Pohon Pusaka

Filed in seputar agribisnis by on 01/01/2010 0 Comments

Desa Beschari tempat kelahiran pujangga terkenal, Kahlil Gibran. Saya diundang ke sana untuk bicara, bagaimana apresiasi pada karya Gibran di Indonesia.

 

Pohon cedar terkenal paling rindang di dunia. Jangkauan dahannya tumbuh horizontal, melebar sampai 10 meter dari batangnya. Tumbuhnya lamban sekali. Di depan kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut, ditanam juga sebatang cedar. Batangnya baru sebesar lengan remaja, tingginya sekitar 170 cm. Berapa tahun umurnya? Baru 35 tahun! Kalau mau melihat pohon itu besar, kita harus kembali ke Beirut, 3.000 tahun lagi. Pohon yang terbesar, cukup dilingkari 15 orang bergandengan tangan.

Bahan bahtera

Sekitar 4.700 tahun lalu, perdagangan kayu cedar merebak. Kayu cedar dibuat perahu-perahu perang oleh bangsa Phunisia. Sumber yang dapat dipercaya juga menulis: Nabi Sulaiman menebang beberapa pohon cedar di Lebanon ketika membangun kenisah, rumah ibadahnya yang sangat terkenal. Jadi, yang kita jumpai sekarang adalah sisa-sisa yang selamat dari konsumsi kayu beribu-ribu tahun lalu.

Untuk menyelamatkan cedar, 3 negara bekerja keras melakukan pembibitan besar-besaran. Setiap tahun lebih dari 50-juta bibit cedar ditanam di Lebanon, Turki, dan Syria. Kayunya mahal dengan tekstur dan warna yang indah. Aromanya  harum. Pohonnya hijau sepanjang tahun, di dalam teriknya matahari maupun dinginnya salju.

Adakah pohon serupa cedar di Indonesia? Dari kalangan pohon berdaun jarum (conifer) memang ada. Namun, kebanyakan pohon kita berdaun lebar, berbunga lebat, dan berbiji ganda. Tumbuhnya cepat, matinya cepat juga. Oleh karena itu kalau kita bertemu pohon besar, orang-orang di sekitarnya hanya bilang: umurnya 100 tahun atau 200 tahun. Padahal, sebenarnya ada juga yang sudah lebih dari 700 tahun.

Misalnya sebatang sikas di depan kampus Universitas Ma Chung di Malang, Jawa Timur, dan 9 pohon baobab Adansonia digitata di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di Maluku juga ada pohon sagu Metroxylon sago raksasa. Untuk menemukan pohon supertua seperti keluarga pinus yang bisa lebih dari 5.000 tahun memang agak sulit di daerah tropis. Namun, keistimewaannya justru masih muda tapi sudah besar.

Itulah yang menggalakkan bisnis kayu lapis dan pulp di belantara Sumatera. Semestinya itulah yang membuat Indonesia semakin berutang budi pada pohon-pohonan. Jadi kalau Turki menanam 50-juta bibit pohon cedar berumur panjang dalam setahun, Indonesia perlu menanam 50-juta bibit dalam sehari. Itulah yang dilakukan di hutan tanaman industri kita.

Kongres pohon

Hutan tropis bisa berlipat-lipat kali lebih rimbun, lebih padat, lebih beranekaragam jenis kayu dan manfaatnya. Kalau pohon-pohon Indonesia lebih kaya dan lebih banyak jumlahnya, apa yang dapat diteladani pada pemuliaan pohon cedar? Bukankah kita juga punya kayu jati, pohon cendana, dan pohon majegau yang terkenal kuat dan disucikan masyarakat Bali?

Kecintaan pada pohon masih perlu dilipatgandakan. Pengetahuan dan ilmu tentang pohon masih perlu diwujudkan. Kita selalu dan semakin memerlukan ahliahli taksonomi dan dendrologi. Nilai-nilai ekonomis, ekologis, dan kultural historis pohon perlu lebih dimasyarakatkan. Pada gilirannya, pengetahuan yang lebih baik mendorong budidaya dan pemanfaatan yang lebih baik lagi.

