Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thaariq: Membangunkan Lahan Tidur

Filed in Laporan khusus by on 07/12/2015
Pesantren Ath-Thaariq memadukan pendidikan agama dan pertanian berbasis ekologi.

Pesantren Ath-Thaariq memadukan pendidikan agama dan pertanian berbasis ekologi.

Pesantren Ath-Thaariq memadukan pendidikan agama Islam dengan pertanian berbasis ekologi kepada para santri.

Bertahun-tahun ladang 7.500 m2 itu menganggur. Hanya semak yang tumbuh di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu. Kini lahan itu bersalin wajah. Pada 2009 Ibang Lukmanurdin dan istrinya, Nissa Wargadipura, memanfaatkan lahan itu untuk menanam aneka jenis sayuran seperti sawi dan kangkung.

Para santri tengah belajar bertani.

Para santri tengah belajar bertani.

Orangtua dari 3 anak itu juga mengubah sebagian lahan menjadi sawah dan area untuk membudidayakan tanaman pangan seperti umbi-umbian. Di sana ada juga kolam ikan dan peternakan serta area pembenihan. Ibang dan Nissa memanfaatkan lahan itu sebagai sarana belajar bagi para santri Ath-Thaariq, pesantren yang didirikan pasangan itu pada 2009. Menurut Ibang, selain belajar mengaji, para santri belajar bertani setiap Ahad.

Berbasis ekologi
Ibang mengajar para santri dengan metode bebas aktif. Mereka bebas mengeksplorasi kemampuan bertani dari mulai pembenihan, budidaya, sampai tahap panen. “Mereka melakukannya sendiri,” ujar Ibang. Pasangan itu mengajarkan kepada para santri cara bertani dengan model pertanian berbasis ekologi. Dalam konsep pertanian itu mereka memelihara berbagai habitat untuk menjaga ekosistem yang saling terkait satu sama lain.

Kini setidaknya ada 52 jenis tanaman yang dibudidayakan di Pesantren Ath-Thaariq itu. “Dalam Islam tidak hanya cerita soal kebutuhan pangan, tapi juga kewajiban untuk menjaga lingkungan. Ada hak binatang selain manusia, ada hak lingkungan juga,” tutur Ibang. Untuk menjaga ekosistem, mereka membudidayakan seluruh tanaman dengan cara organik.

Sebagai sumber nutrisi mereka memanfaatkan kompos yang diproduksi sendiri dari bahan organik dan kotoran ternak. Selain itu mereka juga memanfaatkan mikroorganisme lokal yang diproduksi dari limbah sayuran dan aneka bahan organik yang menjadi sumber mikrob. Seluruh hasil panen dari kebun untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga besar pesantren.

Nissa Wargadipura (kiri) dan Ibang Lukmanurdin (kanan) mendirikan Pesantren Ath-Thaariq pada 2009.

Nissa Wargadipura (kiri) dan Ibang Lukmanurdin (kanan) mendirikan Pesantren Ath-Thaariq pada 2009.

Karena jenis tanaman yang dibudidayakan beragam, maka para santri mengonsumsi jenis pangan sesuai hasil panen yang tersedia. “Dengan begitu mereka tidak bergantung pada satu jenis pangan,” kata Nissa. Menurut Nissa para santri Pesantren Ath-Thaariq terbiasa mengonsumsi umbi-umbian, pisang, dan pangan lain selain nasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

Jika hasil panen berlebih, barulah mereka menjualnya untuk menopang kehidupan perekonomian pesantren. “Konsep pertanian seharusnya mengutamakan kebutuhan pangan sendiri dahulu sebelum berpikir menjual hasil panen,” ujar Nissa. Uniknya, seluruh tanaman yang dibudidayakan di Pesantren Ath-Thaariq menggunakan benih hasil produksi sendiri atau pollinated organic seed.

Nissa menyisakan lahan khusus untuk memproduksi benih. Selain untuk memenuhi kebutuhan benih untuk berkebun, mantan aktivis lembaga swadaya masyarakat Serikat Petani Pasundan (SPP) itu memproduksi benih untuk membuat perpustakaan benih yang nantinya menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi para santri.

Antanan, salah satu bahan teh herbal yang diproduksi Pesantran Ath-Thaariq.

Antanan, salah satu bahan teh herbal yang diproduksi Pesantran Ath-Thaariq.

Teh herbal
Pesantren Ath-Thaariq juga memproduksi aneka jenis herbal, seperti antanan, serai wangi, secang, rosela, dan poko. Seluruh bahan herbal itu juga berasal dari sekitar pesantren. Serai wangi, misalnya, tumbuh di pinggir-pinggir jalan setapak menuju ke lokasi pesantren. Menurut Nissa tanaman anggota famili Poaceae itu juga berfungsi sebagai penguat tanah. Nissa mengemas aneka bahan herbal dalam kotak anyaman bambu.

Kegigihan Ibang dan Nissa mendirikan pesantren yang memadukan ilmu agama dan pertanian adalah buah dari keprihatinan keduanya tentang alih kepemilikan lahan pertanian yang terjadi di Kabupaten Garut. Di kediamannya banyak petani yang terpaksa menjual tanah ke salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karena alasan terdesak kebutuhan ekonomi.

Para petani juga enggan melanjutkan profesinya karena segudang permasalahan yang merugikan mereka. Contohnya masalah rendahnya hasil panen. Tingkat ketergantungan para petani pada produsen pestisida dan benih juga sangat tinggi. “Itu karena mereka tidak memiliki benih yang dikembangkan secara mandiri,” tutur Nissa. Permasalahan lain adalah sikap petani yang latah sehingga mereka hanya menanam komoditas tertentu secara monokultur.

Perpustakaan benih yang diproduksi pesantren.

Perpustakaan benih yang diproduksi pesantren.

Akibatnya, mereka kerap terjebak harga jatuh karena komoditas itu berlimpah di pasaran. Mereka juga sangat tergantung pada pemilik modal. “Semuanya dari pemodal, mulai dari benih, pupuk, pestisida, dan modal,” kata Nissa. Ketika petani tidak mampu mengembalikan modal karena merugi akibat harga saat panen anjlok, mereka pun terpaksa menyerahkan tanahnya dengan harga beli sangat murah.

Jika kondisi itu dibiarkan, maka akan mengancam sektor agraria yang nantinya dapat menyebabkan ketersediaan pangan berkurang. Itulah sebabnya Ibang dan Nissa berupaya memperkenalkan dunia pertanian melalui jalur pendidikan dengan mendirikan Pesantren Ath-Thaariq pada 2009.

Dengan jerih payah itu maka pantas bila Ibang dan Nissa menjadi nomine penghargaan Trubus Kusala Swadaya 2015. Penghargaan itu diberikan Yayasan Bina Swadaya untuk para wirausahawan muda yang telah berinisiatif dan kreatif melakukan upaya-upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, baik melalui aktivitas di bidang pertanian, lingkungan, pendidikan, energi terbarukan, dan sosial-ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan sosial. (Imam Wiguna/Peliput: Otok S Pamuji)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software