Produksi Naik 2 Kali

Filed in Sayuran by on 01/02/2013 0 Comments
Dr Ir Pande Ketut Diah Kencana MS peloporikebun bambu tabah secara intensif di Bali

Dr Ir Pande Ketut Diah Kencana MS pelopori
kebun bambu tabah secara intensif di Bali

Dengan budidaya intensif produktivitas rebung bambu tabah mencapai 3 ton per ha.

Tigapuluh rumpun bambu itu tumbuh terpencar di lahan 6.000 m2 milik Ni Made Lekir. Lekir menanam bambu tabah Gigantochloa nigrocilliata berumur 3-7 tahun itu sekadar sebagai pembatas lahan. Dari rumpun-rumpun itu sesekali Lekir menuai rebung bambu lalu menjual ke pasar. Ukurannya tidak seragam, tekstur keras, berwarna kuning, dan berongga sehingga rebung sulit diolah. Harganya hanya Rp800 per rebung berbobot sekitar 800 g.

Namun, itu cerita tujuh tahun silam. Kini Lekir bersama 800 anggota kelompok tani lainnya di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, justru mengelola 60 ha kebun bambu tabah. Produktivitas mencapai 3 ton rebung per ha atau total 180 ton per tahun. Kualitas rebung pun terkatrol: warna putih bersih kekuningan, mulus, tidak berongga, dan tekstur lembut. Dengan kondisi seperti itu pembeli berani membeli Rp2.000 per kg.

Bibit setek

Kondisi berubah setelah pada 2009 ia bermitra dengan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Bali, Dr Ir Pande Ketut Diah Kencana MS. Menurut Diah kunci pertama budidaya bambu tabah secara intensif ialah bibit. “Persiapan bibit sebaiknya dilakukan 3 bulan sebelum penanaman agar jumlah bibit mencukupi,” kata Diah.

Diah memilih perbanyakan dari setek bambu berumur 1-1,5 tahun berbatang hijau mengilap dan licin. Bahan setek mesti bebas serangan lumut kerang, akar pada buku bambu belum keluar, dan tidak sedang berbunga. Para pekebun lalu memotong-motong bahan setek. Mereka segera menanam calon bibit setek itu. Jika pekebun menunda penanaman, bungkus batang dengan karung goni basah. Masa penyimpanan maksimal selama 24 jam.

Pekebun menanam batang calon bibit setek langsung di tanah atau di polibag berukuran 15-30 cm. “Biasanya penanaman di polibag untuk persiapan bibit sembari pekebun menyiapkan lahan, untuk dijual kembali, atau untuk dibawa ke tempat lain,” kata Diah. Jika hendak ditanam langsung ke tanah dapat melakukan seperti cara Lekir.

Beda arah

Ia membuat guludan lalu memasang jaring peneduh berkerapatan 70-80% untuk menghindari paparan sinar matahari langsung ke bibit. Saat menanam, arah tumbuh mata tunas pertama diatur menghadap ke kiri sementara tunas kedua diatur mengarah ke kanan atau sebaliknya.

Selanjutnya lakukan perawatan pascatanam yakni penyiraman rutin dengan mengalirkan air di parit antar guludan. Setiap 3 minggu Lekir menyiangi gulma yang tumbuh di guludan. Tiga bulan kemudian batang setek mulai bertunas dan siap tanam ke lahan. Lekir juga menanam di polibag menggunakan media tanam campuran humus, pasir, dan kompos dengan perbandingan 1:1:1.

Penanaman di lahan menggunakan jarak tanam 4 m x 5 m atau 5 m x 5 m. Tujuannya agar tajuk bambu tidak saling bertautan. Biarkan lubang tanam terbuka selama 2-4 minggu agar terkena sinar matahari. “Tujuannya membunuh bibit penyakit dan hama yang tersisa,” ujar Diah. Ke dalam lubang Diah menyarankan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran 5-10 g per lubang untuk menghalau hama ulat tanah.

Tanam bibit pada sore hari dan di awal penghujan. Dengan demikian risiko bibit layu akibat paparan sinar matahari berkurang. Pekebun memupuk bambu tabah dengan kotoran sapi sebanyak 2 kali dalam setahun menjelang dan sesudah musim penghujan untuk memacu pertumbuhan.

Mereka membuat parit sedalam 20 cm mengelilingi rumpun bambu dengan radius 130-150 cm dari pusat rumpun. Selanjutnya mereka membenamkan 1,5-2,5 kg pupuk kandang per pemupukan lalu menutup kembali lubang. Pekebun juga mengaplikasikan pestisida berbahan aktif propineb dengan dosis 100-200 g per l air jika terdapat serangan cendawan upas Upasia salmonicolor yang menghambat pertumbuhan.

Bumbun

Perawatan lain, pemangkasan agar tidak terbentuk cabang dan ranting. “Pembentukan cabang dan ranting akan menguras fotosintat (zat makanan hasil fotosintesis yang dimanfaatkan tanaman untuk tumbuh atau disimpan, red.),” tutur Diah. Padahal, fotosintat justru diperlukan untuk membentuk dan memperbesar rebung. Dengan pemangkasan, batang utama memperoleh pasokan nutrisi optimal dan mampu menghasilkan rebung berkualitas. Selain itu lakukan pembumbunan

Dengan perawatan intensif, dalam 3 tahun setiap rumpun berisi minimal 30 batang bambu. Pada saat itu pekebun mulai bisa memanen rebung. Diah menghitung produktivitas mencapai 3 ton rebung per ha. Tanpa budidaya intensif hanya 1-1,5 ton per ha. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

519-Feb-2013-38-3

519-Feb-2013-38-4

Keterangan Foto :

  1. Kebun bambu tabah intensif seluas 60 hektar sejak 2009
  2. Dr Ir Pande Ketut Diah Kencana MS pelopori kebun bambu tabah secara intensif di Bali
 

Powered by WishList Member - Membership Software