Saat Musim Durian Baduy Tiba

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 07/04/2019

Perempuan Baduy dan kelima anaknya itu berjalan beriringan. Sang ibu dan seorang putrinya masing-masing menggendong sebuah karung. Adapun kedua putranya yang berusia sekitar 8—10 tahun memikul masing-masing 10 durian. Buah tanaman anggota famili Malvaceae itu terikat pada ujung sebatang kayu. Anak yang lebih kecil memikul dua buah durian, sementara dua anak yang paling kecil—keduanya kembar—mengikuti sang ibu berjalan.

Beberapa warga Baduy menjual durian di serambi rumah.

Hari itu ada juga rombongan remaja dan dewasa suku Baduy lain yang memanggul puluhan buah durian di pundaknya. Menurut warga Baduy asal Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Musung, saat musim durian, yakni pada Desember—Februari, pemandangan seperti itu lazim terlihat. Warga Baduy mulai dari anak kecil hingga orang dewasa berbondong-bondong memanggul durian.

Mereka memperoleh buah durian dari pohon-pohon berumur puluhan tahun yang diwariskan turun-temurun. Pohon-pohon itu tumbuh di hutan. “Setiap keluarga rata-rata memiliki minimal 3 pohon durian,” ujar Musung. Saat musim buah tiba mereka memanen kemudian membawanya ke terminal Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Lokasi itu paling dekat dengan kawasan pemukiman suku Baduy.

Di sanalah para pelancong yang hendak berkunjung ke pemukiman Baduy memarkir kendaraannya. Saat musim durian terminal Ciboleger itu ramai dengan lapak-lapak durian yang menampung buah durian dari hutan Baduy. Musung menuturkan, bagi warga Baduy durian salah satu komoditas penting sebagai sumber pendapatan keluarga. Berdasarkan riset Johan Iskandar dari Departemen Biologi dan Budiawati S. Iskandar dari Departemen Antropologi—keduanya di Universitas Padjadjaran—durian merupakan salah satu komoditas penghasil uang tunai bagi keluarga suku Baduy karena tidak pantang untuk diperjualbelikan.

Saat musim durian tiba, banyak warga suku Baduy memikul durian dari hutan untuk dijual ke pengepul di Ciboleger.

Menurut Johan dalam budaya Baduy ada komoditas yang pantang diperdagangkan, yaitu padi huma atau padi ladang. Setiap keluarga Baduy wajib berladang (ngahuma). Namun, warga Baduy pantang menjual hasil panen padi. Dalam aturan mereka harus menyimpan di lumbung-lumbung hingga 50—90 tahun. Padi itu nantinya dapat diwariskan kepada keturunannya. Masyarakat Baduy membangun lumbung-lumbung padi di luar kawasan pemukiman.

Warga Baduy Dalam sedang menyetor hasil panen durian kepada pengepul.

Hal itu bukan tanpa alasan. “Kalau ada kebakaran di perkampungan, cadangan padi tidak akan ikut terbakar. Lumbung masih bisa selamat sehingga warga masih bisa makan,” ujar Musung. Johan menyatakan, padi huma itu juga tidak boleh dikonsumsi untuk makanan sehari-hari. Untuk kebutuhan makan masyarakat Baduy membeli beras sawah di warung-warung. Itulah sebabnya mereka juga perlu uang tunai untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Uang tunai itu diperoleh dari hasil penjualan komoditas yang boleh diperdagangkan seperti durian. Komoditas lain lazim ditanam untuk dijual adalah pisang, petai, gula aren, rinu (sejenis lada), dan kelapa. Mereka juga memperoleh uang tunai dari hasil menjual berbagai kerajinan tangan, seperti kantong jarog, kantong koja, dan kain tenun.

Hasil pengamatan Johan padi huma hanya digunakan untuk keperluan upacara pada beberapa tahap kegiatan berladang, seperti upacara menebang semak-semak belukar (nukuh), tanam padi (ngaseuk), mengobati padi (ngubaran pare), panen padi (mipit), dan persembahan hasil padi baru pada leluhur Baduy (ngalaksa di Baduy luar atau kawalu di Baduy dalam). Padi huma boleh dikonsumsi dalam kondisi darurat. Misalnya, jika tidak mempunyai uang tunai untuk membeli beras sawah di warung.

Pohon-pohon durian yang tumbuh di antara lumbung-lumbung padi milik suku Baduy.

Itulah sebabnya warga Baduy menjaga betul setiap buah durian yang muncul. Saat buah mulai berukuran sekepalan tangan orang dewasa, para pemilik pohon menyewa tenaga kerja untuk mengikat buah agar tidak jatuh ke tanah ketika ada buah yang matang. Tenaga pengikat buah itu biasanya memiliki keahlian memanjat. Pasalnya, sebagian besar pohon durian milik warga Baduy berumur puluhan tahun sehingga tingginya mencapai puluhan meter.

Suasana kampung Gajeboh, salah satu kawasan pemukiman suku Baduy Luar yang banyak dikunjungi para wisatawan.

Hanya orang bernyali tinggi yang mampu mengikat buah hingga buah di ujung tajuk. “Mereka memperoleh upah Rp50.000 per hari,” kata Musung. Ketika buah mulai jatuh, para pemilik pohon durian lalu menyewa tenaga untuk “menurunkan” buah durian. Tenaga yang disewa orang yang sama dengan yang mengikat buah. Sayangnya tenaga pemanen buah itu tidak hanya menurunkan buah durian yang jatuh, tapi juga memetik buah lain yang belum jatuh.

