Potret Pasar Petai

Filed in Majalah, Sayuran by on 06/03/2021

Pasar induk Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) menyerap 2—3 truk petai per hari saat musim panen.

Pasar domestik dan ekspor menghendaki petai utuh dan kupas. Permintaan sepanjang tahun.

Petai wajib ada setiap hari. Itulah mengapa pemasok sayuran dan buah di Pasar Induk Jakabaring Kota Palembang, Sumatera Selatan, Novi Rustiana mengupayakan segala cara untuk memperoleh petai sepanjang tahun. Bukan untuk sajian di meja makannya, tetapi melayani permintaan konsumen. Setiap hari Novi menerima kiriman berkarung-karung petai dari berbagai daerah di Pulau Sumatera dan Jawa. Ia mengatakan, “Petai harus ada walaupun stok kosong atau sedang tidak musim.”

Novi Rustiana memasok petai di Pasar Induk Jakabaring, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Novi bergabung di komunitas petai lintas daerah untuk mengamankan pasokan. Perempuan yang berniaga petai turun-temurun dari sang kakek itu mendatangkan 200—300 empong sehari saat panen raya pada Maret—Mei. Satu empong terdiri atas 100 papan—sebutan untuk buah petai yang berbentuk mirip papan. Praktis sebulan ia menjual sedikitnya 6.000 empong.

Petai jawa

Jumlah 6.000 empong atau 600.000 papan itu untuk memasok para pedagang di Palembang yang tersebar di Pasar Induk Jakabaring, Pasar 26 Ilir, dan Pasar KM 5. Harga eceran petai utuh di Pasar Induk Jakabaring, Rp5.000 per papan. “Harga eceran di pasar yang lebih kecil bisa sampai Rp10.000 per papan,” kata Novi. Ia mengantongi laba bersih Rp500.000 per hari setara Rp15 juta setiap bulan dari perniagaan petai.

Keruan saja omzet Novi bakal menggelembung karena menyediakan petai kupas. Novi memasok sekitar 100 kuintal Parkia speciosa kupas setiap hari untuk Pasar Induk Jakabaring saja. Saat panen raya Novi mampu memasok 300 ton petai kupas per bulan. Menurut perempuan 27 tahun itu harga petai kupas Rp140.000—Rp200.000 per kg. Satu empong menghasilkan 2 kg petai kupas bergantung sedikit banyaknya biji.

Satu papan memiliki 3—4 biji. Khusus petai kupas, Novi menggunakan petai asal Jawa yang bertekstur lebih padat dengan kadar air rendah. Menurut Novi pemilik pohon petai di Jawa lebih telaten merawat pohon. Sebaliknya kebanyakan pohon petai di Sumatera kurang terurus. Lokasinya biasanya di hutan. Meski ada yang tumbuh di sekitar permukiman, warga cendrung kurang merawat. Pemilik pohon atau pengepul hanya mendatangi pohon saat panen.

Satu empong menghasilkan minimal 2 kg petai kupas.

Kadang-kadang permintaan petai kupas juga berasal dari luar kota di antaranya Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Denpasar (Bali), dan Jakarta. Bahkan, beberapa kali Novi memasok pasar ekspor. Pengiriman petai ekspor terutama saat panen raya ketika pasokan melimpah. Permintaan ekspor biji tanaman anggota famili Fabaceae itu mencapai 2 ton per pekan.

Pengiriman tiga kali sepekan ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Tiongkok. Selain itu Taiwan juga mulai meminta pasokan sejak 2020. “Permintaan dari Taiwan karena ada tenaga kerja Indonesia di sana. Sambil bekerja mereka juga memasok toko atau restoran yang menyediakan makanan Indonesia mulai dari rempah, cabai, tempe, jengkol, dan petai,” kata Novi.

Budidaya petai belum intensif dan berskala komersial.

Petai beku

Novi mengemas per ons untuk permintaan Malaysia. Brunei meminta kemasan 5 kg. Taiwan malah minta dibekukan terlebih dulu pada suhu 15ºC. Setiap negara mempunyai karakteristik permintaan berbeda. Sebetulnya konsumen mancanegara menginginkan pasokan kontinu sepanjang tahun. Namun, Novi belum menyanggupi karena pasokan menipis di luar musim panen raya.

Harga di mancanegara cenderung lebih rendah daripada harga di pasar domestik. Thailand memang menjadi pesaing petai asal Indonesia. Pada awal tahun Thailand sedang tak musim panen. Kebetulan pada 2020 panen raya Thailand bersamaan dengan daerah sentra di Indonesia sehingga harga anjlok.

