Rumput Laut

Filed in seputar agribisnis by on 03/08/2013
Eka Budianta

Eka Budianta

Setiap menyambut Lebaran, rumput laut berpeluang menyapa kita.  Ia bisa dinikmati dengan sirop sebagai minuman pembuka puasa.  Bisa juga dalam bentuk agar-agar pencuci mulut. Padahal, mestinya kita bisa lebih akrab lagi. Ada 500 macam produk pangan olahan berbahan rumput laut. Jadi, pemanfaatan rumput laut sebagai bahan makan bangsa Indonesia masih perlu dioptimalkan. Rumput laut termasuk pemain utama dalam ekonomi biru. Itulah ekonomi yang lestari, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.  Rumput laut bisa dipanen dalam 45 hari, termasuk makanan sehat, olahannya kaya variasi.

Selama ini 70% panenan diekspor dengan harga murah. Selebihnya dikonsumsi dalam negeri dengan selera ogah-ogahan. Indonesia punya 56 jenis rumput laut yang bisa dimakan dan dijadikan bahan obat. Sayangnya, baru 22 jenis yang dipopulerkan, dan sedikit sekali yang menanamnya.  Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) memperkirakan hanya 200,000 petani rumput laut tersebar di negeri kepulauan yang luas ini. Dengan keterbatasannya, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah simposium rumput internasional yang dihadiri 700 peserta dari 50 negara.

Dodol Pulau Seribu

Rekomendasinya sangat perlu dimasyarakatkan, ekspor-impornya dipermudah, produktivitasnya ditingkatkan. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat setiap tahun Indonesia memanen 1,7-juta ton rumput laut dari berbagai jenis. Namun, baru tercatat 34 pabrik pengolahan dan hanya 20 yang aktif.  Hasilnya, sebagian besar dijual mentah dan diolah langsung apa adanya. Ini berarti jauh dari untung, karena harga rumput laut mentah dari petani sangat rendah.

Itu tercermin dari nilai ekspor tiap ton antara US$650—US$800 yang ditawarkan di pasar antarbangsa. Artinya satu kilogram tidak sampai satu dolar, bahkan hanya Rp5.000 di tingkat petani.  Hanya di Provinsi Gorontalo yang bisa didongkrak sampai Rp12.000  untuk kualitas siap olah menjadi chip dan diekspor ke luar negeri. Dalam satu tahun provinsi itu bisa  mengekspor 17-ton chip dengan pemasukan mendekati US$100.000. Berarti satu kilo chip berkisar Rp60.000  setara 12 kali harga bahan baku yang paling murah. Proses pengolahan memang menjadi kunci nilai tambah.

Sementara olahan kuliner dari rumput laut harganya bisa meningkat 50 kali lipat bahan bakunya.  Jadi, tugas pencinta rumput laut yang penting adalah membuat rakyat suka, dan menyebar-luaskan resep-resep pengolahannya. Kalau Anda pergi ke Pulau Pari,  Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, jangan lupa pulang dengan oleh-oleh dodol rumput laut.  Sejak 1970 rumput laut dikenalkan di sana, dan kini menjadi primadona agromarina Kepulauan Seribu.  Dodol rumput laut menjadi produk utama Pulau Pari, Pulau Tidung, dan Pulau Untungjawa.

Rasanya kenyal dan manis karena dimasak dengan larutan air gula.  Ada yang berwarna hijau berkat daun suji. Kebanyakan berwarna merah stroberi. Harganya bervariasi antara Rp6.000—Rp10.000  dalam kemasan plastik. Sebagian berhasil dijual ke Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.  Persediaan bahan baku mencukupi, berkat pertanian rumput laut yang intensif.  Hanya sejak Juni 2013 terdengar keluhan panenan mulai berkurang karena laut seputar Pulau Pari mulai tercemar sampah. Budidaya rumput laut memerlukan perairan dangkal, antara 8—20  meter, banyak sinar matahari, dan kualitas air yang jernih.

Namun, “Beberapa tahun terakhir, hasil budidaya tidak bagus karena banyak sampah kiriman dari Jakarta. Sampah berarti bencana buat kami,” kata seorang Ketua Rukun Warga (RW) kepada rombongan Jelajah Gizi Kepulauan Seribu yang terdiri dari ratusan blogger. Kesimpulannya, pencemaran mulai mengancam peranian laut yang menjadi kebanggaan Pulau Seribu sebagai Kawasan Padat Gizi.  Jangan lupa, selama ini  110 pulau di Teluk Jakarta itu terkenal makmur berkat penghasilan ikan teri, keripik sukun, dan manisan rumput laut. Namun, bertambah banyaknya wisatawan juga menggoda para petani dan nelayan.

