Pupuk Hayati Percepat Panen

Filed in Topik by on 01/09/2011

 

Rohim Solihin kini percaya pupuk hayati bisa membuat panen sengon lebih cepatPemakaian pupuk hayati dapat menekan biaya produksi berkebun sengon sampai 50%Bandingkan dengan 900 pohon lain di lahan yang sama, diameter batang rata-rata 10 cm dan berdaun hijau segar. Semula pekebun di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, itu juga menolak ketika produsen menawarkan pupuk hayati untuk mengatasi sengon “sakit” itu. Namun, akhirnya ia menerima karena gratis. Pada pengujung 2005 itu, Rohim menyemprotkan pupuk hayati ke sekujur pohon. Pekebun berusia 45 tahun itu menuangkan 10—15 tutup botol pupuk hayati—setara  200—300 cc—dalam 14 liter air bersih.

Daun yang semula kuning, perlahan berubah hijau. Melihat perubahan itu, Rohim yakin bahwa pupuk hayati manjur menjadi “obat” bagi ke-100 sengonnya itu. Itulah sebabnya ia disiplin menyemprotkan pupuk hayati 4 kali setahun. Pertumbuhan tanaman anggota famili Fabaceae itu juga cepat. Pada tahun ke-4, sengon-sengon “sakit” itu sejajar dengan pertumbuhan pohon lain. Rohim bungah bukan main melihat hasil itu. Apalagi ketika seorang pengepul datang ke rumahnya untuk menawar sengon, ayah tiga anak itu makin girang.

Mirip koki

Rohim menjual sengon-sengon berumur 5 tahun berdiameter 35 cm itu kepada sang pengepul. Pengalaman Rohim, sengon mencapai diameter 35 cm lazimnya pada umur 8 tahun atau pada 2013. Artinya, Rohim memanen tiga tahun lebih cepat daripada biasanya. Pekebun kelahiran 1966 itu memanfaatkan hasil penjualan sengon untuk membangun rumah dan memperluas lahan. Aryani, pekebun sengon di desa yang sama, takjub melihat kondisi sengon-sengon di  lahan Rohim sebelum panen.

Perempuan pekebun itu membandingkan dengan kondisi sengon yang kurus di kebunnya. Begitu mengetahui Rohim memanfaatkan pupuk hayati, Aryani berujar, “Mengapa Bapak tak bilang kepada saya dari dahulu?” Pada penanaman periode berikutnya, Rohim kembali memanfaatkan pupuk hayati karena merasakan faedahnya. Apa yang menyebabkan pupuk hayati mampu mempercepat masa panen sengon? Pupuk hayati yang digunakan oleh Rohim mengandung beragam mikrob seperti Bacillus, Aspergillum, dan Aspergillus.

Kelompok Bacillus, misalnya, dapat menghasilkan fitohormon yang dapat langsung atau tidak langsung memengaruhi pertumbuhan tanaman dan bekerja sebagai fasilitator penyerapan beberapa unsur hara penting bagi tanaman. ”Mikrob itu ibarat koki yang meramu bahan organik sebelum dipakai oleh tumbuhan,” kata Ir Ali Zumashar MS dari PT Alam Lestari Maju Indonesia, produsen pupuk hayati di Bekasi, Jawa Barat.

Sejatinya peran penting pupuk hayati itu terletak pada mikroorganisme pengikat nitrogen seperti Rhizobium. Mikroorganisme itu berupaya keras untuk mengikat nitrogen dari air dan udara yang diperlukan tanaman untuk menyusun protein. Mereka mutlak ada karena pada lahan-lahan marginal seperti tempat sengon ditanam selama ini, unsur nitrogen di tanah mudah “tercuci” oleh aliran air dan lenyap oleh kegiatan jasad renik lain. Oleh karena itu sebelum memakai pupuk hayati, pekebun sengon mengandalkan asupan nitrogen dengan memakai pupuk Urea.

