Saatnya Produksi Bakalan

Filed in Laporan khusus by on 01/05/2010 0 Comments

Karena harga bakalan di Purwokerto mahal, Sobirin berpaling ke Kebumen dan Purbalingga – masih di Jawa Tengah. Namun, perburuan itu juga sia-sia. “Harganya sama-sama mahal,” ujar pria 48 tahun itu. Sobirin akhirnya membeli bakalan dari pasar hewan di seputar Kuningan dengan harga Rp5,5-juta/ekor. Itu pun cuma memperoleh 6 bakalan. “Tahun sebelumnya dapat 8 ekor,” ujarnya. Ongkos yang dikeluarkan untuk berangkat ke Jawa Tengah pun terbuang percuma.

Tak ingin kejadian itu berulang, pada 2009 Sobirin memutuskan memproduksi bakalan sendiri. Ia membeli 10 induk betina dan seekor jantan jenis peranakan ongole (PO). Setelah dipelihara selama 5 bulan induk betina bunting. Kini Sobirin memiliki 10 bakalan untuk digemukkan dan dijual saat Lebaran Haji di penghujung 2010 nanti.

Kurang pasokan

Menurut Bonny Irvan Faizal, peternak di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, harga bakalan sapi terus naik seiring meningkatnya kebutuhan. Terutama 3 – 4 bulan sebelum memasuki bulan puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha. Di ketiga momen itu permintaan daging sapi bisa melonjak 2 kali lipat. Para peternak pun ramai berbelanja bakalan sapi untuk digemukkan.

Meroketnya harga juga terjadi karena pasokan bakalan terbatas. “Hingga saat ini belum ada peternak khusus yang memproduksi bakalan,” ujar Bonny. Maklum, untuk memproduksi bakalan butuh waktu panjang. Mulai bunting hingga melahirkan perlu waktu 9 bulan. Anak sapi baru dijual minimal selepas sapih, sekitar umur 3 – 4 bulan.

Panjangnya waktu membuat produksi bakalan kurang diminati peternak. “Peternak lebih menyukai usaha penggemukan karena masa produksi singkat sekitar 3 – 4 bulan,” ujar Bonny. Kendala lain tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB) masih rendah. Contohnya dialami Sobirin. Dari 8 indukan yang diinseminasi hanya 1 ekor berhasil bunting.

Selama ini bakalan dipasok para blantik – sebutan pengepul sapi dalam bahasa Jawa. Contohnya Nur Chamim. Pria asal Semarang, Jawa Tengah, itu berburu pedet atau anak sapi ke peternak di berbagai daerah seperti Situbondo dan Banyuwangi, Jawa Timur. “Di sana harganya lebih murah ketimbang di Jawa Tengah. Harga pedet umur 5 bulan sekitar Rp3-juta – Rp5-juta per ekor,” ujarnya. Pedet lalu dijual di pasar hewan di Salatiga, Magelang, hingga Ambarawa dengan laba bersih rata-rata Rp1-juta/ekor.

Menurut Ir Mariono MSi, kepala Loka Penelitian Sapi Potong di Grati, Pasuruan, Jawa Timur, peran blantik tak akan mengatasi terbatasnya pasokan bakalan. Maklum, blantik juga hanya mengandalkan pasokan pedet dari peternak skala kecil dengan kepemilikan 2 – 3 ekor. Peternak kecil biasanya memelihara sapi untuk investasi. Mereka baru menjual pedet kalau terdesak kebutuhan seperti biaya anak sekolah. Akibatnya kontinuitas pasokan sulit terjamin. “Karena itu mesti ada peternak pembibitan untuk mengatasi kekurangan bakalan,” ujarnya.

Produksi bakalan

Oleh sebab itu, Asep Zaenal merintis usaha produksi bakalan melalui program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang dicanangkan pemerintah. Dana bantuan pemerintah yang didapat digunakan untuk usaha produksi bakalan. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran itu mengelola 16 induk di Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, sejak Oktober 2009.Dari 16 induk itu 7 ekor sudah melahirkan masing-masing 1 pedet. Dua tengah bunting dan 7 induk lainnya siap IB. Indukan siap diinseminasi lagi 3 bulan pascamelahirkan.

Masih di Garut, di Desa Sudalarang, Kecamatan Sukawening, Sani Nurhasanah juga mengelola 8 induk bunting untuk memproduksi bakalan. Selain pembibitan, Sani juga melakukan usaha penggemukan. Dengan begitu, ia bisa menutupi biaya operasional pembibitan dengan pendapatan dari usaha penggemukan yang masa produksinya lebih singkat.

Meski butuh waktu lama, biaya operasional pembibitan sejatinya lebih hemat. Musababnya, untuk pembibitan tidak banyak butuh pakan konsentrat. “Indukan lebih membutuhkan pakan hijauan untuk memperbaiki kualitas susu. Kebutuhan konsentrat hanya 30% atau sekitar 3 – 4 kg/hari. Pada usaha penggemukkan sebaliknya,” ujar Asep.

Begitu juga dengan anakan. Pedet membutuhkan lebih banyak hijauan untuk pertumbuhan tulang. “Kalau terlalu banyak konsentrat postur tubuh pedet biasanya kurang bagus sehingga kurang disukai peternak,” kata Asep. Harga jual pedet cukup menggiurkan. “Umur 3 minggu saja sudah ditawar Rp3-juta,” kata Sani. Bila dipelihara hingga umur 5 – 7 bulan harganya meroket hingga Rp5-juta. “Biaya pakan bibit sekitar 70% dari total biaya,” ujar Mariono.

Dengan harga itu, peternak memperoleh keuntungan Rp1,5-juta per ekor. Laba itu relatif kecil dibandingkan dengan penggemukan. Karena itu, usaha pembibitan sebaiknya dikombinasikan dengan penggemukan. Kalau pun tidak dijual, pedet bisa dirawat hingga siap panen. Dengan begitu tragedi yang dialami Sobirin tak lagi terulang. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri dan Lastioro Anmi T)

 

 

  1. Pedet umur 3 minggu bisa laku hingga Rp3-juta per ekor
  2. Sani Nurhasanah, kombinasikan produksi bibit dan penggemukan
  3. Biaya pembibitan lebih hemat karena menggunakan lebih banyak pakan hijauan ketimbang konsentrat

 

Powered by WishList Member - Membership Software