Pilihan Tepat Irigasi Tetes

Filed in Buah, Majalah by on 11/12/2020

Irigasi tetes emiter tali tidak memengaruhi produktivitas tanaman semangka.

Irigasi tetes emiter tali amat praktis, murah, dan produktivitas tanaman pun terjaga.

Lahan pengujian ditutupi dengan mulsa plastik setelah dilakukan pengolahan lahan dan aplikasi pupuk dasar.

Penerapan irigasi yang keliru dalam budidaya tanaman mengakibatkan kerugian akibat air banyak terbuang. Oleh karena itu, irigasi yang sederhana seperti irigasi tetes emiter tali menjadi solusi. Penggunaan emiter tali tidak memerlukan keterampilan tenaga kerja yang memadai. Petani dapat mengoperasikannya dengan menggunakan pompa irigasi atau tanpa pompa irigasi.

Bahkan, petani dapat menggunakan teknologi itu untuk pemupukan sekaligus. Irigasi tetes emiter tali lebih sederhana. Petani hanya membutuhkan emiter tali nilon masing-masing sepanjang 4 cm, selang plastik berdiameter 5 mm, dan selang polietilene (PE). Alat-alat itu lebih lentur dan lebih murah daripada peranti irigasi tetes dengan jaringan lateral yang menggunakan pipa polivinil klorida (PVC).

Empat dosis

Pengujian irigasi tetes emiter tali di lahan semangka di Desa Cisarua, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Pupuk dasar di lahan itu berupa 15 kg nitrogen, 35 kg kalium, 14 kg sulfur, 42 kg fosfat, dan 5 ton pupuk kandang kandang untuk lahan 1.000 m2 berketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Total populasi mencapai 240 tanaman. Pengujian dilakukan dengan empat perlakuan dosis pemupukan yang berbeda masing-masing untuk mengetahui dosis yang tepat tanaman pada musim kemarau.

Keempat perlakuan itu adalah Dosis Pemupukan Anjuran Sebar (DPAS), Dosis Pemupukan Anjuran Fertigasi, Dosis Pemupukan Anjuran Fertigasi 80% (DPAF 80%), dan DPA0 (tanpa pemupukan). Pengulangan setiap perlakuan hingga tiga kali untuk mengetahui kinerja pemupukan irigasi tetes emiter tali. Parameter pada empat aspek, yakni jumlah pemakaian air, produksi buah, produktivitas air irigasi, dan efisiensi serapan unsur hara (NPK).

Emiter tali diletakkan tepat pada lubang tanam agar aplikasi irigasi dan pupuk tepat sasaran.

Posisi selang berdiameter 5 mm untuk mengalirkan pupuk di atas permukaan bedengan selebar 80 cm yang telah ditutupi mulsa plastik. Emiter dipasang dengan jarak 80 cm sesuai dengan jarak tanam. Setiap lubang tanam terdapat satu tanaman semangka berumur tujuh hari setelah pembibitan. Tiga hari pertama irigasi hanya mengalirkan air. Pemupukan tanaman berumur empat hari setelah tanam (hst).

Penggunaan selang polietilen (PE) lebih adaptif di lahan karena lentur dan lebih hemat dibandingkan pipa PVC.

Pemberian nutrisi dilakukan setiap empat hari sekali. Namun, pengaliran nutrisi dihentikan ketika tanaman berumur 21—28 hari karena sedang penyerbukan. Setelah buah terbentuk sebesar buah duku, pemberian nutrisi melalui irigasi kembali dilakukan sampai 10 hari menjelang panen. Petani memanen semangka berumur 65—70 hari.

Di sela-sela penanaman, daun tanaman diambil pada umur 50 hari untuk pengukuran serapan unsur hara. Hasilnya serapan NPK pada daun kelompok dosis pupuk anjuran fertigasi lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan daun tanaman dari kelompok dosis pupuk anjuran sebar. Daun-daun tanaman itu kemudian dianalisis serapan haranya.

Produkstivitas tinggi

Serapan nutrisi yang baik memengaruhi produksi buah. Setiap kelompok DPAF menghasilkan 4,56 kg buah per tanaman dan DPAF80 mencapai 4,8 kg buah per tanaman. Kondisi itu berbeda signifikan dengan DPAS yang hanya menghasilkan 3,8 kg buah per tanaman. Artinya irigasi tetes emiter tali berfungsi sebagai alat fertigasi tanpa penyumbatan pada emiter. Pertumbuhan dan produksi tanaman tetap tinggi dan larutan hara tetap keluar dari emiter saat pemberian air irigasi berlangsung.

Produktivitas tertinggi pada kelompok DPAF yakni 74,82 kg per m² (lihat tabel). Dari pengujian itu menunjukkan dosis anjuran 80% cara fertigasi dengan alat irigasi tetes emiter tali dapat diaplikasikan pada lahan semangka. Dosis aplikasi yang lebih kecil tetapi tidak memengaruhi penurunan produksi secara signifikan dibandingkan dengan dosis 100%. Seluruh perlakuan masing-masing menggunakan 65 liter air per tanaman.

Peralatan irigasi tetes emiter tali (dari kiri) selang polietilen (PE), selang plastik yang sudah disumpal dengan tali nilon.

Perbedaan perlakuan juga memengaruhi produktivitas air irigasi. Pada pengujian itu, produktivitas penggunaan air sesuai batas normal menurut literatur, yakni berkisar antara 24,31—197,89 kg per m2. Beberapa faktor memengaruhi perbedaan produktivitas serapan air irigasi. Faktor-faktor itu antara lain iklim, pengelolaan air irigasi, perbedaan varietas tanaman, sistem irigasi, pemupukan, dan karakter tanah. (Ir. Muhammad Idrus, M.Si., dosen Politeknik Negeri Lampung)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software