Petai Thailand lebih murah karena jarak pengiriman lebih dekat. Harganya berkisar Rp30.000—Rp50.000 per kg. “Kami dapat dari petani seharga Rp30.000 per kg. Itu belum termasuk biaya kupas, pengemasan, dan pengiriman,” kata Novi. Ada pula pembeli mancanegara menginginkan petai kupas beku. Meski demikian, ekspor tetap menggiurkan lantaran kuantitasnya cukup besar.

Ia biasanya mengutip laba Rp1.000 per kg. Laba Novi dari pasar ekspor mencapai Rp8 juta sebulan selama musim panen raya. Kendala berbisnis petai berupa langkanya pasokan di luar panen raya. Permintaan luar negeri belum terpenuhi karena terkendala musim. Novi Rustiana kesulitan memperoleh pasokan petai setelah Mei. Ia sempat mengambil sejenis petai dari Kota Padang, Sumatera Barat, berjuluk petai alai.

Menurut Novi petai alai berbeda dengan petai pada umumnya. Bentuk biji hampir persegi dengan rasa agak pahit dan tidak ada aroma khas petai. “Karena kosong tidak ada pasokan sama sekali, terpaksa kami jual petai alai juga. Syukurnya laku keras dengan harga cukup tinggi,” kata Novi. Namun setelah pasokan petai mulai ada, petai alai tak laku.

“Pasar dalam negeri saja harga masih tinggi,” kata Novi. Kalau pasokan untuk dalam negeri sudah berlebih barulah ia lempar untuk ekspor. Biaya ekspor cukup besar untuk pengemasan, karantina, dan seterusnya.

 

Hasil pekarangan

Menurut Novi panen petai serempak pada Maret. “Seluruh daerah serempak panen raya pada bulan Maret,” kata perempuan berusia 27 tahun itu. Menurut Novi pada pertengahan hingga akhir tahun pasokan banyak berasal dari Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada Januari pasokan dari Pulau Jawa biasanya berkurang tetapi meningkat kembali pada Maret.

Masyarakat mengolah petai menjadi beragam menu makanan.

Pasokan dari Lampung mulai ada pada Januari dan terbanyak sekitar bulan Maret. Setelah Maret itulah pasokan mulai sulit terutama menjelang Idul Fitri. Saat tak ada pasokan dari Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Novi mengambil petai dari Kota Medan, Padang, Jambi, dan Pulau Bangka. Petai-petai itu berasal dari pohon di pekarangan. Harap mafhum, hingga kini masyarakat belum membudidayakan petai secara intensif.

Pedagang petai di Jakarta Timur, Candra Hendrianto, hanya berjualan pada September—Maret. Candra memperoleh pasokan dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Puncak panen di Boyolali sekitar November—Desember. Saat itu, ia dapat menjual 20—30 empong petai utuh per hari. Selain bulan itu, setidaknya 10 empong laku terjual per hari.
Menjelang akhir 2020, harga petai dari pengepul atau pemilik pohon sekitar Rp300.000 per empong. Candra mengatakan harga petai pada 2020 tergolong stabil pada Rp250.000—Rp300.000 per empong. Candra menjualnya langsung pada konsumen akhir. Harga jual Rp5.000 per papan. Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas), Soekam Parwadi, menyebutkan prospek bisnis petai menggiurkan.

 

Belum dikebunkan

Saat musim panen, pasar induk Paskomnas di Kota Tangerang menyerap 2—3 truk petai per hari. Itu berlangsung pada Februari—Maret. Satu truk memuat 6 ton petai segar. Daerah pemasok terbesar antara lain Provinsi Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Perniagaan petai masih bergantung musim panen. “Budidaya petai masih dilakukan petani secara tradisional. Belum ada petai modern yang diatur pembuahan,” kata Soekam.

Permintaan ekspor petai kupas beku.

Thailand selangkah lebih maju dengan mengebunkan tanaman suku polong-polongan itu dalam skala besar. Padahal, jika ada yang mengebunkan secara komersial, menurut Soekam pasar siap menampung berapa pun kuantitasnya. Selain untuk domestik, pasar ekspor juga meminta pasokan. Bagi pemilik pohon, petai juga memberi rezeki seperti pengalaman Parama Hasna Aziz di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Ia memiliki dua pohon petai yang tumbuh di pekarangan. Lima tahun terakhir pohon berumur 20 tahun itu berbuah lebat. Parama menuai 3—4 kali setahun yakni pada Januari, April, Juli, dan Oktober. Sekali panen ia menuai 200—250 papan dari 2 pohon. Pada musim hujan volume panen lebih sedikit. Saat panen lebih awal harga jual Rp2.500 per papan. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software