Mereka menjadi lebih suka melayani tamu ketimbang meningkatkan produk pertanian dan kelautan. Inilah yang yang berbahaya bagi budidaya, peningkatan produk, dan inovasi agribisnis.  Semoga sumberdaya yang sangat terbatas di pulau-pulau tidak meninggalkan kebun dan lautnya untuk menjadi pelayan hotel, satpam, dan pramuwisata.  Justru semakin maju pariwisata, semakin diperlukan tenaga-tenaga terampil yang dapat menyediakan ikan, sayur, panenan serta olahan rumput laut.

Indonesia memiliki 56 jenis rumput laut untuk pangan dan obat

Indonesia memiliki 56 jenis rumput laut untuk pangan dan obat

Nori dan akame

Menurut sejarah, rumput laut sudah dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat-obatan sejak lebih dari 2000 tahun lalu di Tiongkok maupun di Kerajaan Romawi Kuno. Namun, asosiasi pedagang rumput laut baru terbentuk setelah 1952. Indonesia mulai dikenal sebagai eksportir rumput laut ke Eropa selesai Perang     Dunia II.

Kebutuhan rumput laut sebenarnya sangat besar dan meluas ke bermacam segi kehidupan.  Rumput laut juga diperlukan untuk membuat sampo, kapsul obat-obatan, sampai bahan pembuatan semir sepatu, maupun dimakan segar.

Di antara yang dikonsumsi adalah nori, kombu, dan wakame. Nori adalah lembaran-lembaran rumput laut yang disukai sebagai pembungkus nasi dan pembangkit selera makan. Sekarang nori mulai banyak dijual di kantin-kantin sekolah.  Adapun  kombu dinikmati sebagai kuah atau sup. Umumnya, rumput laut mengandung air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%), serat kasar (3%), dan abu (22,25%). Selain itu rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, dan vitamin. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10—20 kali lipat dibandingkan dengan tumbuhan di darat.

Istimewanya, dengan mengonsumsi rumput laut, kita bisa merasa kenyang untuk waktu lama.  Oleh karena itu rumput laut diakui juga sebagai makanan penyeimbang badan. Penyuka rumput laut yang besar, bangsa Jepang dan Korea misalnya, jarang yang menderita kegemukan. Mereka langsing, sehat dan rata-rata punya harapan hidup yang panjang. Baru sekarang dunia dikenalkan pada “wakame salad” alias lalap rumput laut yang rendah kalori tetapi kaya mineral.

Bisa dipastikan rumput laut wakame memang kaya akan kalsium, zat besi dan magnesium.  Biasanya disantap dingin dengan ditaburi wijen. Membuatnya mudah dan praktis. Sangat umum di desa-desa pantai perairan Asia timur. Kini sudah waktunya rumput laut diperluas ke Pasifik, untuk memakmurkan dan menyehatkan warga Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Salomon, dan tentunya Indonesia. Itulah yang dibicarakan dengan hangat dalam simposium enam hari di Bali. Maklum saja, ada bermacam rumput laut yang dapat dimakan. Mulai dari jenis ganggang biru (Cyanophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang merah (Rodophyceae), sampai ganggang cokelat (Phaeophyceae).

Masyarakat Pulau Nusapenida, Bali,  dikenal tekun sebagai petani rumput laut. Demikian juga sekitar 230 keluarga yang menghuni Pulau Pari di Teluk Jakarta. Di berbagai penjuru Indonesia kini dikembangkan budidaya rumput laut dengan metode TON yaitu Tambak Organik Nusantara. Semoga tidak terganggu oleh pencemaran dan mampu mengatasi perubahan cuaca. Yang lebih penting lagi, konsumsi rumput laut kita memang perlu ditingkatkan, sehingga tidak hanya sebatas untuk pelengkap ketika berbuka puasa. Apalagi setelah paham bahwa badan sehat dan umur panjang adalah sebuah kebutuhan. ***

*) Eka Budianta, Kolumnis Trubus, pengurus Tirto Utomo Foundation, dan konsultan Jababeka Botanic Gardens.

 

Powered by WishList Member - Membership Software