Sapi Pedaging : Tanpa Stres di Sabana

Filed in Majalah, Satwa by on 03/06/2019

Di padang penggembalaan sapi tidak mudah stres, sehingga kualitas daging lebih baik.

 

Mengumbar di padang penggembalaan demi menghasilkan sapi pedaging unggul.

Sejauh mata memandang yang tampak hanya hamparan rumput hijau menyejukkan mata. Di padang penggembalaan seluas 78 hektare itu puluhan sapi lahap mengunyah rumput gajah Pennisetum purpureum dan rumput karpet Axonopus compressus. Selain itu di padang penggembalaan juga tumbuh Brachiaria decumbens. Menjelang petang sapi-sapi itu digiring ke kandang untuk beristirahat. Begitulah kegiatan sehari-hari di Bukit Waruwangi Farm, Desa Bantarwangi, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”1164042394″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Pemilik Bukit Waruwangi Farm, Siswono Yudo Husodo, mengembangkan peternakan Bukit Waruwangi di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, sejak 2012.

Peternakan sejak 2012 itu unik karena menggembalakan sapi di sabana. Lazimnya peternak sapi di tanah air memberi pakan hijauan di kandang.  Menurut Manajer Produksi Bukit Waruwangi Farm, Nico Sonyenzellnd, membuat peternakan dengan sistem gembala keinginan sang pemilik, yakni Siswono Yudo Husodo. Menurut Nico kelebihan menggembalakan sapi di sabana lebih praktis karena pengelola tidak perlu menyabit rumput sebagai pakan ternak.

Bibit

Bukit Waruwangi Farm menangkarkan 38 sapi pedaging peranakan ongole (PO)—terdiri atas 23 ekor jantan dan 15 ekor betina. Peranakan ongol merupakan hasil persilangan antara pejantan sapi sumba ongole dan sapi betina jawa yang berwarna putih. Perusahaan itu memilih sapi  PO karena tahan penyakit dan beradaptasi baik. Nico mengatakan, Bukit Waruwangi Farm fokus menangkarkan untuk menghasilkan pedet berkualitas.

Perusahaan itu mengadopsi sistem penggembalaan agar ternak tidak mudah stres. Indukan sapi stres sulit bunting dan rentan keguguran. Menurut alumnus Jurusan   Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa  itu indukan betina menghasilkan 1 pedet per tahun. Satwa ruminansia itu bunting selama 9,5 bulan. Bukit Waruwangi Farm mengelola 15 indukan betina, sehingga menargetkan produksi 1—2 pedet per bulan.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”1164042394″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Menurut dokter hewan di Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeskanwan 3 Desa Sirnagalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, drh. Ifan Aria Munandar, syarat pedet unggul antara lain bobot ideal saat lahir 22—24 kg dan lincah. Menurut Ifan ada kelebihan dan kekurangan menggembala sapi. Kelebihannya sapi tidak mudah stres, lebih segar, sehingga kualitas daging lebih bagus.

Gamal Gliricidia sepium ditanam di sekitar pagar sebagai biokonsentrat atau pelengkap gizi yang diperlukan ternak.

Adapun kekurangannya antara lain insting liar sapi akan muncul, sulit penanganan, pemantauan sapi sakit relatif sulit dan memungkinkan kurang gizi. “Sapi juga memerlukan konsentrat sebagai pakan tambahan untuk pemenuhan gizi,” kata dokter hewan alumnus Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor itu.

Untuk menyiasati kebutuhan konsentrat, Nico menggunakan tambahan tanaman gamal Gliricidia sepium yang tumbuh di padang penggembalaan. Menurut Nico gamal sebagai biokonsentrat untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak.

Nico menuturkan, “Di sini aplikasi biokonsentrat tidak terbatas, sapi bisa mengambil sendiri karena tanaman gamal sebagai biokonsentrat tumbuh di sekitar pagar.” Adapun pengecekan rutin ternak dilakukan saat pagi dan sore, ketika ternak hendak digembalakan dan kembali ke kandang. Menurut Nico kebutuhan pakan untuk penangkaran bahkan lebih besar dibandingkan dengan pembesaran.

Rumput gembala Brachiaria decumbens mudah ditanam, tahan injakan, dan kekeringan.

Jika pembesaran menghendaki hijauan minimal 10% bobot tubuh, penangkaran bisa 2—3 kali lebih banyak. Musababnya ternak butuh energi lebih saat kawin, bunting, melahirkan, hingga menyusui pedet. Nico mengatakan, kebutuhan pakan ideal hingga luasan 1 hektare rumput per ekor indukan sapi. Pakan baik terpenuhi, ternak tidak stres, anakan unggul pun dihasilkan.

Bukit Waruwangi Farm memasarkan anakan sapi PO berumur 18—24 bulan setelah lahir. Saat itu bobot tubuh mencapai 100—150 kg per ekor. Peternak membesarkan sapi PO itu hingga mencapai bobot 600 kg per ekor selama 24 bulan. Peningkatan bobot rata-rata 0,75 kg per hari. Nico mengatakan, konsumen yang membeli pedet pada umumnya adalah peternak pembesaran. Perusahaan itu memasarkan hingga 1—2 pedet per bulan. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software