Produksi Getah Melimpah

Filed in Perkebunan by on 01/02/2013 0 Comments

Klon karet unggul dengan produktivitas tahunan 2,5 ton lateks per ha.

Adi Darmo Sutrisno mengelola 4 ha kebun produktif dengan populasi 550 pohon per ha atau total 2.200 pohon yang kini berumur 44 tahun. Pekebun karet di Desa Sukamaju, Kecamatan Abungsemuli, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung, itu menuai rata-rata 1,5–2,4 ton lateks per ha setiap tahun. Total jenderal produksi lateks dari lahan 4 ha mencapai 6-9,6 ton per tahun. Lateks adalah getah kental mirip susu hasil sadapan pohon Hevea brasiliensis.

 

Saat ini harga lateks di pasaran di Lampung berkisar Rp12.500-Rp13.000 per kg. Omzet Sutrisno dari penjualan 8 ton lateks mencapai Rp104-juta. Produksi itu bakal meningkat kalau saja ia menanam klon karet baru hasil persilangan Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Medan, Provinsi Sumatera Utara. Klon generasi keempat itu mampu menghasilkan 2,5 ton lateks per ha pada puncak masa produktif, yaitu sekitar umur 10-25 tahun pascatanam.

Klon unggul

Balai Penelitian Karet Sungei Putih merilis 4 klon unggulan, yaitu IRR-112, IRR-118, IRR-104, dan IRR-5 pada 2007. Produktivitas klon-klon itu berturut-turut 2.195 kg, 2.011 kg, 1.978 kg, dan 1.609 kg per ha per tahun. Itu hasil rata-rata produksi saat uji coba selama 5 tahun. Karet berproduksi perdana ketika berumur 4 tahun. Rata-rata produksi itu diambil sejak pohon panen perdana hingga kelima saat berumur 9 tahun. Bandingkan dengan produktivitas klon generasi pertama hanya 0,8-1 ton dan generasi kedua 1-2 ton per ha per tahun.

Adapun produktivitas generasi ketiga seperti BPM-107 yang hanya 1.747 kg atau BPM-24 (1.788 kg) per ha per tahun. Klon-klon generasi ketiga memang cukup produktif. Namun, klon yang merupakan anjuran pada 2006 – 2010 itu tak seadaptif klon generasi keempat (IRR-112, IRR-118, IRR-104, dan IRR-5). Pengujian agroklimat membuktikan bahwa klon IRR-112 sesuai di ketinggian 300-600 meter di atas permukaan laut. Adapun IRR-118 cocok di tempat kering dengan curah hujan 1.500–2.000 mm per tahun, berangin kuat, atau berbukit-bukit.

Sementara klon IRR-112 adaptif di daerah bercurah hujan rendah dan tinggi, 2.500–3.000 mm per tahun. Jenis IRR-104 tahan terhadap angin sampai 30–50 km/jam dan cocok ditanam di daerah bergelombang dan berbukit. Klon IRR-5 kurang sesuai ditanam di daerah kering bercurah hujan 1.500–2.000 mm per tahun. Seiring dengan penambahan umur pohon, produksi karet pun meningkat. Contoh produksi klon BPM 24 pada tahun ke-10 panen (umur pohon 14 tahun) mencapai 20.423 kg per ha (rata-rata 2.042 kg per ha setahun).

Menurut Aidi Daslin Sagala, ahli utama pemuliaan di Balai Penelitian Karet Sungei Putih, produktivitas keempat klon unggul itu diprediksi lebih dari 2,5 ton per ha setahun saat masa produktif (10-25 tahun). Produktivitas itu lebih tinggi dibanding klon pendatang asal Malaysia-PB 260 dan PB 340-hanya menghasilkan masing-masing 2.129 dan 2.180 kg lateks per ha per tahun. Produktivitas pendatang lain-klon introduksi RRIC 100 asal Srilanka-justru lebih rendah: 1.997 kg per ha per tahun.

