Sapi Pintar Minum Jamu

Filed in Satwa by on 30/11/2011

Itu pembuktian Agus Arifudin, peternak di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menangani beragam penyakit sapi. Ketika sapi kembung, misalnya, ia bergegas memberikan jamu berbahan baku daun pepaya, rimpang laos, dan daun sambiloto. Menurut periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Ciawi, Kabupaten Bogor, Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc, kembung kerap terjadi jika sapi banyak mengonsumsi pakan hijauan berkadar air tinggi saat pagi.

“Air menyebabkan kelebihan produksi gas dalam lambung rumen,” kata Wayan. Efeknya lambung rumen mengembang, mengimpit jantung dan paru-paru. Jika dibiarkan, sapi bakal kesulitan bernapas dan meregang nyawa. Agus bertindak cepat dengan mengencerkan ketiga bungkus  jamu berbobot masing-masing 30 gram dalam 300 ml air panas. Ketika air dingin, ia menambahkan 100 ml madu dan 200 ml kecap manis, mengaduk rata, dan memasukkan ke dalam botol sirop.

Dengan botol itulah, Agus memasukkan jamu ke mulut sapi yang sakit pada sore hari. Madu dan kecap mengandung gula siap cerna sehingga sapi cepat menyerap menjadi energi untuk menggantikan asupan pakan. Harap mafhum, ketika kembung sapi enggan makan. “Pagi berikutnya sapi yang kembung sudah membaik dan mau makan lagi,” kata Agus. Ia memang tak membuat ramuan itu sendiri karena beragam jamu untuk sapi kini tersedia di pasaran. Harganya pun sangat murah.

Lebih cepat

Jamu menjadi andalan Agus yang memelihara 20 sapi jenis simetal, limosin, dan silangan ongole itu ketika peliharaannya terserang penyakit. Menurut Agus penggunaan jamu lebih murah dan terbukti efektif. Lagi pula, ia dapat segera mengobati sapi yang sakit. Selain kembung, penyakit lain yang kerap menyebabkan kematian sapi adalah cacingan. Penyakit akibat infeksi cacing parasit Taenia saginata itu menyerang sejak sapi lepas sapih sampai dewasa. Pendeknya, tidak ada sapi yang bebas ancaman cacing.

Namun, “Paling rentan pedet (anak sapi, red) lepas sapih, umur 6-8 bulan,” kata Wayan. Tanpa tindakan tepat, pedet bakal menemui ajal dalam hitungan minggu. Oleh karena itu tindakan pengobatan mesti segera dilakukan begitu ternak tampak lemas atau ogah-ogahan makan. Agus tidak sendirian menggunakan jamu untuk mengatasi penyakit pada sapi. Nun di Desa Nagrak, Kecamatan Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ada Abrianto Wahyu Wibisono.

Pria ramah kelahiran 46 tahun silam itu mengandalkan kombinasi berbagai herbal seperti buah pinang muda Areca catechu, daun pepaya Carica papaya, rimpang temuhitam Curcuma aeruginosa, dan temulawak Curcuma xantorrhiza untuk mengatasi sapi yang mogok makan akibat perjalanan jauh. Maklum, Abri mengandalkan pasokan bakalan dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, yang perjalanannya saja perlu sehari semalam. Ia menambahkan gula kelapa untuk memperbaiki rasa pada ramuan itu.

Tambahan gula kelapa menyebabkan sapi menyukai ramuan mujarab itu. Buktinya usai mengonsumsi ramuan bikinan Abrianto, sapi kembali makan dengan lahap. Ia pernah memberikan obat-obatan kimia ketika sapi mogok makan. Namun, “Sapi malah terdiam seperti mau muntah usai diberi obat,” kata ayah 1 anak itu. Ramuan itu multiefek: mengobati berbagai penyakit seperti cacingan, kembung, atau diare, memulihkan stamina, sekaligus meningkatkan nafsu makan.

Direktur utama PT Rumpun Sejati itu juga mengandalkan herbal untuk berbagai penyakit lain, mulai dari masuk angin, diare, terkilir, luka luar, sampai untuk memandikan. Ia menggunakan beragam herbal seperti rimpang-rimpangan, daun sereh, daun jarak, bunga-bungaan, dan  minyak goreng. “Minyak goreng atau minyak kelapa berguna untuk perekat bahan-bahan ramuan,” kata Beni Irawan, direktur operasional PT Rumpun Sejati yang memelihara 400-an sapi.

Ia menambahkan minyak pada ramuan untuk obat luka luar dan terkilir yang terdiri atas rimpang kunyit Curcuma longa dan daun sereh Andropogon nardus. Mula-mula Beni memblender atau menumbuk halus kedua herbal itu, menambahkan 10% minyak dari total ramuan, lalu memborehkan di tempat luka. Ia mengulang perlakuan setiap pagi dan sore. Menurut alumnus Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Bandung itu, biasanya luka sembuh total dalam 3-4 hari.

Konsisten

Bahan herbal untuk mengatasi penyakit sapi sebenarnya bukan barang baru. Menurut Dr drh Herry Agoes Hermadi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, masyarakat pedesaan biasa memanfaatkan herbal dari pekarangan rumah untuk mengatasi gangguan kesehatan ternak. Alasannya, mereka mudah memperoleh bahan sehingga segera dapat mengobati. Seiring kemajuan teknologi dan kemudahan mengakses informasi, bahan herbal pun semakin terpinggirkan.

Faktor lain, “Peternak banyak yang tidak telaten meramu jamu,” kata Herry. Mereka kebanyakan memilih produk siap pakai, meski harus membeli di toko pertanian dengan harga tinggi. Hal yang membuat peternak enggan meninggalkan obat kimia adalah reaksinya yang cepat. Maklum, efek obat kimia segera tampak dalam hitungan jam; jamu, 1-2 hari. Namun, jamu tidak meninggalkan residu sehingga konsumen tak perlu khawatir efek terhadap kesehatan.

Selain itu, jamu punya kelebihan lain: murah dan mudah diperoleh. Abri dan Beni berhasil menekan 90% biaya perawatan setelah menggunakan jamu. Bahkan, menjelang Idul Adha 2011-saat populasi mencapai puncak-PT Rumpun Sejati tetap memanfaatkan herbal untuk mengatasi beragam gangguan pada sapi. Toh, meski jamu tak kalah sakti dengan obat kimia, I Wayan mewanti-wanti peternak agar mewaspadai tahapan penyakit. “Kalau sudah parah, segera minta bantuan veteriner daripada kehilangan sapi,” tuturnya. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Konsumsi jamu multiefek: memperbaiki nafsu makan, memulihkan stamina, dan mengatasi penyakit

Luka dekat mata pulih dalam 3 hari berkat racikan berbahan dasar kunyit

Pemberian jamu diulang setiap 3 bulan untuk menjaga kondisi

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software