Rekayasa Petelur Unggul

Filed in Satwa by on 30/06/2011

Pekerjaan utama Hambali guru di sebuah sekolah di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Namun, tingginya biaya hidup, mendorong Hambali beternak itik usai mengajar. Namun, produksi itik itu sangat rendah, hanya 50%. Artinya dari 1.000 betina, ia hanya memungut 500 telur per hari. Untuk menghasilkan sebutir telur, Hambali perlu memberi pakan dua induk sekaligus sehingga tidak efisien. Idealnya produksi menjulang hingga 70%.

Peternak seperti Hambali yang menghadapi masalah rendahnya produksi mudah dijumpai di berbagai lokasi. Itulah sebabnya produksi telur itik secara nasional sangat rendah. Padahal, telur itik salah satu sumber protein hewani penting bagi pemenuhan gizi masyarakat.  Menurut catatan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, dari total produksi telur sebanyak 1,3-juta ton pada 2009, telur itik hanya  menyumbang 18% setara 236.000 ton.

Pilih induk

Banyak faktor penyebab rendahnya produksi telur itik nasional, salah satu di antaranya kualitas bibit rendah. Sebab, pembibitan itik petelur belum mendapat perhatian serius. Peternak sejatinya dapat menerapkan langkah praktis untuk menghasilkan bibit unggul. Seleksi induk berdasarkan produksi telur menjadi pertimbangan utama.

Faktor lain dalam seleksi itu adalah umur bertelur perdana, bobot telur, dan efisiensi pakan. Kualitas telur yang meliputi ketebalan kerabang, kualitas albumin, serta warna kerabang menjadi pertimbangan. Harus ingat juga daya tahan terhadap penyakit dan kemampuan itik beradaptasi dengan lingkungan. Penilaian lain berupa daya tetas dan mortalitas alias kematian bibit. Jika sulit maka kriteria umur bertelur pertama, jumlah telur, warna kerabang, dan bobot telur menjadi prioritas penilaian.

Peternak juga mesti mem-perhatikan jenis itik. Itik cihateup, alabio, mojosari, bali, dan tegal beberapa petelur unggul. Sebagai gambaran, itik alabio tergolong petelur tangguh dengan produktivitas 270 butir per tahun dengan bobot rata-rata telur 62 gram. Mojosari unggul dalam bobot telur, 70 g per butir. Sayang,  produktivitas mojosari agak rendah, 240 – 250 butir per tahun. Intinya peternak perlu mengetahui keunggulan dan kelemahan jenis itik calon bibit.

Selanjutnya peternak perlu merancang pola pembibitan, terdiri atas 3 bagian yakni ternak murni, induk, dan ternak komersial atau produksi. Pada pola pembibitan ternak murni, lakukan pencatatan dan perbaikan mutu bibit yang ketat. Peternak dapat memanfaatkan induk dari ternak murni untuk menghasilkan ternak produksi. Di wilayah ternak produksi, tidak lagi dilakukan perbaikan mutu bibit, tetapi untuk perbanyakan saja. Sementara ternak produksi untuk menghasilkan telur konsumsi, bukan telur tetas.

Untuk menjaga kemurnian genetik, kembangkan pola inti tertutup. Artinya, setiap memasarkan itik terlarang masuk ke wilayah ini atau ternak murni. Hal sama berlaku bagi itik dari luar. Sebab, itik rentan serangan penyakit. Peliharalah ternak murni di kandang tertutup, penerapan biosekuritas, serta manajemen kandang dan nutrisi yang tepat. Ternak dalam wilayah itu aset berharga. Oleh karena itu jika musnah, maka peternak mesti membibitkan ulang. Untuk menghindarinya, simpan ternak cadangan di lokasi yang jauh dan steril.

Khusus ternak murni, minimal terdiri atas 2 kelompok, masing-masing terdiri jantan dan betina. Tujuannya menghindari perkawinan saudara di ternak induk yang bisa berpengaruh buruk pada bibit. Di wilayah ternak murni, perkawinan sedarah tidak bisa dihindari karena jumlah ternak sedikit dan tertutup. Ternak pengganti di wilayah inti mesti memiliki performa bagus. Caranya, kawinkan induk pejantan dari kelompok A dengan betina darik kelompok B dan sebaliknya.

Seleksi

Di wilayah inti, jumlah ternak murni bergantung keperluan ternak komersial yang akan  dikeluarkan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 5. Itik dibagi dalam 2 kelompok besar, lalu tempatkan itik siap bertelur di kandang individual. Tujuannya agar kita dapat mencatat produksi telur minimal selama 5 bulan. Pencatatan di selembar karton dan  tempelkan di setiap kandang.

Untuk produksi telur, lakukan pencatatan setiap hari dan jumlahkan di setiap akhir periode.  Adapun pencatatan bobot telur, lakukan tiap pekan atau bulan, kemudian rata-ratakan. Untuk perkawinan, memanfaatkan inseminasi buatan sepekan sekali.  Lalu tetaskan telur-telur produksi selama 5 bulan pertama, sekaligus pisahkan hasil tetasan berdasar jenis kelamin sedini mungkin. Pelihara anakan dari kedua kelompok itu secara terpisah. Lakukan seleksi setelah  5 bulan berdasarkan penampilan fisik

Biasanya itik betina yang dijadikan bibit sekitar 70%, sisanya apkir untuk pedaging. Induk-induk betina lolos seleksi itu dipelihara berkelompok dengan perkawinan secara alami ataupun inseminasi buatan. Lima bulan kemudian, lakukan seleksi lagi berdasarkan catatan individu. Biasanya 30% itik betina terpilih yang dipelihara secara terpisah dan telurnya sebagai ternak pengganti.

Jumlah telur yang ditetaskan bergantung pada keperluan ternak murni yang diganti. Biasanya diambil 30% terbaik dari anak-anak, sementara sisanya untuk induk. Ternak yang terseleksi awalnya bisa dipelihara secara kelompok. Lalu saat memasuki masa bertelur, pelihara dalam kandang individual dan dicatat performanya selama 5 bulan. Untuk keperluan bibit, itik dalam kategori ternak murni bisa dipelihara secara kelompok sampai 12 bulan masa bertelur. (Dr Agr Ir Asep Anang MPhil, Lektor Kepala Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran Bandung)

 

Powered by WishList Member - Membership Software