Ramuan Penakluk Satria Pantai

Filed in Tanaman hias by on 01/04/2010 0 Comments

Santigi Pemphis acidula dikenal hanya adaptif di dataran rendah. “Habitatnya di daerah pantai terutama di tebing atau karang,” kata Budi Sulistyo, pemain bonsai senior di Jakarta. Makanya pemain bonsai yang memiliki santigi kebanyakan tinggal di dataran rendah seperti Jakarta, Surabaya, atau Jember. Itu berbeda dengan santigi gunung Vaccinium littorea yang justru habitatnya di dataran tinggi.

“Hanya segelintir orang saja yang bisa membuat santigi tumbuh di dataran tinggi seperti di Bandung, Jawa Barat, atau Batu, Jawa Timur,” tambah Budi. Menurutnya perlu perhatian dan perlakuan khusus untuk membuat santigi kerasan di daerah dingin. Misalnya, penyiraman rutin dengan air garam dilakukan kolektor santigi dataran tinggi. Bahkan kolektor di Okinawa, Jepang, dan Taiwan melakukan hal serupa.

Pantang menyerah

Cara itu pernah ditempuh Arpa’i. Sayang, hasilnya tak memuaskan. “Beberapa kali saya coba menyiram dengan air garam. Santigi bisa bertahan tapi kondisinya merana. Garam malah membuat media mengeras,” kata pemilik nurseri Artha Bonsai itu. Menurutnya, selama ini tak ada santigi yang bisa hidup subur di Batu, Jawa Timur. Mereka malas bertunas lalu lambat laun mati.

Tujuh tahun lalu, rasa penasaran Arpa’i, makin membuncah, ia serius mencari media sekaligus pupuk yang cocok untuk santigi. Beragam bahan dan campuran ia coba sejak 2003. Mulai dari pupuk kandang kambing, kompos, sekam mentah, arang sekam, dan beragam pupuk kimia. Sayang, semua tak memuaskan. Santigi tak bisa tumbuh subur seperti cemara, asam, kimeng, beringin, atau almis.

Arpa’i pantang menyerah. Pencariannya terus berlanjut sampai akhirnya setahun lalu ujung-ujung ranting 5 santigi dewasa miliknya dipenuhi tunas muda yang baru muncul.

KTK tinggi

Itu berkat ramuan yang berasal dari campuran pupuk kandang kambing, humus hutan, guano, tembakau, kapur, dan arang sekam. Semua itu buah hasil coba-coba Arpa’i selama 7 tahun yang didasarkan pada informasi dari beragam literatur pertanian yang dibacanya.

Menurut Arpa’i pupuk itu dibuat dari kotoran kambing yang difermentasi bersama semua bahan lainnya dengan cara didiamkan dalam keadaan tertutup selama 3 hari. Biasanya Arpa’i menggunungkan campuran di lantai, menutupnya dengan terpal, dan membolak-baliknya sehari sekali. “Saya biarkan kotoran kambing utuh difermentasi, bila digiling biasanya menjadi sangat asam,” katanya.

Ternyata pupuk organik itu juga membuat bonsai lain seperti asam, cemara, waru, jeruk kingkit melonjak pertumbuhan vegetatifnya. Ia juga cocok untuk bromelia, philodendron, anthurium, dan lainnya. “Dengan terpacunya pertumbuhan vegetatif bonsai, maka ramuan ini menghemat lamanya periode los (masa pembesaran cabang dengan dibiarkan tumbuh tanpa pangkas, red),“ tutur Arpa’i.

Lantaran masih penasaran, Arpa’i menguji pupuk organik itu ke Laboratorium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,

Universitas Brawijaya, Malang. Terungkap di sana di dalam media terkandung unsur makro dan mikro lengkap. Contohnya N, P, K, Ca, Mg, dan Na. Diduga kotoran kambing memasok N, P, dan K. Sedangkan arang sekam penyedia Mg, Ca, K, dan penyeimbang pH (derajat keasaman red). Humus hutan kaya N, tembakau mengandung K, Mg, dan Zn. Sedangkan guano kaya mikroorganisme pengurai, P, dan N. “Kapur ditambahkan sebagai penetralisir pH sekaligus penyedia Ca,” kata Arpa’i.

Analisis kimia juga menunjukkan pupuk organik itu memiliki kapasitas tukar kation (KTK) tinggi, 54,8 me/100 g pada pH 7. Kapasitas tukar kation menggambarkan kemampuan bahan organik menahan dan mempertukarkan kation-kation dalam tanah. “Kian tinggi KTK media tanam atau pupuk organik, semakin tinggi pula kemampuannya memegang hara, menjaga kestabilan pH, dan memegang air,” kata Prof Dr Ir Syekhfani MS, ketua Laboratorium Kimia Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.

Cangkok dan setek

Sukses menyuburkan santigi di dataran tinggi, Arpa’i tertantang melakukan perbanyakan. “Selama ini santigi umumnya buruan alam. Demi kelestarian, saya ingin bisa memperbanyak santigi meski di dataran tinggi,” tuturnya.

Mimpinya terwujud setelah ia mencoba mencangkok beberapa batang santigi seukuran gagang raket. “Syaratnya, pohon induk yang dicangkok harus disuburkan terlebih dahulu,” tuturnya. Cara cangkoknya sama dengan tanaman pada umumnya.

Dengan media pasir dan sedikit campuran pupuk buatannya, akar muncul setelah 2 bulan. Cangkokan siap dipotong dan dipindahkan dalam pot bermedia pasir malang dan pupuk. Bibit yang baru pindah tanam itu disungkup plastik dan diletakkan di tempat teduh selama sebulan. Setelah itu diletakkan di tempat terbuka dengan sinar matahari penuh.

“Cangkok santigi menjadi alternatif untuk memanfaatkan batang-batang yang hendak dipotong saat masa training (perawatan dan pembentukan, red),” kata kakek 8 cucu itu. Belakangan santigi pun berhasil diperbanyak Arpa’i dengan cara setek. Bahan setek diambil dari pucuk-pucuk ranting, lalu ditancapkan dalam media dan disungkup selama sebulan.

Sebetulnya Arpa’i bukan satu-satunya yang melakukan cangkok dan setek santigi. “Beberapa pemain bonsai juga memperbanyak santigi dengan setek dan cangkok. Namun, kebanyakan mereka di dataran rendah,” kata Gunariyanto, pemain bonsai di Jakarta. Menurut Gunariyanto keberhasilan Arpa’i menyuburkan dan memperbanyak santigi di dataran tinggi menjadi kabar baik agar santigi tak melulu diambil dari alam. (Nesia Artdiyasa)

Keterangan foto

  1. Arpa’i, 7 tahun uji coba meracik pupuk untuk santigi sehingga adaptif dataran tinggi
  2. Santigi yang telah lama merana, tumbuh subur di Batu, Jawa Timur, berketinggian 700 m dpl, berkat pupuk organik dengan hara makro dan mikro lengkap
  3. Cangkok santigi mulai berakar setelah 2 bulan. Keberhasilan cangkok ditentukan oleh tingkat kesuburan tanaman induk
  4. Belakangan setek santigi berhasil dilakukan
 

Powered by WishList Member - Membership Software