Secara umum dapat dicatat bahwa kelapa Cocos nucifera dan lontar Borassus flabelifer merupakan pohon serbaguna yang menghidupi Nusantara dari zaman ke zaman. Kedua jenis palem itu membantu berjuta-juta warga Nusantara melalui saat-saat yang paling sulit maupun menyenangkan dalam beribu-ribu tahun sejarah peradabannya. Siapa yang bertanggungjawab membela dan menjaga kelestarian pohon-pohon tua itu pada masa depan?

Pohon-pohon kelapa tua di sepanjang pantai Gorontalo dan Sulawesi Utara memerlukan peremajaan. Sementara di kota-kota besar, pohon-pohon tua juga memerlukan biaya perawatan, asuransi, dan perlindungan dari berbagai ancaman. Pada 2010 diupayakan terwujud kongres pencinta pohon pusaka.

Di Jakarta Timur pernah tumbuh pohon mangga yang sangat besar. Namun, sejak 2005 hilang ditebas untuk pom bensin. Padahal, pohon itu berjasa besar. Kalau setiap tahun ia menyerap rata-rata 22 kg karbon dioksida, dalam 50 tahun ia menyerap lebih dari satu ton. Belum lagi jasanya menghasilkan oksigen untuk bernapas. Kalau dalam satu hari dia bisa menghasilkan oksigen untuk empat orang, berapa banyak manusia disegarkan pohon mangga itu selama 50 tahun?

Berapa buah dipanen dalam 50 tahun? Mengapa harus ditebang begitu saja padahal masih subur dan berbuah lebat? Apakah sebuah pompa bensin harus dibangun dengan mengorbankan pohon tua? Tidak dapatkah dibangun berdampingan di sebelahnya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul setelah pohon itu dihilangkan. Pohon pusaka menjadi penting karena jasanya kepada makhluk lain. Ia bisa berjasa karena umurnya panjang, berperan sosial dan ekologis sebagai pelindung, serta memiliki nilai ekonomi tinggi.

Singapura mempunyai program pemasyarakatan pohon pusaka sejak 17 Agustus 2001. Seiring dengan itu juga dikembangkan Dana Pohon Pusaka untuk melindungi pohon. Misalnya dengan memasang instalasi penangkal petir, memberi nama-nama dan keterangan pohon.

Kantor hijau

Sekarang tiba saatnya untuk membuktikan bahwa Indonesia termasuk bangsa pencinta pohon. Caranya bukan hanya memperbanyak demonstrasi antipenebangan liar. Yang lebih penting adalah menumbuhkembangkan kelompok-kelompok pencinta tanaman. Pihak swasta maupun pemerintah dapat memberikan inisiatif kepada warganya untuk lebih memperhatikan tanaman.

Beberapa perusahaan besar memberikan insentif berupa acara-acara menarik yang terkait dengan program pemasaran dan pengembangan sumber daya manusia. Perusahaan peralatan energi, Wartsila dari Finlandia mengkampanyekan green office dan green factory dengan menggalakkan menanam pohon tanjung Mimusops elengi dan karet munding Ficus elastica. Sasaran mereka adalah ikut berperan dalam menghadapi pemanasan global akibat perubahan iklim.

Setiap tahun kita dapat menyaksikan berbagai upaya besar maupun kecil, untuk meningkatkan kesadaran Indonesia menjadi bangsa yang cinta lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehutanan di Bogor, Jawa Barat, mulai melayani permintaan bibit tanamantanaman keras untuk perumahan, padang golf, dan taman-taman kota. Dua generasi yang lalu bermunculan kelompok-kelompok petualang sebagai pendaki gunung, pencinta alam.

Sekarang saatnya bertindak lebih terfokus, lebih serius memperhatikan daun demi daun. Contohnya adalah memanfaatkan daun bodhi sebagai bahan kerajinan yang indah di Borobudur.

Selamat mengenali, melindungi, dan memperkenalkan pohon-pohon terbaik di sekitar Anda. ***

Eka Budianta*

*) Budayawan, direktur proyek Jababeka Botanic Gardens, dan kolumnis Trubus.

Cedar hidup ratusan tahun sejak 1.350 sebelum Masehi dan tetap menghijau di negeri empat musim

 

Powered by WishList Member - Membership Software