Rukola 7 Ha

Filed in Pojok luar by on 08/03/2013 0 Comments
Henk van Staalduinen

Henk van Staalduinen

Inilah kebun rukola terbesar di Belanda. Sayuran bercita rasa kuat itu bahan selada favorit di Eropa dan Amerika.

Berderet-deret tanaman setinggi mata kaki orang dewasa itu berbaris rapi di dalam sebuah greenhouse di Rotterdam, Belanda. Sepintas itu mirip hamparan rerumputan berwarna hijau, merah, dan hijau muda. Bukan, itu bukan rerumputan. Setiap hari pekerja di Bijo-logical Vegetable—nama perusahaan pemilik greenhouse itu—memanen rukola, red schart, baby leaf, dan beberapa jenis lain.

Rukola—sayuran daun berwarna hijau setinggi mata kaki itu—salah satu bahan salad favorit di Eropa dan Amerika. Eruca sativa itu beraroma tajam dan bercita rasa kuat sehingga membuat rasa salad menjadi lebih enak, spicy. Orang Inggris lebih mengenal sayuran daun anggota keluarga kubis-kubisan itu sebagai salad rocket atau arugula; sebutan terakhir sama dengan di negeri Abang Sam. Orang Perancis menyebutnya roquette. Di Jerman disebut salatrauke, rauke, rukola. Sementara orang Italia mengenal dengan nama rucola atau ruchetta. Di Belanda disebut rukola.

Suhu rendah

Kebun Bijo-logical Vegetable menanam rukola di dalam greenhouse di lahan 2 ha. Sementara untuk red schart yang berdaun merah tua kecokelatan bertangkai daun merah tua seluas 3 ha, baby leaf bertepi daun bergelombang (0,5 ha), dan sisanya aneka sayuran salad lain. Para pekerja membagi penanaman ke dalam luasan per 1.000 m2 sehingga dapat panen bertahap dan secara kontinu. Benih rukola, red schart, dan baby leaf yang berukuran halus seperti pasir ditanam menggunakan mesin tanam khusus.

Menurut Gertjan van Zanten—manajer produksi—untuk setiap luasan 1.000 m2 pekerja menanam 500 gram benih yang diperoleh dari perusahaan benih ternama di Belanda. Pada musim dingin mereka mulai membudidayakan pada September dan panen hingga April atau Mei. Sementara pada musim panas, mereka mulai menanam pada April lalu panen secara bertahap hingga Agustus atau September.

Manajer pemasaran, Martin Bakker (kiri) dan manajer produksi, Gertjan van Zanten di antara rukola yang hampir siap panen

Manajer pemasaran, Martin Bakker (kiri) dan manajer produksi, Gertjan van Zanten di antara rukola yang hampir siap panen

Dari setiap penanaman pekerja bisa memanen dua kali. Penananam pada musim panas, setelah dua kali panen, tanaman berbunga. Sebetulnya pekerja bisa memotong bunga lalu tanaman kembali  berproduksi. Namun, menurut manajer pemasaran, Martin Bakker, biaya tenaga kerja tinggi sehingga menjadi lebih ekonomis jika mereka menanam benih rukola baru untuk musim panen berikut ketimbang merompes bunga untuk memperpanjang umur produksi.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman berdaun dengan bentuk seperti bulu burung itu, pekerja mengatur suhu greenhouse. Pada pukul 05.30—12.00 suhu greenhouse 12oC. Setelah itu suhu diturunkan hingga 8,5oC. Kondisi itu karena rukola termasuk tanaman yang tumbuh optimal pada kondisi suhu dingin. Untuk melindungi tanaman dari serangan hama seluruh bagian terbuka greenhouse—jendela-jendala—diselimuti jaring kasa.

Sementara untuk mengatasi alga yang kerap muncul pada musim dingin pekerja menaburkan pasir khusus ke media tanam. Alga biasanya “menjamur” ketika paparan sinar matahari sangat sedikit karena langit kerap mendung. Kehadiran alga mengganggu pertumbuhan tanaman yang semula tumbuh liar di daerah Mediterania itu.

Para pekerja menanam sayuran salad itu di media tanam berupa tanah lapisan atas yang bertekstur lembut. Oleh karena itu selama bekerja di kebun mereka menggunakan sepatu khusus beralas lebar. Tujuannya supaya jejak kaki mereka tidak merusak struktur tanah dan tanaman. Setiap dua tahun pekerja melakukan sterilisasi tanah untuk membasmi cendawan dan gulma.

Pekerja membagi penanaman per luasan 1.000 m2 agar dapat memanen secara bertahap dan kontinu

Pekerja membagi penanaman per luasan 1.000 m2 agar dapat memanen secara bertahap dan kontinu

Populer di Italia

Pekerja memanen rukola, red schart, baby leaf, dan sayuran salad lain menggunakan alat khusus seperti garuk. Bila sekali memanen, mereka menuai rukola setinggi kira-kira 10 cm, semata kaki, sekaligus dengan akarnya. Di alam rukola dapat tumbuh hingga ketinggian 20—100 cm. Dengan alat khusus itu tanaman mudah diangkat dari media tanam. Dari setiap 1.000 m2 mereka menuai 700 kg rukola pada panen pertama. Panen kedua atau ketiga masing-masing 350 kg.

Mereka lalu mencuci, memisahkan, dan membersihkan daun dari gulma, kotoran, dan akar, lalu mengeringkan dan mengemas sayuran daun itu dalam berbagai ukuran kemasan plastik. Selanjutnya sayuran salad itu disimpan di dalam rumah pendingin bersuhu 2—3oC sebelum dipasarkan. Di sebuah pasar swalayan harga rukola mencapai 1,5 euro per 75 g. Bijo-logical Vegetable mengekspor rukola dan sayuran salad lain ke berbagai negara di Eropa.

Rukola misalnya sangat populer di Italia. Mereka mengonsumsi rukola segar dalam bentuk salad dengan guyuran minyak zaitun atau cuka. Rukola juga kerap disajikan mentah bersama pasta atau olahan daging serta kentang rebus dan sup. Orang Italia juga kerap menggunakan sayuran kerabat kubis itu sebagai topping pizza. Mereka meletakkan rukola mentah sebelum pizza selesai dipanggang atau segera setelah pemanggangan usai supaya daun salad itu tetap segar.

Red schart

Red schart

Dari negeri Pizza itu kemudian popularitas rukola kian meluas ke berbagai negara. Rukola cepat populer karena cita rasanya mirip selada—bahan salad lain, tapi tanpa rasa pahit yang kadang-kadang terasa jika kita memakan selada. Tanaman yang semula tumbuh liar atau hanya ditanam sebagai tanaman pekarangan di rumah-rumah bersama bumbu-bumbuan lain seperti basil dan parsley kini diproduksi massal. Salah satunya di greenhouse seluas 7 ha di Rotterdam. ***

 

Powered by WishList Member - Membership Software