Menurut Prof Dr Ir Tualar Simarmata MS, guru besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, pemakaian kombinasi pupuk hayati dan pupuk organik memangkas 100% pemakaian Urea. “Kalau pemakaian pupuk hayati tunggal, dapat mengurangi Urea sebesar 75%,” kata Tualar yang menyebutkan Urea tetap diperlukan hanya pada awal pemakaian pupuk hayati sebagai starter.

Aplikasi penyemprotan pupuk hayati di batang seperti dilakukan Rohim memang  membantu percepatan tumbuh sengon. Menurut Dr Ir Etty Pratiwi MSi dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian di Bogor, beberapa jenis mikrob endofitik seperti Bacillus sp dan  Pseudomonas sp dapat menyusup ke dalam jaringan tanaman. Mereka mampu menghasilkan fitohormon seperti auksin, sitokinin, dan giberelin—seluruhnya berguna memacu pertumbuhan tanaman. Wajar bila Rohim bisa memanen sengon berdiameter 35 cm dalam waktu 5 tahun.

Hemat

Selain masa panen lebih cepat, penggunaan pupuk hayati juga mengurangi biaya produksi. Sebab, selama setahun Rohim hanya menghabiskan dua liter pupuk hayati seharga Rp100.000 per liter. Padahal, Rohim hanya menggunakannya hingga tahun ke-4. Artinya selama 5 tahun penanaman sengon, ia menghabiskan total Rp800.000. Mari bandingkan dengan budidaya sebelumnya, ketika ia menggunakan pupuk anorganik. Pada tahun pertama saja, Rohim menghabiskan 400 kg pupuk berupa campuran Urea, TSP, dan KCl dari 4 kali pemupukan.

Kebutuhan pupuk pada tahun kedua hingga kelima, lebih banyak lagi seiring dengan pertumbuhan pohon, yakni 500 kg Urea per tahun. Total jenderal biaya pemupukan mencapai Rp4,8-juta dalam 5 tahun. Padahal, untuk mencapai diameter batang 35 cm, perlu 8 tahun sehingga biaya produksi jauh lebih besar. Dengan demikian, terbukti pemanfaatkan pupuk hayati lebih hemat.

Itu yang mendorong Abu Hasan dan Ninik Rustini, pekebun sengon di Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memakai pupuk hayati sejak 2009. “Biaya produksi bisa lebih rendah 50%,” kata Ninik yang menumpangsarikan sengon dengan tebu. Ibu 3 putra itu  menyemprotkan pupuk hayati—buatan Dr Ir Wahono Hadi Susanto MS, guru besar Fakultas Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Brawijaya—yang mengandung bakteri Thiobacillus ke bibit sengon. Hasilnya batang-batang sengon yang kini berumur 14 bulan setinggi 13 m itu sudah memiliki lingkar batang 20—30 cm. Sosoknya juga kekar. “Dengan ukuran itu, saya memperkirakan pohon bisa dipanen pada umur 4 tahun,” kata Ninik.

Menurut Ali Zumashar, untuk memperoleh panen sengon yang cepat tidak sembarangan mikroorganisme bisa dipakai. “Mikrob itu diperoleh melalui proses adaptasi berulang-ulang sehingga cocok dengan kondisi lahan yang akan dipakai,” kata alumnus Teknologi Pertanian Universitas Jenderal Soedirman yang mengoleksi lebih dari 20 strain mikroba pilihan itu.

Syarat lain yang tak kalah penting adalah mikrob yang dipakai tidak boleh bersifat patogen dan sedapat mungkin tidak selektif terhadap jenis tanah tertentu. “Sebab itu lebih baik pupuk hayati mengandung lebih banyak jenis mikroba yang bekerja saling melengkapi,” ujar Pratiwi. Dengan begitu diharapkan sengon-sengon tumbuh sehat, cepat, dan segera dipanen. (Dian Adijaya S/Peliput: Tri Istianingsih & Silvi Hermawati)

 

Powered by WishList Member - Membership Software