Rehabilitasi Lahan Tambang: 2 Tahun Muncul Gabah

Filed in Sayuran by on 01/06/2009 0 Comments

Hamparan 6 ha sawah di salah satu sudut Pangkalpinang, Bangka, itu bagai titik hijau di antara ratusan ha tumpukan tailing (limbah tambang berupa pasir yang banyak mengandung logam, red) dan kolong bekas tambang timah. ‘Bila dilihat dari udara, bekas tambang timah terlihat gersang. Hanya tanah merah berlapis pasir putih yang terlihat. Tak ada lagi tandatanda kehidupan,’ kata Andry Kurniawan, kolega yang mengantar Trubus. Tak pernah ada yang menyangka bakal ada sawah di bekas tambang timah.

Dr Ir Suwardi MAgr dari Pusat Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor, menuturkan perusahaan penambangan besar melakukan reklamasi dengan cara pengembalian tanah permukaan dan pembenaman bahan organik. Setelah 1 – 2 tahun lahan siap ditanami tanaman pionir seperti sengon dan akasia. Dalam 20 – 40 tahun lokasi kembali hijau menghutan. Angka perkiraan itu pula yang diprediksi banyak peneliti untuk mengembalikan kesuburan tanah bekas tambang timah di Bangka. Namun, Megah Hasan membuktikan bahwa lahan bekas tambang timah itu dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi dalam 2 tahun.

Langkah pertama, ia memelihara 16 sapi. Kotoran sapi ia gunakan sebagai pupuk organik. Megah menggunakan teknik pengomposan dengan bakteri fermentasi yang dikenal ketika tinggal di Jepang. Menurut Suwardi salah satu cara mengatasi lahan asam adalah dengan memberikan bahan organik. ‘Penambahan organik bukan hanya meningkatkan kesuburan kimia tanah, tapi juga kesuburan fisik dan biologi tanah,’ kataIr Kharisun PhD, ahli pupuk dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Organik

Dari 16 unsur hara esensial yang diperlukan tanaman, semuanya terdapat dalam pupuk kandang. Suwardi mengatakan bahan organik juga menggemburkan tanah liat sehingga porositas dan permeabilitas semakin baik. Sebaliknya pada tanah berpasir, bahan organik meningkatkan kemampuan tanah memegang air. Proses pelumpuran untuk sawah pun menjadi lebih gampang.

Secara kimiawi bahan organik melepas senyawa bersifat koloid ke tanah. Dampaknya kapasitas tukar kation meningkat akibat luasnya permukaan partikel tanah. Tanah semakin baik menyimpan hara, mengurangi penguapan nitrogen, dan pencucian hara kation lain. Tak lupa pula mengeliminir bahan racun yang diakibatkan kation mikro seperti kobalt, dan tembaga dengan membentuk ikatan kelat. Secara biologi, bahan organik ampuh mendongkrak populasi mikroba tanah.

Megah Hasan memfermentasi kotoran sapi dengan bakteri selama 2 pekan. Pupuk kandang matang itulah yang ia sebarkan di lahan. Sebelumnya ia meratakan bukit-ukit tanah bekas galian dengan ekskavator. Lubang-lubang menganga pun tertutup. Setelah rata, barulah Megah memberikan 20 ton pupuk kandang per ha. Megah Hasan menambahkan 15 cm top soil atau lapisan tanah atas dari kebun kelapa sawit. Sebab, bekas galian timah itu berupa tanah pasir yang tak mampu memegang air.

‘Penambahan tanah paling efektif untuk memulihkan lahan,’ kata Ir Bambang Setiadji MT, ahli tanah dari Universitas Jenderal Soedirman. Megah yang lama tinggal di Jepang itu membiarkan lahan selama sebulan sebelum membajak sedalam 20 cm. Kemudian ia menggenangi sawah sedalam 15 cm. Idealnya, lahan mengering dalam 3 hari. Bila sehari lahan kering, ciri tanah belum memegang air dengan baik.

Produksi padi

Untuk mengatasi air yang cepat surut, ia menambahkan sisa pakan sapi dan kompos fermentasi. Setelah itu air digenangi kembali. Sumber air dari bekas kolong timah. Ia berupaya menekan keasaman air dengan memberikan pupuk kandang. Kemudian eceng gondok ia tanam sebagai indikator. Jika tanaman air itu mampu tumbuh, berarti air bekas galian timah siap digunakan untuk mengairi sawah.

Sawah-sawah itu lantas dibagi-bagi seluas 200 m2. Megah mengelola 24 ha bekas galian tambang. Namun, baru 6 ha yang ia olah. Menurut Megah Hasan biaya rehabilitasi lahan mencapai Rp5,8-juta/ha. Pada 2007 untuk pertama kali Hasan menanam padi varietas ciherang dan IR 64 di lahan bekas galian timah. Hasilnya 5 ton gabah kering panen per ha. ‘Jumlah itu masih di bawah rata rata produksi sawah beririgasi teknis yang mencapai 8 ton,’ kata Megah.

Menurut Suwardi pemanfaatan lahan bekas tambang menjadi lahan pertanian, seperti yang dilakukan Megah, merupakan salah satu solusi bijak. Selama proses penambangan, terbentuk pemukiman-pemukiman baru. Dengan pemanfaatan lahan tambang, mereka – mantan pekerja tambang – dapat bercocok tanam seperti ditempuh Megah Hasan. Untuk merehabilitasi tambang tak perlu 40 tahun sebagaimana dugaan banyak orang. Megah hanya perlu 2 tahun. (Faiz Yajri/Peliput: Destika Cahyana, Nesia Artdiyasa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software