Plastik Limbah Singkong

Filed in Uncategorised by on 01/08/2012 0 Comments

Perlu 1.583 truk untuk mengangkut sampah plastik Indonesia yang mencapai 3,8-juta ton per tahun.

 

Jika sampah-sampah plastik itu mesti diangkut sekaligus dengan truk dan sebuah truk mengangkut 2,4 ton, panjang antrean truk itu mencapai 12.679 km setara panjang Pulau Sumatera. Celakanya plastik-plastik yang kini banyak beredar di pasaran berbahan baku polietilen (PE) atau polipropilen (PP), yang penguraiannya secara alami makan waktu lebih dari 1.000 tahun. Keruan saja plastik itu berpotensi mencemari lahan pertanian dan lingkungan.

Selain itu beberapa plastik mengandung senyawa karsinogenik alias pemicu kanker. Itulah sebabnya periset di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dr Indah Yuliasih STP MSi, tergerak untuk membuat plastik alami yang terurai hanya dalam 180 hari. Plastik ramah lingkungan itu terbuat dari onggok atau limbah tapioka. Indah Yuliasih memanfaatkan onggok menjadi plastik karena potensinya yang besar.

Lebih mudah

Sebuah pabrik di Cimahpar, Kota Bogor, Jawa Barat, yang memproduksi rata-rata 5 ton tapioka per hari, misalnya, menghasilkan 4 ton onggok alias 80% total bahan baku. Menurut periset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Dr Ir Richana MS, setiap mengolah 1 ton singkong menjadi tapioka, menghasilkan 700-800 kg onggok. Artinya, sebuah pabrik tapioka skala kecil berkapasitas 2-5 ton per hari akan menghasilkan 1,4-4 ton onggok setiap hari.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, ekspor tapioka nasional pada 2011 mencapai 90.000 ton. Itu berarti, setidaknya 360.000 ton onggok terbuang mencemari lingkungan. Selama ini pemanfaatan onggok paling banter menjadi campuran pakan ternak. Menurut Indah Yuliasih, kandungan utama onggok adalah pati yang tersusun atas molekul karbohidrat.  Karbohidrat bersifat hidrofil alias mudah larut dalam air. Padahal, plastik justru mesti tahan air. Untuk mengatasi kekurangan itu, Indah menambahkan zat bernama plasticizer atau pemlastik untuk mengurangi sifat hidrofil pati.

Dengan penambahan 5-7,5% plasticizer atau pemlastik, onggok yang menjadi bahan baku plastik itu hampir menyamai resin plastik polietilen atau polipropilen. Bahan pati itu kini bisa  dicampur dengan resin sintetis untuk membuat lembaran plastik biodegradable.

Ada dua alternatif untuk membuat plastik biodegradable, menggunakan 100% bahan bioplastik atau mencampur bioplastik dengan resin plastik sintetis. Hasilnya sama-sama plastik yang mudah terurai di alam. Bedanya hanya kebutuhan bahan baku dan kecepatan penguraiannya. Hasil penelitian Waryat SP, periset di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jakarta, plastik dengan kandungan 40% bioplastik dan 60% resin sintetis terurai 40% dalam 70 hari. Dengan perhitungan kasar, plastik itu akan terurai seluruhnya dalam kurang dari 6 bulan.

Kadar karbohidrat menentukan banyaknya onggok yang diperlukan dalam pembuatan bioplastik. Jika ingin membuat sekilo plastik biodegradable dengan 40% bahan bioplastik dari onggok berkadar karbohidrat 70-80%, perlu 500-600 g onggok. Bahan baku pembuatan plastik buatan Indah dan Waryat tergolong pati termoplastik atau pati yang diperlakukan secara khusus agar dapat diproses seperti resin plastik sintetis.

Potensial

Selama ini bioplastik menggunakan bahan asam polilaktat (PLA), polihidroksi butirat (PHB), atau polihidroksi alkanoat (PHA) yang antara lain bersumber dari jagung dan kentang. Masalahnya, pembuatan bahan-bahan itu memerlukan peralatan yang berbeda dengan mesin-mesin yang ada di industri plastik konvensional. Akibatnya, “Biaya pembuatan mahal sehingga hasilnya tidak kompetitif dengan plastik biasa,” kata Indah.

Menurut Indah pembuatan pati termoplastik tidak memerlukan peralatan khusus. “Cukup menggunakan alat moulding dan ekstruder,” kata perempuan 42 tahun itu. Pengalaman Indah, bibit plastik dari 100% bioplastik lambat mengering. Hasilnya, bibit yang masih berwujud pasta itu malah hancur  oleh ekstruder atau alat pemotong. Akhirnya ia memotong bibit plastik itu dengan gunting agar panjangnya seragam.

Bibit plastik seukuran ujung kelingking itu tinggal dibentuk sesuai keperluan: kantong plastik bening, kantong kresek, sedotan, maupun bahan lain. Meski ramah lingkungan, plastik cepat urai itu masih punya kelemahan. Kekuatannya hanya 85-90% plastik sintetis, padahal harganya justru lebih mahal 15-20%.

Jika biasanya kantong plastik berbahan polietilen mampu menampung 1 kg, misalnya, maka bioplastik hanya 8-9 ons. Itulah sebabnya bioplastik sangat pas untuk kemasan dokumen yang relatif ringan seperti jasa fotokopi atau kios buah. Industri perkebunan juga dapat memanfaatkan bioplastik untuk pembenihan sehingga tak perlu menyobek polibag saat memindahkan bibit ke lahan. Plastik itu akan terurai dalam 180 hari. Dengan demikian truk tak perlu lagi membuang sampah plastik. (Argohartono Arie Raharjo)


Kandungan Onggok

Keterangan Foto :

  1. Botol berbahan plastik PP perlu ribuan tahun untuk terurai di alam
  2. Dr Ir Nur Richana MS: Potensi onggok mencapai ribuan ton per tahun
  3. Bijih plastik biodegradable dengan 30% kandungan bioplastik
 

Powered by WishList Member - Membership Software