kesehatan supaya layak dibesarkan,” ujar I Ketut Wisana, general manager LJP.

Perjalanan menuju kandang melintasi 2 pabrik pakan yang dibangun berhadapan. Keduanya dibuat untuk mencukupi kebutuhan pakan sapi yang saat ini populasinya mencapai 5.200 ekor beragam ukuran. Setiap bibit sapi membutuhkan 4 kg konsentrat/hari; penggemukan 8 kg/hari. Pantas kapasitas tampung pabrik besar, mencapai 3.000 ton, dengan produksi konsentrat 24.500 ton/tahun. Dari jumlah itu baru 940 ton/tahun yang dijual ke peternak lain. Soal hijauan? Sebanyak 10% hijauan dipenuhi dari rumput yang dipelihara di lahan seluas 8 ha.

Pintu sapi

Ibarat one stop shopping, selain penggemukan yang dilakukan sejak 1990, peternakan yang dirintis oleh Alm Djaya Gunawan itu mulai melirik pembibitan pada 2004. Musababnya permintaan bakalan terus meningkat sehingga dikhawatirkan ketergantungan impor semakin tinggi. “Setiap tahun permintaan bakalan dan sapi bunting naik 50%,” ucap Ketut yang mengimpor 14.000 sapi beragam ukuran dari negeri Kanguru selama 2009. Dari total populasi, sebanyak 3.000 berupa induk dan 3.000 bakalan induk penggemukan. Pada penggemukan, LJP juga menjalin kerja sama penggunaan kandang di daerah Bandung dan Sumatera Utara.

Di LJP ada 5 kandang pembibitan dan 7 kandang penggemukan. Ukuran masing-masing kandang beragam, mulai dari 25 m x 90 m yang diisi 500 ekor dan 25 m x 120 m diisi 700 ekor. Bentuk kandang memanjang. Masing-masing kandang disekat menjadi beberapa bagian dengan atap terbuka dan sebagian lagi atap tertutup.

Kandang terbuka didominasi bakalan sapi impor dan betina bunting. Bagi betina bunting kandang beratap langit menjadi tempat berlatih agar proses melahirkan berjalan lancar. Yang istimewa, untuk menuju pintu kandang bakalan dan penggemukan perlu melalui pintu sapi. Pintu dibuat menurun dan berkelok yang dibatasi pagar besi sehingga mempermudah sapi masuk kandang tanpa perlu digiring. “Karena pintu itu pula tingkat stres sapi rendah,” kata Ketut. Terbukti, hanya 2 ekor sapi impor berbobot di atas 300 kg yang mati sepanjang 2009.

Penggemukan selama 70—90 hari dilakukan dalam kandang yang terletak di bawah kandang anakan. Kandang anakan dan bakalan beralas semen. Dengan pakan buatan dan rumput dari hasil lahan sendiri, pertumbuhan bobot bakalan jantan diharapkan mencapai 1,6 kg/hari dan betina 1,4 kg/hari. Dari kandang penggemukan itu setiap hari Ketut dapat melepas 65 sapi berbobot hidup rata-rata 400 kg dengan harga Rp21.400—Rp22.000/kg.

Inseminasi buatan

Kandang pembibitan berlantai sawdust alias serbuk gergaji. Itu lantaran pada pembibitan butuh kondisi kering. Pada kandang persalinan mutlak kering. Setiap periodik alas sawdust diganti, tapi tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan untuk memupuk rumput. Bila semua kotoran sapi dikumpulkan, diperoleh 50 ton/hari yang setengahnya dimanfaatkan untuk memupuk rumput; sisanya dijual ke petani juga sebagai pupuk.

Di kandang pembibitan terdapat ruang persalinan, laktasi, dan pembesaran pedet. Di sana tidak ada ruang perkawinan. Maklum, pembuahan dilakukan melalui inseminasi buatan (IB ) dengan tingkat keberhasilan mencapai 80%. Induk betina jenis brahman cross cocok dikembangkan di daerah panas. “Saat mengimpor sapi-sapi dari Australia biasanya ada sekitar 30% betina yang masih produktif,” kata Ketut. Sapi-sapi itulah yang dijadikan induk; Induk betina kemudian disuntik semen jantan dari 3 jenis sapi: simental, brahman, dan limosin. Ketiganya unggul karena mudah digemukkan hingga berbobot di atas 700 kg. Sistem perkawinan yang diterapkan di LJP, yaitu straight breeding yakni antara brahman x brahman; dan crossbreeding, antara brahman x simmental atau brahman x limousin.

Dengan memiliki 1.900 calon induk betina, setiap tahun LJP menghasilkan 1.500 sapi bunting hasil IB. Anakan yang dihasilkan diserap para peternak di Jawa hingga Sumatera. “Pasar di Kalimantan dan Sulawesi lebih banyak meminta sapi bunting,” kata Ketut. Harga sapi bunting Rp9,75-juta—Rp14-juta/ekor; bakalan siap digemukan Rp5-juta—Rp7,75-juta/ekor untuk bobot 100—300 kg/ekor.

Penambahan bibit

Menurut Ketut permintaan sapi anakan, bakalan untuk digemukkan, dan bunting naik 50% setiap tahun. Oleh karena itu pada 2005 LJP bekerja sama dengan dinas peternakan di Sawah Lunto, Sumatera Barat mengembangkan pembibitan sapi. Di sana ada 300 induk betina untuk menunjang permintaan bakalan yang cukup besar di daerah Sumatera. Selain itu, LJP sendiri berencana memperluas lahan untuk menampung tambahan 2.500 ekor bakalan.

Rencana peningkatan produksi itu dilakukan LJP sejalan dengan upaya pemerintah mencukupi kebutuhan daging nasional. Untuk memperbanyak populasi sapi dalam negeri, mulai 2010 pemerintah akan menyebarkan 200.000 sapi ke peternak. Menurut I Wayan Mathius, peneliti utama Balai Penelitian Ternak (Balitnak) di Ciawi, Bogor, program itu untuk mendukung swasembada daging. “Pengadaan bakalan dari lokal terkendala keterbatasan lahan ternak yang menyusut,” ujar Wayan. Untuk itu peternakan sapi perlu intensif seperti yang diterapkan LJP. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

SAPI POTONG NASIONAL

Sapi potong

Tahun

2006

2007

2008

Impor bakalan

265.700 ekor

414.200

Data belum tersedia

Impor bibit

6.200 100

Data belum tersedia

Populasi

10.569.000

11.515.000

11.869.000

Produksi daging

395.800 ton

339.500 ton

352.400 ton

* Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan, angka diolah dari Badan Pusat Statistik

Pembibitan, penggemukan, dan pabrik pakan terintegrasi di lahan seluas 25 ha di LPJ

LJP impor 12.000—14.000 sapi/tahun dari Australia

Calon bakalan hasil ternakan LJP

Foto-foto: Lastioro Anmi Tambunan

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software