Rezeki Nomplok Nila Bioflok

Filed in Majalah, Satwa by on 06/10/2021

Kolam bioflok berdiameter 4 m menghasilkan 350 kg nila dengan masa budidaya 3,5—4 bulan.

 

TRUBUS — Lebih cepat panen dan menguntungkan merupakan keunggulan membudidayakan nila sistem bioflok.

Dadang Mursyid, S.Pd., memanen 350 kilogram (kg) ikan nila dari satu kolam bulat berbahan terpal dan berdiameter 4 m. Masa budidaya 3,5—4 bulan. Hasil panen itu fantastis. Lazimnya pembudidaya ikan hanya menuai 100 kg nila setelah pemeliharaan 6 bulan di kolam berukuran sama. Artinya peningkatan produksi ikan di kolam milik Dadang mencapai 3,5 kali lipat dan panen lebih cepat 2,5—3 bulan.

Pembudidaya ikan nila sekaligus Kepala Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Dadang Mursyid, S.Pd.

Bagaimana cara Dadang meningkatkan produksi? Pembudidaya nila Oreochromis niloticus di Kampung Sindanghurip, Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu menerapkan sistem bioflok sehingga budidaya ikan lebih optimal dan efisien. “Bioflok berarti budidaya dengan mengoptimalkan kultur mikrob dalam kolam. Mikrob berperan mengolah sisa metabolisme ikan menjadi pakan alami,” kata Dadang.

FCR rendah

Faedah lain mikrob mengurai amonia yang bersifat racun bagi ikan sehingga kualitas air terjaga. Teknik bioflok hemat air sehingga tidak perlu menambah dan mengurangi air kolam jika kultur air sudah tepat. Bisa dibilang budidaya sistem bioflok lebih hemat air dibandingkan dengan budidaya konvensional. Menurut Dadang pembudidaya nila perlu menerapkan bioflok lantaran terbukti meningkatkan hasil panen.

Pembudidaya nila sekaligus Kepala Desa Jatihurip itu, mengatakan, “Perlakuan awal menentukan hasil budidaya.” Ia memberikan kapur dan garam sebelum penebaran ikan agar bibit penyakit dalam air mati. Selanjutnya Dadang membiarkan air kolam selama 3—5 hari. Tujuannya agar mikrob tumbuh alami. Air kolam berwarna hijau jika mikrob dan alga tumbuh. Boleh juga menambahkan probiotik saat fase adaptasi air kolam.

Setelah itu Dadang memasukkan ikan ke kolam. Pastikan benih ikan berkualitas supaya hasil panen maksimal. Benih berkualitas berasal dari perusahaan atau produsen benih ikan terpercaya. Dadang memerlukan 25 kg benih nila untuk kolam bulat berdiameter 4 m. Satu kg terdiri dari 70 ikan sehingga populasi mencapai 1.750 ekor. “Hindari memberi pelet selama 3 hari karena kebutuhan pakan ikan terpenuhi dari pakan alami,” kata pembudidaya ikan konsumsi sejak 2009 itu.

Pemberian pakan 3 kali sehari pada pagi, siang, dan sore. Setelah 3 hari kebutuhan pakan mencapai 500 gram per kolam per hari. Kebutuhan pakan meningkat 60% setiap 7—10 hari. Jadi, Dadang mesti memberikan 800 g pakan per hari pada pekan kedua. Total jenderal kebutuhan pakan mencapai 330 kg per kolam selama 3,5—4 bulan. Jika ia mendapatkan 350 kg nila, maka rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) mencapai 0,94.

Biaya pakan lebih murah jika menggunakan pakan mandiri.

“Hasil panen 318 kg pun sebetulnya sudah baik,” kata ayah 4 anak itu. Nilai FCR 1,03 lebih tinggi daripada budidaya nila konvensional yang rata-rata 1,5. Idealnya hasil panen berbobot 250—500 g per ekor karena rumah makan menyenangi ukuran itu. Harga jual nila Rp22.000 per kg. Dadang mengantongi omzet Rp6,9 juta jika memanen 318 kg nila. Adapun biaya produksi seperti pakan, listrik, serta sarana dan prasarana Rp4,4 juta.

