Rupiah dari Lengkeng

Filed in Buah, Majalah, Uncategorized by on 02/12/2020

Lengkeng komoditas yang tengah naik daun saat pandemi di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

 

Menebang pohon rambutan, jengkol, dan kelapa sawit yang produktif dan mengganti dengan lengkeng itoh. Kini lengkeng menjadi sumber pendapatan besar.

Parjiyono mengembangkan lengkeng sejak 2014.

“Beberapa teman menganggap saya gila dan tidak mau uang lagi karena penebangan itu,” kata Parjiyono. Ia mendapat cibiran itu setelah menebang beberapa tanaman seperti rambutan, jengkol, dan kelapa sawit di kebunnya pada 2014. Semua tanaman itu tengah berbuah dan masih sehat. Harap mafhum, tanaman-tanaman itu menjadi sumber pendapatan Parjiyono.

Warga Desa Rimbaberingin, Kecamatan Tapunghulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, itu bergeming menghadapi semua cercaan itu. Gandung—sapaan akrab Parjiyono—mengganti semua tanaman yang ditebang itu dengan 20 tanaman lengkeng. Padahal, saat itu reputasi lengkeng di desa Rimbaberingin kurang menarik. Kebanyakan masyarakat di sana menanam lengkeng jenis diamond river dan pingpong yang berbiji besar, berair, produktivitas rendah, dan berdaging buah tipis.

Permintaan tinggi

Tentu saja dengan semua sifat itu lengkeng kurang kayak dikembangkan untuk tujuan komersial. Apalagi sebagai pengganti tanaman produktif yang pasarnya jelas. Saat itu belum ada kebun lengkeng komersial di sana. Meski begitu ia meyakini orang-orang yang mencibir mengikuti jejaknya menanam lengkeng. Selang 3 tahun, dugaan Gandung terbukti benar. Banyak warga yang menebang sawit di kebun dekat rumah dan menanam lengkeng pada 2017.

Penanaman sekitar 170 lengkeng di lahan 1 hektare milik Parjiyono.

Mereka percaya setelah mengetahui lengkeng yang ditanam Gandung berbeda daripada jenis sebelumnya. “Saya menanam lengkeng jenis itoh yang berdaging buah tebal dan tidak berair,” kata pria berumur 52 tahun itu. Semula ia hanya membudidayakan 20 lengkeng. Kini terdapat sekitar 70 lengkeng. Ia mengatur pembuahan lengkeng sehingga selalu ada panen setiap bulan. Lazimnya ia membuahkan 5 tanaman per bulan. Setiap tanaman minimal menghasilkan 70 kg buah.

Total jenderal hasil panen kebun lengkeng Gandung 350 kuintal saban bulan. Harga jual Rp50.000 per kg sehingga omzetnya Rp17,5 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi, Gandung mengantongi laba bersih Rp7 juta per bulan. Bahkan, “Saya mendapatkan laba bersih Rp10 juta dari 3 tanaman pada 2019,” kata pria kelahiran Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu. Tidak heran jika Gandung selalu menambah populasi tanaman setiap tahun.

Isto Suwarno (kanan) merupakan inspirasi Parjiyono menanam lengkeng di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Menurut Gandung kini kemungkinan setiap tanaman miliknya memproduksi 100 kg lengkeng. Artinya profit Gandung pun meningkat. Konsumen lengkeng kebun Gandung berasal dari Kampar dan sekitarnya. Gandung selalu mengumumkan musim panen lengkeng melalui media sosial. Dari situlah masyarakat mengetahui waktu panen lengkeng. Konsumen gembira berkunjung ke kebun Gandung karena mereka dapat mengonsumsi lengkeng sepuasnya. Para pengunjung membayar lengkeng yang dibawa pulang.

Sebetulnya kapasitas produksi kebun itu belum memenuhi permintaan yang datang. “Ada pasar swalayan yang meminta pasokan 200 kg lengkeng per hari,” kata pria yang pindah ke Kabupaten Kampar sejak 1989 itu. Ia belum menyanggupi permintaan itu. Oleh karena itulah, ia mengajak kawan-kawan menanam lengkeng karena potensi pasarnya besar. Gandung juga tengah menanam 170 lengkeng di lahan 1 hektare khusus untuk produksi buah.

Kebun baru

Kebun lengkeng Gandung terus berkembang. Kini banyak orang yang mengikuti jejak Gandung menanam lengkeng. Banyak kebun lengkeng baru bermunculan di Kampar di tengah pandemi. Mulai dari kebun seluas 2.500 m2 hingga berhektare-hektare. Yang paling fenomenal ia membangun kebun lengkeng 30 hektare milik seorang kenalan. Keputusan Gandung menanam lengkeng terinspirasi dari pekebun sukses di Sleman, Isto Suwarno.

Pada 2014 ia mengantarkan anak sulungnya yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Saat itu seorang adik menyarankan Gandung menanam lengkeng. Ia pun mengajak Gandung ke tempat Isto. “Saya terkejut melihat lebatnya buah lengkeng di sana dan saya bertekad harus bisa seperti ini,” kata alumnus Teknik Mesin Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah Prambanan itu. Kini Gandung pun mengikuti jejak Isto mengembangkan lengkeng di Kampar dan sekitarnya. (Riefza Vebriansyah)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software