Pulang Kandang Demi Kentang

Filed in Majalah, Sayuran by on 14/10/2019

Pembibitan kentang G0 sistem aeroponik dalam screenhouse.

Tamat kuliah, Agus Wibowo memilih pulang kampung dan membibitkan kentang.

Kentang bukan barang baru bagi Agus Wibowo, S.P. Bersama komoditas hortikultura lain, kentang menyumbang biaya pendidikannya di Jurusan Agroteknologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah.

Agus Wibowo mantap bertani bahkan sebelum lulus kuliah.

“Sebelum berangkat ke Surakarta, orang tua mewanti-wanti agar saya kembali ke desa setamat kuliah,” katanya. Pria 25 tahun itu menurut, ia pulang dengan gelar sarjana pertanian. Ia memanfaatkan masa kuliah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya. Agus sadar masalah utama agribisnis adalah rantai tata niaga yang menempatkan petani di tingkat terbawah. “Solusinya meningkatkan nilai tawar petani dengan berbagai cara,” kata ayah 1 anak itu.

Kualitas teruji

Untuk mempertahankan produktivitas dan mencegah hawar daun petani di Ngablak berupaya mendatangkan bibit berkualitas dari daerah lain, antara lain Kabupaten Bandung, Jawa Barat, atau Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Untuk memutus ketergantungan terhadap bibit dari daerah lain, petani kelahiran Magelang, 15 Agustus 1994 itu mampu memproduksi bibit kentang G0 sendiri secara aeroponik sejak 2017. Maklum, pembibitan kentang G0 wajib menggunakan rumah jaring (screenhouse) di media tanam steril. Ukuran rumah jaring 8 m x 45 m.

“Rumah jaring menihilkan potensi penularan hama atau penyakit dan tidak ada peluang penyerbukan silang dari kentang lain,” kata sulung dari dua bersaudara itu. Selain itu sistem aeroponik meminimalkan peluang terjangkit penyakit tular tanah karena bibit tumbuh di udara. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah mentahbiskan bibit kentang itu dengan sertifikat kompetensi tertanggal 3 Mei 2018.

Rumah jaring itu mampu menghasilkan 60.000 bibit kentang setiap 70 hari. Harga kentang G0 Rp2.000 per benih sehingga omzetnya Rp120 juta per 70 hari. Kelebihan kentang G0 produksi Agus terbukti pada 2017. Saat itu ia menanam 30.000 bibit G0 di lahan sewaan seluas 1 ha dan memanen 20 ton 70 hari kemudian. Padahal, pada waktu bersamaan, 80% tanaman kentang petani lain di Kecamatan Ngablak ambyar terjangkit Phytophthora infestans.

Pencapaian itu menghapus keraguan sebagian petani lain terhadap kualitas bibit produksinya. Sebelumnya Agus juga lolos dari lubang jarum ketika menanam kentang di lahan 5.000 m² milik neneknya. Modal penanaman Rp60 juta berasal dari teman-temannya di kampus. Ia menganggarkan Rp48 juta untuk belanja bibit dari suatu daerah. Namun, pembibit ingkar janji hanya mengirim sekali. Itu pun sebagian busuk sehingga tidak bisa ditanam. Melalui penyortiran yang melelahkan, terkumpul 1 ton bibit. Bibit itulah yang ditanam Agus.

Kentang asal bibit G0 lebih produktif dan tahan penyakit.

Agus memanen 10 ton. Kala itu pengepul membeli kentangnya Rp12.000—Rp14.000 per kg sehingga meraih omzet Rp120 juta. Untungnya cuaca mendukung dan ia mendapat harga bagus. Sejak itu namanya melambung sebagai pembibit sekaligus petani terpercaya. Menghimpun modal menjadi mudah lewat program committed farmer (petani terpercaya). Sebagai bendera resmi, Agus membentuk kelompok tani Agro Lestari Merbabu yang kini beranggota 20 petani berusia 30—40 tahun.

Raih penghargaan

Keripik kentang buatan Agro Lestari Merbabu.

Agus juga merintis pembuatan keripik kentang sebagai oleh-oleh khas Ngablak. Maklum, selain sohor sebagai basecamp pendakian Gunung Merbabu, di daerahnya muncul objek wisata baru yang menarik pelancong. Merekalah target pasar keripik bermerek Pikebu—akronim dari keripik kentang merbabu—itu. Walau baru seumur jagung, produksi keripik itu menyerap 10 tenaga kerja yang berproduksi 2 kali sepekan.

Setiap proses memerlukan 50 kg kentang. “Itu baru sedikit sekali dari total produksi kentang di Ngablak yang mencapai ratusan ton tiap tahun,” katanya. Walau demikian, idenya itu mengkaryakan pemuda di desanya sehingga mereka memperoleh tambahan penghasilan selain bertani. Maklum, pada tengah hari, petani biasanya mempunyai waktu luang.

Kesuksesan Agus merangkai produksi kentang sejak bibit hingga olahan itu membuatnya diganjar peringkat kedua Kategori Mahasiswa Wirausaha Muda Mandiri pada 2018. April 2019, ia terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Entrepreneur Organization Global Student Entrepreneur Awards di Makau, Tiongkok. Agus Wibowo membuktikan bahwa pertanian layak ditekuni oleh kaum muda dan mampu memberikan hasil memuaskan. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software