Kontribusi BRI

Dengan kata lain ia memperoleh laba Rp2,5 juta per kolam. Makin banyak kolam yang dipanen, semakin tinggi keuntungan. Dadang tidak ingin sukses sendirian. Ia kerap berdiskusi dan menimba ilmu dari rekan seprofesi hingga terbentukalah kelompok budidaya ikan air tawar Sawala. Sawala akronim dari sangkan waluya salawasna yang berarti agar selamat selamanya. Hingga kini ada 25 pembudidaya ikan dalam kelompok Sawala dengan kapasitas produksi optimal 8 ton nila per bulan.

Produksi itu masih sangat jauh untuk memenuhi permintaan. Menurut Dadang kebutuhan Kabupaten Tasikmalaya 16 ton nila per hari. Jadi, ceruk pasar nila relatif besar. Setelah sukses membudidayakan nila dan membentuk kelompok, Dadang menjadikan Desa Jatihurip sebagai desa eduwisata ikan pada 2020. Pengunjung bisa berwisata sambil belajar budidaya ikan. Fasilitas lain berupa warung makan dan taman yang cocok untuk swafoto.

Terdapat kolam ikan di hampir semua pekarangan warga Desa Jatihurip.

Budaya dan sumber daya alam amat mendukung Desa Jatihurip sebagai lokasi eduwisata ikan. Udara segar, sumber air bermutu prima, dan hidangan lokal yang khas memanjakan mata dan lidah pengunjung. Kualitas dan kuantitas air melimpah untuk budidaya ikan air tawar karena desa hanya berjarak 8 km dari puncak Gunung Galunggung. Apalagi memelihara ikan menjadi budaya Desa Jatihurip.

Pasalnya setiap pekarangan terdapat kolam ikan. Namun, masyarakat belum mengoptimalkan budidaya ikan sebagai sumber penghasilan. Mewujudkan desa eduwisata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dadang mengatakan salah satu pihak yang sangat mendukung kegitan budidaya ikan kelompok dan eduwisata kampung ikan adalah Bank BRI. Bantuan bank berumur 126 tahun pada 2021 itu berupa permodalan, peralatan, dan pelatihan.

Bank BRI berkomitmen membantu kelompok budidaya ikan Sawala untuk mengembangkan usaha. Program kredit usaha rakyat (KUR) sejalan dengan gerakan pembudidaya ikan di Desa Jatihurip. Alasannya KUR meningkatkan akses pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain pembiayaan, BRI dengan program pemberdayaannya memberikan sarana prasarana peningkatan produksi budidaya berupa kolam bioflok, mesin pembuat pakan, hingga media komunikasi pengenal desa wisata.

Olahan nila

Adapun bantuan berupa pelatihan pembuatan pakan mandiri dan olahan. Menurut Dadang membuat pakan mandiri memangkas biaya hingga Rp3.000/kg jika harga pelet pabrikan Rp10.000kg. Harap mafhum biaya pembuatan pakan buatan sendiri Rp7.000/kg. Artinya, ada penghematan 30%. Hal itu bisa terjadi jika lokasi sumber bahan pakan (limbah tapioka, limbah terigu, serta sisa makanan restoran dan rumah tangga) dekat tempat budidaya.

Untuk pelatihan pembuatan olahan dan pengemasan, Bank BRI menyasar kelompok wanita tani. Mereka mempelajari pembuatan olahan nila seperti filet, ikan berbumbu setengah jadi, dan rolade. Kelebihan membuat olahan masa simpan lebih lama dan nilai jual meningkat hingga 100%. Dadang tidak menyangka menjadi pembudidaya ikan. Sebelumnya alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia itu bekerja di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada 2007.

Namun, ia pulang kampung dan membudidayakan ikan konsumsi pada 2009. “Budaya kerja di ibu kota berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Harapannya kembali ke kampung halaman bisa menciptakan budaya kerja yang lebih baik dan produktif,” kata anak sulung dari 4 bersaudara itu. Keputusan Dadang tepat. Ia memanen 2 ton mas saat kali pertama membudidayakan ikan di kolam seluas 27 m2 dan mendapatkan laba Rp5 juta. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software