Puisi Dalam Sebotol Mulberi

Filed in Buah by on 04/06/2010 0 Comments

Aroma wine yang menguar dari gelas mungil itu benar-benar menggoda Kim. Begitu cairan ungu memasuki rongga mulutnya, sensasi rasa manis seolah menempel di lidah bagian tepi. Sedikit rasa pahit pun tercecap di lidah belakang. ‘Rasanya tak kalah dengan wine anggur. Bikin lidah ketagihan untuk minum berkali-kali,’ ungkap pengusaha yang bergelut di bidang elektronik itu.

Wine mulberi yang dinikmati Kim bukan berasal dari Perancis yang sohor sebagai gudang wine berkualitas. Minuman itu berasal dari sebuah kebun di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Edik Yuhanda, empunya kebun, mengolah buah anggota keluarga Moraceae itu menjadi wine sejak 2 tahun silam.

Buah kerabat murbei Morus alba itu difermentasi dengan ragi Saccharomyces sp menjadi wine. Mirip dengan wine anekabuah dan rempah – seperti pisang, stroberi, jambu mete, jahe, dan rosella – yang diolah Gek Ayu Rusmini, pemilik Bali Wein di Kapal, Bali (baca: Baliwein Metamorfosa Buah Menjadi Wine, Trubus Gold Edition-2 Desember 2007). Edik menanam dan mengolah black mulberrry Morus nigra.

Dua tahap

Menurut Tatang Halim, pemilik toko buah Golden Agro, keluarga beri jarang dikembangkan pekebun di tanahair – kecuali stroberi – karena dianggap kurang komersial. ‘Kebanyakan buah segar yang dijual masih impor. Satu-satunya kebun komersial beri-berian dimiliki orang Belanda,’ kata Tatang. Beda dengan stroberi yang banyak dikebunkan di dataran tinggi seperti Ciwidey (Jawa Barat) dan Banjarnegara (Jawa Tengah).

Agar mulberi menghasilkan wine berkualitas Edik memetik buah dengan tingkat kematangan 70 – 90%. Cirinya warna buah sudah kehitaman. Buah lantas dicuci dengan air mengalir hingga bersih, lalu dikeringanginkan. Selanjutnya buah dihancurkan dan disaring untuk memperoleh sari buah. Sari buah lalu ditambahkan gula secukupnya.

Campuran itulah yang difermentasi  dengan Saccharomyces sp dan dibiarkan dalam wadah tertutup selama 1 bulan. Temperatur penyimpanan diatur pada suhu 18 – 200C dan terlindung sinar matahari langsung. Setelah 1 bulan, larutan fermentasi disaring kembali untuk memisahkan endapan dan saripati bakalan wine. Cairan yang sudah bersih dari endapan  itu disterilisasi pada suhu 50 – 600C. Selanjutnya dilakukan fermentasi sekunder dan cairan dibiarkan dalam wadah tertutup selama 6 bulan.

Menurut Edik dengan total fermentasi 8 bulan itu dihasilkan wine mulberi dengan aroma lembut, seperti disesap Kim. Kadar alkohol 18%. Selain wine mulberi, Edik juga memproduksi sparkling wine mulberi. Cairan sparkling wine lebih kental dan manis – mirip sirup buah. Produk yang dikemas dalam botol berukuran 650 ml itu berkadar alkohol 7,8 – 8%. Sparkling wine mulberri lezat dinikmati setelah diencerkan air sebanyak 30 – 40% dalam kondisi dingin. Jika sparkling wine mulberi langsung dikonsumsi, rasanya terlalu manis sehingga agak enek.

Sebotol sparkling wine 650 ml membutuhkan 2 kg segar buah mulberi. Sementara 1 liter wine berkadar alkohol 18% dihasilkan dari 3 – 4  kg buah kerabat sukun itu. Respon pasar terhadap produk wine mulberi Edik luar biasa. Tengok saja permintaan sebanyak 5.000 sparkling wine per bulan dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Itu belum termasuk order dari penikmat wine asal Korea sebanyak1.000 botol per bulan. Sayang, Edik belum melepas secara resmi wine-nya ke pasaran. ‘Masih menunggu izin dari Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (POM),’ ungkap Edik.

Nilai jual

Menurut Dr Rifda Naufalin MSi, dosen teknologi pangan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, di Purwokerto, Jawa Tengah olahan mulberi menjadi wine merupakan siasat menghadapi keterbatasan daya simpan buah segar. ‘Mulberi segar hanya tahan dipajang 1 – 2 hari tanpa pendingin,’ ungkap Rifda. Prof Dr Ir Maman Haeruman Karmana MS, pengamat pertanian dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran Bandung, mengatakan diversifikasi produk seperti olahan wine mulberi ala Edik merupakan cara meningkatkan nilai jual produk pertanian.

Dari pembuatan wine itu Edik juga mengolah ampas mulberi menjadi selai. Itu juga dilakoni Drs Supriatin Budiman MM, pemilik Vin’s Berry Park, yang mengolah mulberi menjadi selai. Bedanya Supriatin mengolah buah segar yang ditanam di Cisarua, Lembang, sejak 2005. Kini, puisi dalam botol bisa berupa wine atau selai. (Faiz Yajri)

 

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software