“Tujuannya agar hemat biaya tenaga panen,” ujar Musung. Itulah sebabnya hasil panen durian yang dihasilkan bercampur antara buah jatuhan dengan petikan. Warga Baduy lalu menjual hasil panen kepada para pengepul yang membuka lapak di terminal Ciboleger. Salah satu pengepul durian asal Baduy adalah Mulyono. Ia membeli durian dari warga Baduy dengan harga bervariasi antara Rp5.000—Rp10.000 per buah.

Selanjutnya Mulyono menjual durian kepada para pemilik lapak durian dari berbagai daerah, seperti Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Bogor (Jawa Barat), dan Tangerang (Banten), dengan harga Rp15.000 per buah. “Harga jual itu untuk pembelian minimal satu mobil pikap atau sekitar 500 buah,” ujarnya.

Yuda (4 tahun),
anak suku Baduy, sedang berlatih memikul durian.

Warga Baduy mengangkut buah hasil panen dari hutan hingga terminal Ciboleger dengan cara memikul buah dan berjalan kaki. Mereka biasanya mengerahkan anggota keluarga, terutama anak laki-laki. Padahal, jarak dari hutan ke Ciboleger tergolong jauh. Menurut pemerhati durian dari Yayasan Durian Indonesia (YDI), yang juga kerap mengamati durian asal Baduy, Iwan Subakti, jarak dari hutan hingga terminal mencapai 10—15 km.

Pengepul di Ciboleger tengah mempersiapkan pesanan para pemilik lapak durian di berbagai daerah.

Warga Baduy berjalan melewati jalan tanah yang menanjak dan menuruni bukit dengan kaki telanjang. Saat musim hujan sebagian warga suku Baduy mengenakan sepatu bola berbahan karet agar kaki tidak tergelincir. Saat musum hujan permukaan jalan tanah menjadi licin akibat terguyur air hujan. Dalam sehari mereka bisa 2—3 kali bolak-balik berjalan dari hutan ke terminal dan sebaliknya. “Oleh sebab itu perlu fisik yang kuat,” tutur Iwan.

Itulah sebabnya para orang tua suku Baduy melatih anak-anak lelakinya memikul durian sejak dini. Contohnya seperti Yuda yang masih berusia 4 tahun. Pengetahuan yang paling dasar yang diajarkan adalah cara memikul buah. Ayah Yuda mengikat sebuah durian pada masing-masing ujung sebilah batang bambu. Selanjutnya Yuda berlatih mengangkat batang bambu itu lalu meletakkannya di atas pundak kanan hingga benar-benar seimbang.

Setelah seimbang sang ayah lantas menyuruh bocah itu berjalan bolak-balik di selasar rumah. Setelah lihai memikul durian, Yuda mulai berlatih fisik dengan turut serta berjalan kaki mengantar durian dari hutan ke Ciboleger. Saat musim durian, beberapa warga Baduy luar ada juga yang menjual durian langsung kepada para wisatawan. Mereka memajang buah hasil panen di depan rumah.

Pengiriman durian Baduy ke Rangkasbitung menggunakan angkutan umum.

Para pengunjung dapat menyantap durian sambil duduk-duduk di serambi rumah warga. Namun, jumlah buah yang dijual sedikit dan hanya ditawarkan jika sedang ramai pengunjung. Jika pengunjung sepi mereka menjualnya ke pengepul agar segera memperoleh uang tunai. Menurut Iwan Subakti, kualitas durian asal Baduy masih jauh bila dibandingkan dengan durian-durian unggul yang sekarang populer.

“Warna daging buah sebagian besar putih dan daging buah tipis,” ujarnya. Hanya yang beruntung yang dapat menikmati durian berdaging buah kuning. Trubus beruntung mencicipinya saat berkunjung ke Kampung Gajeboh pada Januari 2019. Ketika itu Musung menyajikan durian berbuntuk lonjong dan agak memanjang. Ia menyebut durian berbentuk seperti itu dengan sebutan si kapal.

Konsumen dapat menikmati durian Baduy di lapak pengepul.

Saat dibuka tampak daging buah berwarna kuning pucat. Dalam satu juring terdapat banyak pongge. Begitu dicicip hanya rasa manis yang terasa. Tekstur daging buah empuk, tapi sedikit berserat dan bertepung. “Seandainya buah tidak dipetik rasanya pasti lebih enak,” tutur Iwan yang turut mencicipi si kapal. Iwan menyayangkan hingga kini belum ada identifikasi durian Baduy berkarakter unggul.

Musung menuturkan kualitas rasa seperti si kapal sudah tergolong bagus. “Kalau ada yang bagus biasanya bijinya dikumpulkan yang nantinya ditanam di hutan,” katanya. Warga di sana masih mengandalkan biji untuk menanam durian sehingga perlu waktu lama hingga tanaman berbuah. Kondisi itulah yang mendorong Yayasan Durian Indonesia (YDI) memperbaiki kualitas durian asal Baduy.

Pengurus Yayasan Durian Indonesia, Iwan Subakti (kanan) menyerahkan bantuan bibit durian musangking dan ochee kepada warga Baduy, Musung.

Sebagai langkah awal, Iwan Subakti menyerahkan 3 bibit durian musangking dan 2 bibit durian duri hitam alias ochee kepada Musung agar ditanam di kebun. “Jika terbukti adaptif, maka pohon itu bisa dijadikan pohon induk untuk diperbanyak. Nantinya diharapkan Baduy makin populer tidak hanya sebagai tujuan wisata budaya, tapi juga surga durian enak,” kata Iwan. (Imam Wiguna)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software