Rambu-rambu Tanam Jabon

Filed in Perkebunan by on 05/09/2010 0 Comments

 

Tanah bekas tambak garam pun bisa ditanami jabonPemandangan kontras itu terdapat di kebun milik Mohamad Tohir di Desa Sindangbarang, Kecamatan Bogor Barat, Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Jarak kedua lahan hanya 200 meter.  Di lahan pertama, tinggi pohon berumur 19 bulan itu rata-rata 4 meter dan diameter 6 cm; di lahan kedua, tinggi pohon berumur 16 bulan itu 6 meter, diameter batang mencapai 13,6 cm atau 2 kali lipat ukuran batang di tempat pertama.

Padahal, Tohir memperlakukan sama untuk jabon-jabon di kedua area itu. Ia menanam bibit setinggi 50 cm di lubang tanam yang telah ia beri pupuk majemuk yang mengandung unsur fosfor, kalium, dan nitrogen. Dua pekan setelah tanam, pekebun berusia 35 tahun itu memberi 2 genggam kompos per tanaman. Setahun berselang, ia kembali memberi 1 genggam pupuk majemuk per tanaman.

Perlu oksigen

Kebutuhan air tanaman anggota famili Rubiaceae itu tercukupi. Tohir membuat sebuah sumur sebagai cadangan air.  Kedalaman air tanah hanya 20 cm dari permukaan tanah. Saat kemarau, permukaan sumur turun paling banter menjadi 50 cm dari permukaan. Ternyata penyebab pertumbuhan jabon merana di lahan pertama adalah, ‘Tempat itu kerap tergenang air sampai berhari-hari,’ kata Mohamad Tohir.  Pada musim hujan 2009, misalnya, lahan tergenang selama 7 hari.

Jabon sebetulnya adaptif dan mampu tumbuh di segala kondisi tanah. Bahkan di tanah marginal pun ia mampu tumbuh. Dr Irdika Mansur, MForSc, ahli budidaya hutan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor mengatakan, di lahan bekas pertambangan batubara, jabon yang tumbuh pertama kali. ‘Jabon merupakan pohon perintis,’ kata doktor Mikrobiologi Kehutanan alumnus Kent University, Inggris, itu. Namun, pertumbuhan optimal perlu didukung lingkungan dan agroklimat ideal.

‘Salah satu dukungan itu adalah tanah lembap yang kering dan tidak tergenang,’ kata Drs Sudjino MS, pakar fisiologi tumbuhan di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pasalnya, jabon tergolong tanaman dikotil yang mengadopsi sistem perakaran tunggang. Sistem itu memungkinkan penyebaran akar merata di dekat permukaan dan di dalam tanah. Itu berbeda dengan sistem perakaran serabut, yang hanya mengutamakan penyebaran akar di dekat permukaan tanah.

Fungsi utama akar menyerap nutrisi dan air dari tanah. Untuk itu akar dilengkapi ujung menyerupai bulu yang berfungsi memaksimalkan penyerapan sekaligus mengikat bulir tanah sampai ukuran terkecil sehingga memberikan cengkeraman maksimal terhadap tanah. Kalau tergenang, pori tanah tertutup sehingga respirasi sel akar terganggu.

Maklum, meski berada dalam tanah, sel-sel akar tetap memerlukan udara untuk bernapas. Sel akar berasal dari sel parenkim yang sama dengan batang dan cabang, sama-sama bersifat aerob alias memerlukan oksigen. Jika akar sering tergenang, sel akar lama-kelamaan mati. Ujung-ujungnya pasokan air dan nutrisi dari akar terganggu. Padahal, ‘Setiap saat terjadi evaporasi di daun,’ kata Irdika. Akibatnya daun kehabisan cairan lalu menguning dan akhirnya rontok.

Menurut Irdika calon pekebun idealnya mengetahui kedalaman sumber air tanah di lahan yang akan ditanami jabon. Ia mengatakan jabon lebih cocok dibudidayakan di daerah yang sumber mata airnya dalam. Meskipun demikian, lahan tergenang dan sumber air tanah yang dangkal – tetap dapat dijadikan sebagai lokasi budidaya jabon. Caranya dengan membuat bedengan berketinggian tertentu, seperti pola penanaman cabai. Konsekuensinya biaya produksi pun meningkat.

