Populasi Naik 10 Kali

Filed in Buah, Majalah by on 03/03/2018
Pekebun manga di Nawang Mango New Village menggunakan pesawat tanpa awak untuk memantau kondisi tanaman.

Pekebun manga di Nawang Mango New Village menggunakan pesawat tanpa awak untuk memantau kondisi tanaman.

Teknik rapat tanam mangga menghasilkan buah berkualitas premium.

Pekebun di Chengbi, Yongle Town, Distrik Youjiang, Guangxi, Tiongkok, menanam mangga berjarak 3 m x 2,5 m. Artinya lahan 1 hektare berisi 1.333 mangga. Bandingkan dengan populasi mangga di sentra Cirebon atau Indramayu, Jawa Barat, lazimnya hanya 100—150 pohon per ha. Kebun mangga Chengbi 2.400 hektare sehingga berpopulasi 3,19 juta mangga. Terdapat sekitar 30 varietas mangga hasil grafting seperti tainong 1, jinhuang, yuwen, guifei, dan keitt di kebun itu.
Barisan tanaman yang rapi di perbukitan dengan Danau Chengbi menghasilkan panorama alam yang sangat indah. Kebun itu memiliki sarana dan fasilitas canggih seperti fertigasi dan perangkap hama tenaga surya. Kecanggihan lain kebun mangga di Negeri Tirai Bambu tersaji di Nawang Mango New Village. Pekebun mengandalkan pesawat tanpa awak (drone) untuk memantau kondisi tanaman di area seluas 355 hektare.

Kebun percontohan milik keluarga Wenshe di Tiandong berjarak tanam 2,5 m x 2 m.

Kebun percontohan milik keluarga Wenshe di Tiandong berjarak tanam 2,5 m x 2 m.

Panen besar
Semua aktivitas pengelolaan kebun terkomputerisasi. Sebanyak 86 warga mengelola kebun modern yang terintegrasi khusus untuk pengembangan industri mangga, pariwisata pedesaan, dan koperasi mangga profesional Shenglong yang berdiri pada 2015 di Desa Linfeng, Tiandong County. Warga membangun koperasi sesuai kebutuhan dan standar percontohan pertanian modern. Setiap kebun mangga di Cina memiliki keunggulan tersendiri seperti Wenshe Family Farm di Tiandong.

Kebun seluas 60 hektare dan 7 hektare untuk fasilitas pendukung itu lolos penilaian untuk 4 tipe produk yaitu bebas kerusakan, teknologi hijau, organik, dan indikasi geografis.

Kebun lain yang berkomitmen menghasilkan produk organik yaitu Dongyang Mango Base di Tiandong. Budidaya tanaman anggota famili Anacardiaceae itu mulai 2016. Sebanyak 730 warga Desa Dongyang mengelola kebun seluas 1.100 hektare. Desa itu menjadi percontohan pertanaman mangga di Baise oleh Kementerian Pertanian. Kebun mangga terbesar adalah di Tiongkok bagian selatan Kabupaten Tianyang yang luasnya 25.000 hektare.

Dari jumlah itu baru 12.700 hektare yang menghasilkan 150.000—190.000 ton mangga. Daerah pemasaran meliputi Wuhan dan Beijing. Selain itu pekebun juga mengekspor produknya ke Rusia dan negara-negara di Asia Selatan. Kunjungan ke beberapa kebun manggga di Tiongkok bagian selatan itu salah satu rangkaian acara XII International Mango Symposium yang berlangsung pada 10—16 Juli 2017 di Baise, Guangxi. Penulis menjadi salah satu peserta simposium itu mewakili Indonesia. Mengunjungi kebun-kebun mangga di Tiongkok sungguh memanjakan mata. Tanaman mangga berjajar rapi dan seragam dengan buah-buahnya yang bergelantungan seolah menggoda siapapun untuk memetiknya.

Membudidayakan mangga dengan teknik UHDP menghasilkan buah berkualitas premium.

Membudidayakan mangga dengan teknik UHDP menghasilkan buah berkualitas premium.

