Rimpang Curcuma Cegah Korona

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 16/03/2020

Temulawak mengandung imunostimulan sekaligus antioksidan.

 

Pandemi korona mengguncang dunia. Di Indonesia bukan barang baru. Konsumsi tanaman obat yang mengandung imunostimulan sekaligus antioksidan salah satu upaya mencegah serangannya.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Nyoman Kertia, SpPD, KR, FINASIM.

“Sejak lama korona ada di Indonesia. Dibawa oleh kelelawar,” kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Yogyakarta, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.P.D., KR, FINASIM. Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr. drh. Joko Pamungkas, M.Sc, mengemukakan hal serupa. Joko mencatat sembilan kali virus korona terdeteksi positif di Indonesia pada 2011—2014.

Bedanya saat itu kasus muncul di satwa liar, bukan manusia. Joko menyampaikan pernyataan itu dalam seminar “The 10th Strategic Talk: Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak” di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Januari 2020. Menurut Joko virus korona diidentifikasi pada 1969. Satwa peliharaan, yaitu anjing dan kucing, ternyata membawa virus anggota famili Coronaviridae itu.

Perkuat sel tubuh

Selain itu ternak komersial yang banyak dibudidayakan di tanah air, yaitu sapi, ayam, itik, dan babi juga membawa virus yang namanya bermakna mahkota. Satwa liar yang membawa virus itu antara lain kelelawar, luwak, atau tikus. Namun, virus tidak bisa menular dari binatang langsung ke manusia. “Harus ada inang perantara yaitu satwa liar yang dimakan manusia, contohnya kelelawar,” kata Joko.

Pantas muncul epidemi di masyarakat yang mengonsumsi kelelawar, yaitu kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok. Saat penyelenggaraan seminar pada Januari 2020, korban jiwa lebih dari 200 orang. Jumlah itu terus bertambah hingga lebih dari 1.100 orang pada pertengahan Februari 2020 dengan lebih dari 44.000 korban terinfeksi. Celakanya, virus itu menyebar ke 27 negara lain termasuk tetangga Indonesia, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia.

Meski termasuk inang perantara, kelelawar atau kalong hanya menularkan virus korona kalau dikonsumsi.

Makhluk yang hanya tersusun dari satu jenis basa nitrogen itu menyerang saluran dan organ pernapasan. Korban menderita demam, batuk, sesak napas, diare, dan gangguan pencernaan. Guru besar Departemen Biologi IPB Prof. Dr. dr. Sri Budiarti menyebutkan bahwa serangan berat mengakibatkan gagal ginjal, gangguan pernapasan akut (severe acute respiration syndrome, SARS), dan kematian.

Virus covid-19, nama resmi yang diberikan Badan Kesehatan Dunia WHO, itu sefamili dengan 2 pemicu pandemi sebelumnya. Keduanya adalah SARS-CoV dan middle-east respiratory syndrome (MERS-CoV). Nyoman Kertia menyatakan, virus menyerang sel target untuk memperbanyak diri. “Menurut berita, korban korona kebanyakan orang yang sakit sejak sebelum pandemi atau kaum lanjut usia. Orang muda yang kondisi tubuhnya prima tidak banyak yang terserang,” katanya.

Orang sakit dan kaum lansia punya kelemahan sama, yaitu sistem kekebalan tubuh (imun). Nyoman menyatakan, imun tubuh ibarat tentara. Ketika ada serangan, sistem imun maju di garis depan melawan infeksi. Menurut Nyoman tubuh manusia bertahan dari serangan virus tidak hanya mengandalkan imunitas. “Kalau tubuh sehat, sel kuat sehingga virus tidak mampu menembus membran sel,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali itu.

Dengan demikian, sel imun langsung menghancurkan virus sebelum sempat memperbanyak diri dengan menyerang sel tubuh. Salah satu komponen yang membantu memperkuat sel tubuh adalah antioksidan. Sementara itu, bahan yang memperkuat imun adalah imunostimulan. Salah satu antioksidan yang sohor adalah vitamin C. Namun, antioksidan juga bisa diperoleh dari berbagai rempah yang lazim terdapat di dapur.

Fisalin dalam ceplukan bersifat imunomodulator.

“Rempah jenis temu (marga Curcuma) mengandung imunostimulan sekaligus antioksidan,” kata dokter kelahiran Bali 59 tahun lalu itu. Rimpang paling sohor kunyit Curcuma domestica atau temulawak Curcuma xanthorrhiza. Padahal, jenis temu lain tidak kalah bermanfaat. Nyoman menyebut temugiring, temuireng, temuputih, temumangga, atau jahe pun mengandung antioksidan dan imunostimulan sekaligus.

Ekstrak

Nyoman menganjurkan konsumsi rimpang dalam bentuk ekstrak agar manfaat optimal. “Kalau hanya sebagai bumbu dosisnya kecil sekali,” kata pengajar fitofarmaka di FK UGM itu. Sejatinya pengolahan rimpang menjadi ekstrak lazim dilakukan masyarakat Nusantara sejak dahulu. Masyarakat biasa mengupas, memarut, dan memeras temulawak untuk mengonsumsi airnya. Itu cara ekstraksi paling dasar dan bisa dilakukan di rumah tanpa peralatan mutakhir laboratorium.

Kelebihan cara itu adalah memperoleh ekstrak segar. “Bahan antioksidan, sesuai namanya, mudah teroksidasi. Cirinya perubahan warna,” kata Nyoman. Ia mencontohkan warna temulawak yang baru dikupas lebih pekat ketimbang yang sudah didiamkan beberapa jam. Kekurangannya, cara itu memerlukan waktu lama. Sejak pembuatan 50—70 ml ekstrak temulawak saja bisa menghabiskan waktu 1—2 jam.

Jangan khawatir, ekstrak temulawak dengan prosedur ekstraksi yang baik banyak beredar di pasar dengan harga terjangkau. Zat lain yang juga vital tapi langka dikonsumsi lantaran perubahan gaya hidup adalah imunomodulator. “Imunomodulator meningkatkan kinerja sistem imun dalam memerangi patogen,” ujar Nyoman. Salah satu bahan imunomodulator jempolan adalah fisalin yang terdapat dalam ceplukan atau cecendet Physalis angulata.

Ternak komersial seperti ayam kampung pun bisa membawa virus korona, tapi tidak bisa menularkan langsung kepada manusia.

Anggota Komisi Nasional Saintifikasi Jamu itu menyarankan konsumsi buah, bunga, serta daun ceplukan untuk memetik khasiat optimalnya. Rutin mengonsumsi temulawak dan ceplukan saja belum cukup untuk mencegah seseorang terjangkit korona. “Penting juga mempraktikkan pola hidup sehat dengan berolahraga teratur, mengonsumsi penganan bergizi, dan menghindari paparan patogen,” kata Nyoman.

Ia menganjurkan penggunaan masker lantaran virus korona bisa menyebar lewat udara. Tubuh sehat dan minimal paparan patogen mengurangi peluang terjangkit virus korona maupun berbagai penyakit lain. Kombinasi berbagai cara—konsumsi herba, penerapan gaya hidup sehat, penggunaan masker—upaya membentengi diri dari serangan virus maut. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sinta Herian Pawestri)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software