Plutella Bertekuk Lutut

Filed in Inspirasi, Majalah by on 11/06/2020

Ulat daun kubis Plutela xylostella menjadi momok para pekebun kubis terutama pada musim kemarau.

Upaya mengendalikan hama kubis dengan insektisida yang tepat.

Yoga Ade Pranata ingat betul pada September 2019 hanya berahasil menuai 3,5 ton kubis Brassica oleracea. Padahal, pekebun di Desa Segaran, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu berharap dari lahan 1.700 m2 menuai setidaknya 6 ton. Artinya Yoga kehilangan 58% hasil panen akibat serangan ulat Plutella xylostella. Menurut pemuda kelahiran 5 Februari 1993 itu ulat kubis adalah hama yang paling bandel.

“Penanganannya susah. Biaya pengendalian yang harus dikeluarkan sangat tinggi. Paling tidak saya menambahkan dana Rp1 juta—Rp1,5 juta untuk pengendalian ulat itu,” kata Yoga. Menurut peneliti pertama di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Rini Murtiningsih, akibat serangan ulat famili Plutellidae itu mengakibatkan kerusakan tanaman hingga 100% atau seluruh bagian tanaman habis dilahap.

Musim kemarau

Peneliti pertama di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Rini Murtiningsih.

Rini Murtiningsih menuturkan, “Hama ini umumnya menyerang tanaman muda. Namun, hama ini juga dapat menyerang tanaman kubis yang sedang membentuk krop sampai menjelang panen,” kata Rini. Serangan ulat daun kubis itu memang perlu perhatian ekstra. Rini mengatakan, hama anggota ordo Lepidoptera itu sangat mudah resisten dengan pestisida. Imago atau serangga dewasa betina meletakkan 150—300 telur di atas dan bawah permukaan daun kubis.

Setelah 3—6 hari telur menetas menjadi larva selama 10—14 hari. Pada stadia larva instar 3 dan 4 serangan yang paling masif terjadi. Serangga itu memasuki stadia pupa (rata-rata 6,3 hari) dan stadia imago (rata-rata 20,3 hari untuk imago betina). Stadia selain larva dari Plutella tidak menyerang tanaman inang. Pengendalian imago plutella dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan awal.

Pengendalian imago dengan lampu perangkap dan feromon. Petani mengetahui populasi imago di lahan dari perangkap itu. “Berdasarkan penelitian Balitsa, populasi 4 ngengat dalam 5 perangkap seks feromon dalam waktu 1 pekan, tandanya pengendalian perlu dilakukan,” kata peneliti kelahiran 12 Oktober 1974. Ia mengatakan, faktor pememicu perkembangan ulat kubis antara lain ketersediaan tanaman inang, suhu, curah hujan, dan geografis.

Pada musim hujan ulat daun kubis cenderung sulit bertahan, terutama pada stadia telur dan instar muda. Itu sebabnya kerusakan akibat Plutella tinggi pada musim kemarau. Ngengat menyukai kondisi yang kering, siklus hidup ulat kubis akan berlangsung lebih cepat. Master Ilmu Biologi alumnus University of Queensland, Australia, itu mengatakan, ulat kubis ditemukan di lahan baik dataran tinggi maupun rendah. Selama tanaman inangnya yakni dari famili Brassicaceae—disebut juga Cruciferae—tersedia apalagi dalam jumlah banyak.

Pengendalian ulat kubis

Grower Marketing PT Bayer Indonesia, Ir. Ratna Indah Cahyaningsih mengatakan, serangan hama Plutella menimbulkan kerusakan titik tumbuh tanaman kubis. Jika tidak dikendalikan mengakibatkan tanaman gagal membentuk krop, akibatnya gagal panen. Menurut alumnus Institut Pertanian Bogor itu pemantauan hama sejak awal tanam kunci keberhasilan pengendalian serangan plutella.

Ketersediaan tanaman inang dalam jumlah besar menjadi daya tarik bagi imago atau serangga dewasa Plutella xylostella untuk meletakkan telur.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Selain itu penyemprotan insektisida pada saat yang tepat sesuai dengan prinsip 6 tepat juga menentukan keberhasilan pengendalian serangan ulat kubis. Lima tepat yang dimaksudkan Ratna adalah tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis atau konsentrasi, dan tepat cara penggunaan. Tepat jenis, misalnya, berkaitan dengan insektisida pilihan petani seperti Vayego 200 SC 200 g per liter.

Bahan aktif insektisida itu tetraniliprol. Para petani kubis menyemrptkannya pada saat tanaman berumur 7 hari dan 14 hari setelah tanam. Konsentrasi penyemprotan 1 ml per liter sehingga amat hemat. Perempuan kelahiran 14 Oktober 1966 itu mengatakan, pergantian bahan aktif perlu dilakukan agar hama tidak resisten. Petani dapat bergantian menyemprotkan Movento Energy® 240 SC. Bahan aktifnya berbeda, yakni spirotetramat 120 g/liter dan imidakloprid 120 g/liter.

Alumnus Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, penyemprotan Vayego dan Movento Energy bisa dicampur di satu tangki maupun terpisah sehingga dapat dijadikan manajemen resistensi hama. Menurut Ratna upaya lain dalam mengoptimalkan pengendalian plutella adalah pengendalian secara terpadu, yakni kombinasi antara pengendalian mekanis dan kultur teknis atau agen hayati.

Sekadar contoh, parasitoids ulat kubis antara lain Trichogramma chilonis  dan Cotesia plutella. Adapun predator hama utama kubis itu Chrysoperla carnea. Berbagai upaya itu untuk mengamankan kubis agar petani dapat memanen kubis secara optimal. Pengalaman buruk Yoga Ade Pranata yang gagal memanen kubis tidak perlu terulang kembali. Demikian juga petani kale, brokoli, dan sayuran lain anggota famili Barssicacea lain yang merupakan inang Plutella xylostella. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software