Rezeki Petani dari Dracaena

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 08/07/2020

Bambu rezeki menjadi salah satu komoditas ekspor dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

 

Pasar mancanegara meminati bambu rezeki dari Indonesia.

Semula hanya tanaman liar di pekarangan, kini bambu rezeki Dracaena sanderiana menjadi komoditas andalan ekspor. Inovasi membentuk batang bambu rezeki menjadi berbagai rangkaian menarik perhatian konsumen mancanegara. Rangkaian yang banyak diminati pasar ekspor antara lain model pagoda, guci, mahkota, heart, ananas, dan curly. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan sentra utama produk bambu rezeki untuk pasar ekspor yang meliputi Saudi Arabia, Iran, Qatar, Oman, Azerbaijan, Rusia, Malaysia, dan Singapura.

Para pekerja mengemas bambu rezeki ke dalam boks stirofoam untuk pengiriman ke konsumen.

Rencananya tanaman anggota famili Asparagaceae itu juga dipasarkan ke Belanda, Aljazair, dan Mesir. Alamanda salah satu kelompok tani yang membudidayakan bambu rezeki sekaligus mengolahnya menjadi kerajinan tanaman hias berbentuk unik. Kelompok tani di Desa Sudajayagirang, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu, sangat kreatif mengembangkan potensi bambu rezeki sehingga menjadi produk berkualitas ekspor. Pada September—Oktober 2018 Kelompok Tani Alamanda mengekspor 30.000 aneka produk dracaena ke India dan Malaysia (21.000 buah).

Dukungan fasilitas

Jumlah ekspor cenderung meningkat dan bervariasi saban tahun. Setiap negara memiliki selera bentuk bambu rezeki berbeda. Pada Agustus 2019 Kelompok Tani Alamanda mengekspor masing-masing 1,3 ton produk bambu rezeki ke Rusia dan Oman. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi, Kementerian Pertanian, volume ekspor bambu rezeki masih digabung dengan volume ekspor tanaman hias lain.  Volume ekspor tanaman hias lain termasuk dracaena cenderung meningkat setiap tahun yakni mencapai sekitar 58, 34% pada 2014—2016.

Direktorat Jenderal Hortikultura memberikan fasilitas kepada kelompok pembudidaya dan produsen dracaena di Sukabumi pada 2018 dalam rangka mendorong pengembangan bambu rezeki berorientasi ekspor. Fasilitas yang diberikan antara lain lahan pengembangan kawasan bambu rezeki seluas 26.500 m2, bangunan tempat merangkai dan pengakaran. Fasilitas lainnya yaitu mobil berpendingin sebagai sarana distribusi. Meningkatnya permintaan pasar ekspor produk bambu rezeki mendorong berkembangnya industri ekonomi kreatif pedesaan.

Usaha rangkaian produk bambu rezeki menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat baik sebagai petani atau tenaga kerja perangkai dracaena. Dampaknya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat bertambah. Melalui kebijakan pengembangan kawasan dracaena, produksi produk bambu rezeki di Kabupaten Sukabumi meningkat rata-rata 39,60% pada 2012—2016. Beberapa kecamatan yang mengembangkan bambu rezeki di Kabupaten Sukabumi antara lain Sukalarang, Sukaraja, Cidahu, Cicurug, dan Kadudampit.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Perlu adanya sinergi antarinstansi di pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Sukabumi untuk mendorong berkembangnya produksi bambu rezeki agar mampu bersaing di pasar global. Selain Kabupaten Sukabumi, dukungan fasilitas pengembangan kawasan bambu rezeki bisa menyasar ke daerah lain seperti Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kabupaten Sumedang (Jawa Barat), Kabupaten Purwakarta (Jawa Barat), Kabupaten Semarang (Jawa Tengah), Kota Batu (Jawa Timur), dan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur).

Potensi bisnis bambu rezeki masih terbuka lebar. Indonesia merupakan negara agraris produsen bambu rezeki bermutu prima. Alasannya bambu rezeki dari Indonesia memiliki ketahanan relatif lama serta berbentuk dan berwarna unik pada bagian daun dan batang. Kelebihan itu tidak dimiliki oleh dracaena dari negara lain. Jadi, ekspor bambu rezeki tidak hanya dilihat dari volume ekspor, tapi juga dilihat dari estetika. (Henni Kristina Tarigan, S.P., M.E., fungsional pengawas muda hasil pertanian di Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software