Praktis Setelah Berubah Serbuk

Filed in Perkebunan by on 05/10/2010 0 Comments

 

Nugraheni memang tak perlu mengolah lidah buaya segar, tetapi cukup menuangkan serbuk minuman Aloe vera dari bungkus sachet, menambahkan air hangat, mengaduk, lalu menghidangkan. Cara itu sangat praktis sehingga menjadi nilai tambah produk minuman. Selama ini olahan tanaman anggota famili Liliaceae itu di pasaran berupa nata, koktail, atau jeli yang bertahan beberapa bulan. PT Avera Jaya di Pontianak, Kalimantan Barat, misalnya, membuat koktail lidah buaya siap konsumsi. Ita Yuniawati, staf pemasaran, mengatakan minuman dalam kemasan plastik itu, ‘Rasanya netral, bisa diminum langsung atau dicampur dengan sirup, kelapa muda, atau buah segar.’

Olahan lidah buaya dalam bentuk serbuk memang terbilang baru pada saat ini. Perusahaan yang sukses mengolah lidah buaya menjadi serbuk adalah Biofarindo alias PT Biofarmaka Indonesia – badan usaha di bawah Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor. Biofarindo mengemas serbuk lidah buaya instan dalam sachet sehingga praktis disajikan kapan pun. Selain itu, daya simpan mencapai 6 – 12 bulan karena proses dan kemasan higienis. ‘Produk sebelumnya paling lama cuma 3 bulan,’ kata Agus Fachrudin, direktur Biofarindo.

Jenis khusus

Serbuk lidah buaya lebih tahan lama karena dikemas khusus. Menurut Agus pengemasan yang tidak steril menyebabkan cendawan mudah tumbuh. Spora atau benih cendawan seukuran debu yang terbawa udara pun hinggap sehingga produk rusak sebelum waktu kedaluwarsa.

Ir Sutrisno Koswara MSi, ahli nutrisi dari Departemen Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, mengatakan perbaikan kemasan dan citarasa menyebabkan masyarakat semakin menggemari olahan lidah buaya. Ita Yuniawati mengatakan pengemasan higienis menjadikan produk tahan hingga 1 tahun. Syaratnya, kemasan utuh, terhindar dari sinar matahari langsung, dan tidak ditempatkan dekat benda berbau tajam.

Agus mengatakan bahwa tidak semua jenis lidah buaya layak sebagai bahan baku serbuk instan. Syaratnya daun berdaging tebal dan besar. Jenis yang ia olah adalah Aloe vera chinensis yang banyak tumbuh di Kalimantan Barat. Pekebun di beberapa sentra seperti Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga menanam spesies itu. Cirinya, pelepah lebar (5 – 7 cm) dan panjang (25 – 35 cm), berbintik putih, serta berdaging tebal (2 cm). Jika produsen mengupas kulit daun, tampak daging hijau basah transparan atau bening dan hambar saat dijilat.

Bandingkan dengan lidah buaya yang banyak tumbuh di pekarangan atau halaman rumah hobiis-hobiis di Jawa, berukuran sepertiganya, daging tipis, dan pahit. Jenis itu tidak cocok sebagai bahan baku serbuk. Agus mengatakan umur tanaman ideal sebagai bahan baku serbuk adalah 8 – 9 bulan pascatanam.

Cokelat rusak

Lidah buaya dikupas, dicuci bersih, dan direndam untuk mencegah pencokelatan. Langkah berikutnya daging lidah buaya yang kenyal transparan itu dipanaskan pada suhu 40 – 60oC selama 5 – 15 menit. Tujuannya untuk menonaktifkan enzim peroksidase dan katalase penyebab pencokelatan. Maklum, bukan Cuma merusak tampilan, pencokelatan juga mengurangi nilai gizi karena merusak asam amino. Usai pemanasan, daging pelepah diblender sampai menyerupai jeli. Jeli disaring sehingga menghasilkan cairan kental. Seliter cairan itu berasal dari 2,5 – 3,3 kg pelepah segar, tergantung umur dan kualitas pelepah.

Di industri kecil, proses berikutnya adalah penambahan citarasa atau pewarnaan, lalu pengemasan. Makanya produk yang dihasilkan masih ‘basah’, berbentuk nata, sirop, atau koktail. Pada tahap itu Biofarindo memberi tambahan gula pasir pada ekstrak lidah buaya. Jumlah gula bervariasi, 20 – 70%, tergantung kualitas pelepah. Secara alami lidah buaya mengandung berbagai jenis gula seperti glukosa, galaktosa, atau arabinosa. Namun, kadarnya bervariasi tergantung kualitas pelepah.

Biofarindo lalu memproses lagi dengan perangkat ekstraktor soxhlet antara lain untuk mengurangi kadar air. Semakin tua umur tanaman, kadar air dalam pelepah semakin rendah. Kadar air tinggi tidak berguna lantaran air bakal dipisahkan melalui proses pengeringan. Ekstraktor menghasilkan serbuk siap kemas dalam lapisan rangkap aluminium dan plastik.

Produk itulah yang dipasarkan melalui agen atau jaringan mitra. Dengan peralatan modern, pengolahan dari pelepah pascakupas sampai menjadi produk dalam kemasan Cuma perlu waktu 4 jam. Untuk produsen rumahtangga dengan peralatan seadanya, produksi perlu waktu 3 – 6 jam sampai menghasilkan produk basah siap kemas. Setelah bersalinrupa menjadi bentuk serbuk, konsumen lebih mudah untuk memperoleh khasiat lidah buaya seperti dilakukan Nugraheni, penggemar lidah buaya di Bogor, Jawa Barat. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software