Potensi Pasar Besar

Filed in Majalah, Topik by on 02/01/2020

Tren tanaman aroid kembali menggeliat di Indonesia ditandai dengan maraknya penjualan philodendron dan monstera sejak 2018.

 

Tren tanaman aroid mendominasi dunia tanaman hias di Indonesia sejak 2000. Aglaonema dan anthurium menjadi produk paling dicari dan berharga fantastis pada masa kejayaannya. Kini tanaman aroid lainnya yakni philodendron dan monstera mulai digandrungi konsumen dalam dan luar negeri. Tren permintaan jenis anthurium nonjemanii pun meningkat di mancanegara.

Wartawan Majalah Trubus, Riefza Vebriansyah, mewawancarai pengusaha tanaman hias berpengalaman 25 tahun di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Gunawan Widjaja, guna mengetahui tren dan prospek tanaman aroid di masa mendatang. Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana perkembangan tren tanaman aroid di Indonesia dari masa ke masa?

Tren tanaman aroid yang kali pertama muncul yakni aglaonema pada 2000-an. Sebab kita memiliki satu penyilang andal yaitu Greg Hambali dengan kreasinya aglaonema merah. Lazimnya aglaonema berwarna hijau dan putih. Kelir baru itu memikat hati para penggemar tanaman hias. Kemunculan aglaonema merah itu gebrakan di dunia tanaman hias Indonesia saat itu. Saat itu kami berencana mengekspor aglaonema merah itu ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Di sana belum ada aglaonema merah.

Banyak tanaman seperti Anthurium regale dibutuhkan karena tren tropical landscapes mencuat lagi.

Ternyata peminat varian anyar itu banyak di Indonesia. Barang sedikit, tapi permintaan banyak. Hukum ekonomi berlaku. Harga aglaonema pun meroket. Kemudian pasar aglaonema mulai jenuh. Saat itu anthurium mulai masuk Indonesia dan akhirnya tren si ekor daun melambung tinggi. Ada petani anthurium di Karanganyar, Jawa Tengah, yang menolak permintaan saya untuk membeli tanaman miliknya seharga Rp300 juta. Saya tidak mengerti kenapa tren anthurium seperti itu. Namun ketika trennya selesai, seperti mati lampu. Orang-orang tidak lagi membeli anthurium. Saya mengimpor anthurium senilai Rp1 miliar sia-sia.

Tidak ada yang membeli. Tanaman yang belum dibayar dikembalikan ke pemiliknya. Saat itu suplai anthurium terlalu banyak. Harganya pun tidak rasional khususnya gelombang cinta. Kini harga anthurium terkoreksi. Aroid yang kini banyak peminatnya sejak 2018 yaitu philodendron. Terutama yang jenis philodendron variegata. Mungkin pasar Eropa dan Amerika yang menaikkan tren aroid. Philodendron dipakai sebagai elemen taman karena lebih kuat dibandingkan dengan aglaonema dan anthurium. Monstera pun banyak peminatnya.

Apa pendapat Anda dengan kehadiran anak muda yang menjual anthurium kuping gajah ke mancanegara?

Itu tren bagus dan positif. Mereka bisa menjual tanaman keluar negeri. Anak-anak muda itu lebih melek teknologi. Mereka gampang ekspor tanaman. Tren ekspor sangat meningkat. Saya selalu menjual tanaman ke mereka. Saya mendukung mereka untuk menjual tanaman ke mancanegara. Saya tidak merasa tersaingi. Tanpa ada pemain kecil tidak mungkin bisa maju. Kalau mau membesarkan kuping gajah bagus. Bisa dijual dengan harga bagus seperti di Ciapus, Kabpaten Bogor. Kini saya juga mengumpulkan 4 jenis kuping gajah. Bikin kuping gajah yang bagus dari biji sehingga bakal menemukan silangan-silangan baru.

Bagaimana tren tanaman aroid pada masa mendatang?

Bisnis tanaman hias menguntungkan sekali. Jangan pikirkan pasar luar negeri. Jika bangsa Indonesia mengetahui bagusnya anthurium sebagai tanaman dalam ruangan, susah mendapatkan tanaman seperti itu. Jumlah penduduk Indonesia besar sekitar 250 juta orang. Dari jumlah itu misal hanya 10% setara 25 juta orang yang mampu membeli tanaman bagus. Lalu hanya 10% setara 2,5 juta orang dari jumlah itu yang menyukai tanaman jenis tertentu. Susah mendapatkan 2,5 juta tanaman favorit konsumen.

Artinya pasar dalam negeri besar. Negara mana pun memerlukan tanaman hias. Banyak tanaman seperti philodendron dan anthurium dibutuhkan karena tren tropical landscapes mencuat lagi. Aroid relatif mudah dipelihara dalam ruangan. Pemakaian jenis tanaman tergantung konsumen akhir dan arsitek. Pemilik apartemen lebih memilih monstera yang merambat ke atas. Bukan anthurium besar lantaran terbentur luasan tempat. Jadi pemain muda, konsumen akhir, dan arsitek menentukan juga tren aroid di masa mendatang.

Philodendron cebu blue berwarna silver milik Gunawan Widjaja dibanderol seharga Rp3 juta—Rp4 juta.

Celakanya jika ahli interior design tidak mengerti tanaman. Akhirnya cuma rumput yang dipakai. Jika itu terjadi, matilah para penjual tanaman. Tidak harus tanaman yang tengah tren. Masih ada pekebun di Bangkok, Thailand, yang mengembangkan aglaonema meski harganya murah sekitar Rp10.000 per tanaman. Pekebun itu tidak mengkhawatirkan pasar karena ada permintaan 1 juta aglaonema ke Tiongkok setiap Imlek. Jadi ia mendapatkan omzet Rp10 miliar per tahun atau sekitar Rp800 juta sebulan.

Cuma di Indonesia tidak ada nurseri seperti itu karena jumlahnya sedikit. Tidak ada petani di Indonesia yang secara profesional mengembangkan satu komodiitas tanaman. Menjadi petani di Indonesia banyak kendalanya. Kita harus mengelilingi nurseri dengan tembok untuk menghindari pencurian. Nurseri di Thailand tidak ada yang bertembok. Pertanian tidak bisa maju karena biayanya tinggi.

Apa yang mesti dilakukan agar tren tanaman aroid tetap langgeng?

Mesti rajin edukasi dan promosi. Juga ada penentu-penentu di atas. Ketika Presiden Soeharto memerintah, Tien Soeharto menyukai tanaman hias. Tien Soeharto membeli tanaman bagus ketika berkunjung ke pameran. Jusuf Kalla pun menyenangi anggrek bulan sehingga tanaman itu sempat tren. Presiden Joko Widodo menggunakan jaket bomber pun menjadi pusat perhatian. Saya berharap di tanaman hias juga seperti itu. Jadi undanglah Presiden Joko Widodo ke pameran tanaman hias. Minimal undang Iriana Joko Widodo. ***

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software