Aidi Daslin Sagala mengatakan terdapat tiga jenis karet., yakni penghasil lateks; penghasil lateks dan kayu; serta penghasil kayu. Klon IRR-104 tergolong penghasil lateks, sedangkan IRR- 112, IRR-118, dan IRR-5 penghasil lateks dan kayu. Pekebun yang membudidayakan ketiga klon unggul itu (IRR-112, IRR-118, dan IRR-5) pada akhir umur produksi, bakal memperoleh keuntungan dari penjualan kayu. Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera, produsen kayu lapis di Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, kualitas kayu karet terbilang bagus sehingga cocok untuk bahan core atau pengisi kayu lapis.

Tahan penyakit

Menurut Aidi Daslin IRR-112 merupakan hasil persilangan antara jenis IAN-873 asal Brasil dan RRIC-110 asal Srilanka. Sementara IRR-118 merupakan hasil persilangan jenis lokal LCB-1320 dan FX-2784 asal Brasil, IRR-104 hasil persilangan jeni lokal BPM-01 dan RRIC-100 asal Srilanka. Klon IRR-5 hasil seleksi indukan dari jenis PBIG Malaysia. Keempat jenis itu hasil penelitian Aidi Daslin Sagala dan Sekar Woelan, ahli peneliti utama pemuliaan Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Medan.

Keempatnya klon itu toleran berbagai penyakit, seperti penyakit akar putih. Cendawan Rigidoporus lignosus atau sering disebut Fomes lignosus, penyebab penyakit akar putih, mampu mematikan pohon dalam hitungan bulan. Pasalnya cendawan menyerang jaringan akar. Tanpa pengendalian, penyakit itu cepat menular. Ciri pohon terserang antara lain daunnya kuning kemerahan, menggulung, dan tampak kusam. Pohon terserang pun berusaha memunculkan generasi penerus sehingga mendadak berbunga dan berbuah sebelum akhirnya mati. Selama terserang, produksi getah terhenti.

Selain akar putih, keempat klon itu juga resisten terhadap serangan penyakit lain seperti gugur daun. Penyebab gugur daun adalah serangan cendawan Oidium sp, Colletotrichum sp, Corynespora sp, serta cendawan upas Upasia salmonicolor. Menurut Lestari Admojo, anggota staf ahli pemuliaan di Balai Penelitian Getas, secara umum jenis klon terbaru termasuk dalam moderat, moderat tahan, hingga tahan penyakit. Moderat artinya tanaman masih mungkin terserang, tetapi mampu bertahan sehingga penurunan produksi tidak signifikan.

Sementara moderat tahan berarti serangan penyakit tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi. Namun, tetap perlu dilakukan pengendalian agar penyakit tidak mewabah sehingga tidak mengganggu produksi. Dengan kelebihan itu pantas jika pekebun di berbagai sentra berminat mengebunkan klon unggul. “Permintaan paling banyak datang dari daerah Jawa Barat dan Kalimantan Selatan,” kata Arjo Sutoyo, bagian pemasaran di Balai Penelitian Karet Getas, Salatiga, Provinsi Jawa Tengah.

Klon generasi keempat itu diharapkan dapat mendongkrak produktivitas lateks nasional. Apalagi perkebunan karet Indonesia terluas di dunia, mencapai 3,45-juta ha. Berdasarkan data Kementerian Pertanian produksi karet Indonesia otabene luasan tanaman karetnya hanya separuh dari luasan tanaman karet Indonesia,” kata Kepala Balai Penelitian Karet Getas, Hananto Hadi. Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia pada 2010 luas lahan karet di Thailand  hanya 2,68-juta ha atau terluas kedua dunia dengan produksi 3,07-juta ton.

Pemerintah menetapkan sasaran pengembangan produksi karet alam sebesar 4-juta ton pada 2025. Peningkatan produksi sebesar 35,25% dibanding produksi pada 2010. Sasaran itu tercapai bila minimal 85% areal perkebunan karet rakyat setara 2,48 ha menggunakan klon unggul yang dianjurkan dari total luasan perkebunan rakyat 2,922 juta ha. Oleh karena itu kehadiran jenis produktif itu amat penting demi mencapai sasaran itu. (Rona Mas’ud)


Keterangan Foto :

  1. Henanto Hadi, Kepala Balai Penelitian Karet Getas
  2. Okulasi mata tidur, hasil Balai Penelitian Karet Getas
  3. (dari atas) Jenis klon IRR 112, 118, dan 220
 

Powered by WishList Member - Membership Software