Tanam rapat
Kondisi tanaman juga sangat baik dan bersosok relatif pendek sekitar 2 m serta berjarak tanam rapat yang dikenal dengan sebutan ultra high density planting (UHDP). Sistem pertanaman itu merupakan metode pengelolaan tanaman secara terpadu melalui pengaturan jarak tanam rapat dan pembentukan arsitektur tanaman rendah. Tujuannya memudahkan budidaya tanaman dan pemanenan. Kesuksesan teknik itu bergantung pada pemangkasan intensif serta modifikasi kanopi agar intersepsi dan distribusi cahaya matahari merata ke semua bagian tanaman.

Dengan begitu jumlah daun tersinari matahari lebih banyak sehingga meningkatkan fotosintesis dan secara tidak langsung mendongkrak produksi per unit area. Itulah salah satu keunggulan UHDP yaitu meningkatkan produksi tanaman per unit area. Kelebihan lain, mereduksi masa persiapan reproduktif (gestation period) serta meningkatkan kualitas dan keseragaman buah (ukuran, bentuk, dan rasa). Jika ingin menerapkan UHDP pekebun mesti memperhatikan beberapa hal seperti kondisi kesuburan tanah dalam menentukan jumlah populasi tanaman maksimum per hektare demi memperoleh keuntungan per unit area.

Ketersediaan tanaman berkarakter rendah pun salah satu pertimbangan sebelum menerapkan UHDP. Jarak tanam sistem UHDP bervariasi seperti 3 m x 2,5 m; 2,5 m x 2,5 m; dan 3 m x 1 m menyesuaikan kondisi lahan seperti topografi, kesuburan tanah, dan varietas yang ditanam. Oleh karena itu, populasi tanaman lebih dari 1.000 mangga per hektare. Bandingkan dengan penanaman sistem konvensional yang hanya berisi 100—150 tanaman/hektare.

Tentu saja peningkatan populasi mempengaruhi input produksi dan teknik pengelolaannya seperti penggunaan batang bawah atau atas yang berkarakter pendek. Pekebun juga mesti memangkas intensif meliputi pemangkasan bentuk untuk pembentukan kanopi dan pemangkasan pemeliharaan untuk merangsang fase reproduktif. Upayakan tinggi tanaman sekitar 2 m dan pastikan tajuk antartanaman tidak bersentuhan. Untuk pemangkasan intensif, tetap mengikuti pola 1-3-9 seperti pada pertanaman konvensional.

Pengelolaan budidaya yang tepat mencakup pengairan dengan irigasi tetes dan pemupukan menggunakan sistem fertigasi yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kebutuhan tanaman. Komponen pendukung lain demi suksesnya teknik UHDP adalah penggunaan bioregulator untuk merangsang pembungaan dan mengurangi terjadinya kerontokan buah (fruit drop). Berdasarkan hasil kunjungan ke kebun-kebun mangga itu diperlukan biaya tinggi agar penerapan UHDP berhasil dan meningkatkan produktivitas tanaman secara nyata.

Teraplikasi
Termasuk peningkatan biaya pemupukan, pengairan, pengendalian hama penyakit terpadu, dan pengadaan fasilitas mekanisasi. Penggunaan mekanisasi seperti irigasi tetes dan fertigasi juga menjadi prasarana utama di lahan. Meski berbiaya tinggi pada awal penanaman, beberapa referensi menyatakan keuntungan yang diperoleh mencapai lebih dari 100%. Beberapa negara di dunia seperti India sudah menerapkan UHDP karena diyakini mampu meningkatkan produktivitas tanaman per unit area baik secara kuantitas maupun kualitas.

Lalu bagaimana penerapan UHDP di Indonesia? Pekebun mangga di tanah air berpotensi menerapkan UHDP asalkan komponen pendukungnya terpenuhi. Bahkan pekebun mangga di Indramayu, Jawa Barat, Urip Ibrahim, mengembangkan tanaman kerabat jambu mete Anacardium occidentale itu berjarak tanam 2,5 m x 3 m sejak Oktober 2017.

Nun di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Yusron Hadi Nugroho, pun memakai jarak tanam 4 m x 2 m di kebun kiojay. Varietas mangga dalam negeri yang berkarakter pendek dan cocok untuk UHDP yaitu agri gardina 45 dan marifta-01. Sejatinya varietas komersial lainnya seperti arumanis, garifta, dan gadung 21 bisa ditanam menggunakan teknik itu. Syaratnya pemangkasan mesti intensif guna mempertahankan sosok tanaman pendek dan bentuk kanopi yang baik. (Sri Yuliati S.P. M.Si., peneliti mangga di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software