Ladang garam

Selain air, Irdika menduga ketinggian tempat menjadi faktor lain yang membatasi pertumbuhan jabon. Menurut peneliti di Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology (Seameo-Biotrop) itu, secara genetik jabon tidak cocok ditanam pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Sebab, agroklimat di dataran tinggi berbeda dengan dataran rendah. Dugaan Irdika diperkuat pengalaman Agus Hendarto SE, direktur PT Kupajala Wanantara Kalyana.

Agus membandingkan pertumbuhan jabon di Kopeng, Kota Salatiga, dan Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, keduanya di Provinsi Jawa Tengah. Kopeng di kaki Gunung Merbabu itu berketinggian lebih dari 1.000 meter, sedangkan Krakal kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. Agus menanam jabon di kedua lokasi itu secara bersamaan, pada permulaan 2009. ‘Semua terstandarkan, mulai dari ukuran bibit yang ditanam, perawatan, sampai pemupukan,’ kata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu.

Di Kopeng yang sejuk, tinggi rata-rata kerabat kopi itu 1,10 meter; di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, tinggi rata-rata mencapai 11,3 meter. Irdika pernah menanam jabon di Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berketinggian 600 – 700 meter di atas permukaan laut. Pertumbuhan tanaman di Baturaden itu juga lambat.

Menurut Sudjino habitat asli jabon di India justru di dataran tinggi. Lagi pula, intensitas dan lama penyinaran matahari di dataran tinggi lebih besar daripada dataran rendah. Dengan demikian semestinya laju fotosintesis pun lebih cepat. Oleh karena itu, ‘Perlu penelitian untuk mengetahui penyebab pertumbuhan lambat di dataran tinggi,’ kata kepala Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Gadjah Mada itu.

Jabon memang sohor sebagai pohon yang adaptasinya luas. Itu dibuktikan oleh Hasan, direktur PT Serayu Makmur Kayuindo, yang membudidayakan jabon di lahan bekas tambak garam. Lahan 2,4 ha di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, itu hanya berjarak 1,5 km dari pantai utara Laut Jawa.

Serbuk kayu

Masyarakat setempat semula menjadikan lokasi itu sebagai ladang garam pada masa keemasan udang, pertengahan 1980 – 2005. Namun, usaha itu akhirnya berhenti dan lahan pun penuh alang-alang Imperata cylindrica. ‘Tanah keras dan berbongkah saat digali,’ kata Hasan. Itu menandakan absennya agen hayati penggembur tanah lantaran terbilas air laut.

Hasan tertantang membuktikan bahwa anggota famili Rubiaceae itu adaptif dan mampu tumbuh di mana saja. Untung di tepi lahan mengalir anak sungai yang sarat air sepanjang tahun menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Setelah lahan terbeli pada 2009, Hasan menaburkan serbuk kayu sampai ketebalan 5 cm.

Hasan mempersiapkan media tanam yang terdiri atas beragam bahan seperti tanah merah, pupuk kandang, dan tepung ikan. Ia memasukkan sekarung media itu ke dalam setiap lubang tanam berjarak 40 cm x 40 cm. Tanah yang semula tandus hanya berupa padangilalang ditumbuhi alang-alang, kini tampak hijau ditumbuhi lebih dari 500 jabon. Ketika Trubus ke sana pada 17 Juli 2010,  tinggi tanaman berumur 6 bulan itu rata-rata 3 m dan berdiameter 7,5 cm. ‘Sekarang terbukti kalau jabon bisa hidup di mana saja,’ kata Hasan. (Argohartono Arie Raharjo)

 

  1. Di Alian, Kebumen, berketinggian kurang dari 100 m dpl pertumbuhan jabon mencapai 11,3 m dalam 1,5 tahun
  2. Tanah bekas tambak garam pun bisa ditanami jabon
  3. Hindari genangan air dan dataran tinggi untuk tumbuh optimal tanaman jabon
 

Powered by WishList Member - Membership Software