Raksasa dari Timur

Filed in Buah by on 31/10/2011

 

Pada bagian kulit yang terkena cahaya matahari muncul rona merahUsai membangun rumah, Ronny membiarkan pohon mangga itu tumbuh. Tiga tahun kemudian pohon mangga setinggi atap itu mulai berbunga yang menghasilkan 5 buah. Jumlah buah masih sedikit karena pohon baru belajar berbuah. Jumlah nutrisi juga terbatas karena usai memperbaiki rumah di Desa Gentengan, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Ronny jarang menyiram dan memupuk pohon anggota famili Anacardiaceae itu.

Penampilan buah muda yang muncul pada 2009 itu terlihat menawan: kulitnya merona merah di bagian yang terkena pancaran sinar matahari. Semakin tua buah, rona merah itu semakin pudar dan akhirnya berubah menjadi hijau kekuningan saat matang. Ia tak menyangka ukuran buah mangga yang sudah tua, mencapai 3 kali lipat mangga arumanis. Pada tangkai buah yang bergerombol, bobot per buah minimal 1,5 kg. “Bila yang muncul hanya satu buah, bobotnya mencapai 1,9 kg,” ujar Ronny.

Manis

Saat Ronny mengupas buah, kulit mangga sangat tipis. Daging buah berwarna jingga dan aroma mirip arumanis. Begitu ia menggigit, rasa manis daging buah yang sedikit juicy itu langsung tercecap. Hasil pemeriksaan dengan refraktometer – alat pengukur tingkat kemanisan – kadar gula mangga jumbo itu mencapai 17obrix. Mangifera indica itu terasa menyegarkan karena rasa manis berpadu dengan rasa sedikit masam.

“Kami sekeluarga menyukainya,” ujar Erni Prawesti, istri Ronny. Daging buahnya sangat tebal, hingga 4 cm. Daging buah tebal karena berbiji pipih. Singkat kata mangga itu memiliki seabrek kelebihan sehingga Erni mulai rajin memupuk pohon mangga itu pada 2011. Erni rutin memberikan 18 kg pupuk kandang kotoran kambing 3 bulan sekali. Ia menaburkan pupuk kandang ke sekitar pohon dengan radius 1,5 – 2 m dari pangkal batang.

Selain itu ia juga menambahkan bakteri pengurai agar pupuk kandang terurai lebih cepat sehingga tanaman lebih mudah menyerap nutrisi untuk pertumbuhan. Ibu dua anak itu kemudian menutup pupuk kandang dan dekomposer dengan tanah. Selain itu ia juga memberikan pupuk tambahan berupa 10 gram kalium nitrat (KNO3) yang dilarutkan dalam seliter air. Ia menyiramkan larutan pupuk itu ke sekeliling area perakaran seminggu sekali sampai tanaman berbunga.

Erni juga memberikan 20 ml zat pengatur tumbuh yang dilarutkan dalam 3 liter air yang ia siramkan setiap 5 hari sekali hingga maksimal 6 kali pemberian. Bila cuaca sedang panas, pemilik mangga jumbo itu menyiram pohon mangga 2 kali sehari. Hasil kerja keras itu sungguh menggembirakan, produksi meningkat hingga 50 buah. Bobot rata-rata 1,5 kg per buah. “Selain berbuah lebat, bunga juga muncul susul-menyusul,” ujar ibu dua anak itu.

Mirip emperor

Erni biasanya memanen buah saat masih mengkal, lalu memeramnya hingga 10 hari. Masa peram itu lebih lama ketimbang mangga arumanis yang matang sempurna setelah 3 hari pemeraman usai panen pada tingkat kematangan 70%. Anggota staf Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Eko Mulyanto, menduga proses pematangan mangga jumbo itu lamban lantaran berdaging buah tebal. “Masa peram lebih lama memungkinkan mangga itu tahan simpan sehingga pekebun dapat mendistribusikannya ke pasar yang lokasinya jauh,” ujar Eko. Meski hasil peraman, toh rasa mangga tetap manis.

Sayangnya, Erni dan Ronny tidak tahu-menahu jenis dan asal-usul mangga itu. Ketika mereka membeli rumah, pohon itu telah tumbuh. Sang pemilik rumah sebelumnya juga tidak pernah menceritakan jenis mangga itu yang kini diberi nama great kamaru. Menurut ketua Pusat Kajian Tanaman Buah Tropika (PKBT) IPB, Sobir PhD, dari tangkai bunga dan pola semburat merah pada buah itu memiliki kesamaan dengan mangga irwin. “Perbedaan yang muncul seperti ukuran buah lebih besar kemungkinan disebabkan oleh segregasi irwin yang dulunya berasal dari biji,” ujarnya. Hasil perbanyakan generatif itu menghasilkan generasi yang berbeda dengan induknya.

Nun di Ciseeng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Ricky Hadimulya juga mengoleksi mangga jumbo. Karakter buah muda mirip mangga jumbo asal kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu: warna buah merona merah tua. Hanya saja bentuk buah lebih lonjong. Bobot buah saat matang juga sama dengan mangga asal kabupaten bekas wilayah kerajaan Blambangan itu yakni rata-rata 1,5 kg per buah.

Ricky memperoleh mangga jumbo itu dari salah seorang kolega di Taiwan, wilayah di Asia timur, pada 2007. Dari karakter daun dan bentuk buah, mangga introduksi itu mirip dengan mangga emperor yang dijajakan di salah satu nurseri di Bangkok, Thailand. Konon mangga itu menjadi santapan favorit raja. Rasa mangga raksasa itu memang sangat manis. Pantas bila para raja menyukainya.

Hanya saja warna buah mangga yang tumbuh di kebun Ricky berbeda dengan buah yang tumbuh di negeri Gajah Putih. Di kebun Ricky warna buah merah marun; sedangkan yang di Thailand, merah menyala. “Mungkin karena tumbuh di Bogor yang bercurah hujan tinggi. Semestinya memang ditanam di daerah panas seperti Karawang,” ujar pemilik nurseri Hara itu. Kehadiran duo mangga jumbo itu memperkaya plasma nutfah mangga di tanahair. (Pranawita Karina)

 

Powered by WishList Member - Membership Software