Sadar Transgedik

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 06/06/2020

Eka Budianta*

“Ayolah Bunda, kita tanam sendiri sayuran kita. Tidak perlu halaman luas. Yang penting tepat bibitnya, cukup pupuknya.”  Begitu kampanye video yang banyak beredar.  Pengedarnya macam-macam. Ada toko daring atau online, badan amal, lembaga swadaya masyarakat. Taman Asri, Kebun Bibit, semua ingin membangun masyarakat mandiri pangan pada masa pandemi.

Ditambah lagi muncul bermacam wabah baru, baik menyerang manusia, satwa, maupun tanaman. Nah! Beruntung kenal penganjur daya tahan tanaman melalui upaya rekayasa genetika. Maria Ignatia Honggowati adalah Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Pertanian di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. “Sudah saatnya kita memberi ruang pada produk rekayasa genetika (PRG),” katanya.

Produk halal

Dari dia saya mendapat buku  “Peta Jalan Pengembangan Benih” Produk Rekayasa Genetika (PRG). Buku itu diluncurkan pada akhir 2019 dan sudah diperkenalkan di beberapa tempat. “Tujuan utama membangun PRG bukan hanya mendukung ketahanan pangan, tapi juga untuk menyelamatkan tanaman asli kita.  Ilmu rekayasa itu diperlukan supaya varietas yang baik tidak punah menghadapi perubahan iklim dan serangan pandemi,” tuturnya.

Maria yakin Indonesia perlu mengembangkan ilmu rekayasa untuk pertanian.  Dewasa ini benih bioteknologi rekayasa genetik sudah digunakan besar-besaran di Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Kanada, dan India.  Lahan pertanian PRG pada 2017 saja sudah lebih dari 189 juta hektare.  Indonesia termasuk paling tertinggal, bahkan dibandingkan denegan Vietnam yang bermain di atas 35.000 hektare.

Adapun implementasi benih PRG di Indonesia cukup lama terkendala, “karena adanya kontroversi di masyarakat,” kata Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik, Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, M.Sc.

Fatwa MUI  Nomor 35 Tahun 2013 bahwa diperbolehkan menggunakan teknologi rekayasa genetik dan pemanfaatan produknya dengan syarat dilakukan untuk kemaslahatan, tidak membahayakan (tidak menimbulkan mudarat) baik pada manusia dan lingkungan dan tidak menggunakan gen atau bagian lain yang berasal dari hewan tidak halal dan tubuh manusia.”

Ilmu transgenik

Imajinasinya muncul dalam bentuk fiksi ilmiah sejak 1936.  Namun, istilah rekayasa genetika baru lahir lewat novel Dragon’s Island karya Jack Williamson yang terbit pada 1952. Dikisahkan muncul ras manusia unggul setelah tim pemburu genetik hilang dalam riset di New Guinea.  Singkatnya, kualitas manusia bisa ditingkatkan melalui rekayasa genetika.  Jadi, jangan heran kalau ada riset kesehatan untuk memperpanjang umur kita menjadi 400 atau 500 tahun, misalnya.

Begitu juga dalam meningkatkan kualitas benih dan panen tanaman.  Dahulu, kakek saya secara amatiran mengawinsilangkan singkong dan karet sehingga umbinya bisa besar sekali, dan dipanen dalam 4 tahun.  Sekarang, Yayasan Bill dan Melinda Gates mensponsori pengembangan singkong BioCassavaPlus di Kenya. Tujuannya menciptakan singkong yang lebih kaya mineral, vitamin, protein, dan tahan virus.

Indonesia mengenal heboh mengenai produk genetically modified organism (GMO) pada 2002.  Puluhan aktivis lingkungan berunjuk rasa di Makassar, Sulawesi Selatan.  Mereka protes rencana percobaan  rekayasa tanam kapas di Sulawesi Selatan. Di Indonesia ada Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2005.  Intinya, budidaya PRG boleh dilaksanakan bila mendapat rekomendasi aman pakan dari Kementerian Pertanian, aman pangan dari Kementerian Kesehatan, dan aman lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tiga rekomendasi itu selama ini sulit didapatkan.  Mengapa?  Karena orang tahu bahwa rekayasa genetika itu mengubah dan menghilangkan sifat alami dari tanaman.  Ketika di Jember muncul heboh jagung dan tebu transgenik pada 2005, pertanyaannya bagaimana kalau daun jagung dan tebu yang telah berubah karakternya dimakan kambing dan sapi? Apakah masih sehat?

Padi emas

Dahulu kecemasan seperti itu sering dilebih-lebihkan.  Sekarang – menurut Peta Jalan itu– justru masyarakat didorong untuk menjadi inovator, pemberi solusi, dan mengatasi persoalan.  Akan ada insentif  untuk para penemu dan pengembang PRG.  Programnya dicanangkan selama 25 tahun, dari tahun 2020 ini hingga 2045. Yang penting, sasarannya jelas, tersedianya benih tanaman PRG, pemanfaatan sumber genetik nasional, terjamin keamanan dan kelestariannya, dimanfaatkan petani dan membawa kesejahteraan.

Kentang salah satu komoditas yang mendapat prioritas pengembangan pangan.

Fokusnya pada lima komoditas strategis, yakni padi, jagung, kentang, kedelai, dan produksi gula.  Tentu ada juga penelitian untuk sayur-sayuran, seperti tomat, misalnya. Di Indonesia ada penelitian tomat PRG yang diharapkan tahan virus gemini yang membuat daun menjadi kuning dan virus mosaik timun.  Pelaksananya terdiri atas kolaborasi tim peneliti biogen, Balai Tanaman Sayuran (Balitsa) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).  Dananya dari APBN dan Hibah proyek Agricultural Biotechnology USAID, Amerika Serikat.

Pada 1990-an Federal Institute of Technology di Swiss bersama Syngenta Company mengadakan kolaborasi untuk menemukan gen kunci bunga padi. Mereka ingin merekayasa genetika untuk meningkatkan kadar betakaroten yang bisa dikonversi menjadi vitamin A.  Penelitian itu dikenal sebagai upaya menemukan golden rice – padi emas.

Suatu hal yang penting saat itu, karena 120 juta anak ditengarai kekurangan vitamin A yang bisa mengakibatkan kebutaan. Permasalahan timbul menyangkut hak kekayaan intelektual. Siapakah yang berhak menjadi pemegangnya, penemunya atau perusahaan agrokimia yang membiayainya?  Untungnya pada 2008 golden rice berhasil diuji-coba di Louisiana, Amerika Serikat.

Nah!  Hal itu tidak terjadi ketika pada 2005 ditemukan tebu PRG yang tahan kekeringan.  Maklum, peneliti dan pembiayaannya dilakukan oleh sebuah pabrik gula di Jatiroto, Jawa Timur. Ternyata kemandirian dan kebijaksanaan bisa dimulai dari yang kecil-kecil.  Itulah yang diyakini gerakan jagung manis dan program tanam padi di rumah.  Ayo kita saksikan, bagaimana rumah kecil bisa menanam padi dalam kantong-kantong plastik di atapnya.

Airnya didapat dari limbah memlihara ikan dalam ember.  Panennya digiling sendiri dengan mesin tumbuk yang juga rumahan.  Hanya benihnya, diperlukan campur tangan teknologi dan ilmu  transgenik yang canggih, bertanggungjawab, dan ramah lingkungan. Ayolah, Bunda! ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software