Pilih-pilih Sapi Potong

Filed in Laporan khusus by on 01/05/2010 0 Comments

 

Data Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjennak) 2010 menunjukkan total populasi sapi bali pada 2009 mencapai 4,5-juta ekor. Populasi itu melebihi jumlah PO sebesar 2,5-juta ekor; limousin 2,132-juta ekor; dan simmental 1,217-juta ekor. Untuk brahman cross mengandalkan impor sebesar 600.000 ekor/tahun.

Menurut Ir Mariyono MSi, kepala Loka Penelitian Sapi Potong di Grati, Pasuruan, Jawa Timur, kelima jenis sapi itu diusahakan di wilayah yang berbeda. Pemilihan lokasi terkait erat dengan sumber pakan. Pembibitan sampai penggemukan sapi bali, misalnya terfokus di kawasan Indonesia Timur seperti Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Di luar itu, Lampung dan Kalimantan. “Sapi bali merupakan domestikasi banteng yang dapat hidup pada kondisi pakan terbatas,” ujar Mariyono.

Sumber pakan

Di Pulau Jawa sapi bali kurang berkembang lantaran kehadiran domba. Menurut Dr Ir Muhammad Bata, dosen Fakultas Peternakan Universitas Negeri Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah, domba menjadi pembawa penyakit malignant catarrhal fever (MCF) pada sapi bali.

Jenis PO membutuhkan hijauan dari rumput. Oleh karena itu ternak PO lebih terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Jawa Barat yang notabene ketersediaan hijauannya melimpah. Sapi-sapi impor seperti limousin, simmental, dan brahman cross berkembang di daerah yang kaya biji-bijian, umbi, serta bungkil. Maklum, “Sapi impor butuh jumlah dan kualitas ransum yang lebih tinggi,” kata Mariyono yang menunjuk Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Barat sebagai lokasi pengembangan sapi impor.

Seiring waktu, sapi impor lebih banyak diternak, meski kenaikan bobot sapi masih jauh dari proyeksi sebesar 1,5 – 2 kg/ekor/hari. Rata-rata peternak hanya mampu meningkatkan bobot sekitar 1,1 – 1,2 kg/ekor dari bakalan berbobot 250 – 300 kg.

Menurut Bata belum optimalnya kenaikan bobot itu disebabkan daya adaptasi sapi impor terhadap iklim panas yang rendah. “Sapi impor datang dari daerah subtropis yang bersuhu lebih rendah daripada Indonesia. Oleh karena itu ia butuh pakan yang tidak menghasilkan panas berlebihan di tubuh,” kata Bata. Sumber panas itu terutama berasal dari hijauan. Nah, agar panas tubuh turun, pakan yang diberikan adalah konsentrat hingga 80%.

Beda kelas

Upaya meningkatkan daya adaptasi sapi impor dilakukan melalui persilangan dengan sapi lokal. Saat ini khususnya di Jawa Tengah telah muncul bakalan limpo (limousin dan PO) dan simpo (simmental dan PO). Agus Arifudin, peternak di Magelang, Jawa Tengah, misalnya, telah memakai limpo dan simpo untuk digemukkan. Pertambahan bobot keduanya mencapai 1,5 – 1,6 kg/hari. Dari bobot awal bakalan 200 kg/ekor dalam tempo 3 bulan Agus bisa memanen sapi berbobot 335 – 344 kg/ekor.

Sapi lokal memiliki daya adaptasi baik, tapi termasuk kelas kecil karena bobot tubuh maksimal 300 – 400 kg/ekor. Ukuran lebih kecil dimiliki sapi pesisir asal Padang, Sumatera Barat, berbobot sekitar 150 – 170 kg/ekor. “Lainnya, ada sapi madura, aceh, galekan atau trenggalek, jabres alias jawa brebes,” kata Mariyono. Dengan pemeliharaan intensif sapi-sapi itu bobotnya bisa naik hingga 0,8 – 1 kg/hari. Berbobot sedang di atas 400 kg/ekor: sapi PO dan donggala asal Sulawesi Tengah.

Ada syarat untuk menggemukkan bakalan. “Umur bakalan paling bagus 1,5 – 2,5 tahun,” kata Bata. Dengan kondisi itu saat dibesarkan akan optimal memproduksi daging. Umur kurang dari 1,5 tahun, lebih dominan menghasilkan lemak. Di atas umur 3 tahun pertumbuhan sapi melambat. Bakalan yang dipakai juga harus bertubuh prima: mata bersinar dan tidak kurus. “Utamakan bakalan bertubuh tinggi, dada dan pinggul lebar, serta memiliki kapasitas perut besar,” ucap Bata. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo dan Faiz Yajri)

 

Arbedeen angus

  • Sebaran di Jawa
  • Kategori sapi besar, betina 550 – 750 kg/ekor dan jantan 800 – 1.000 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 4 bulan
  • Bakalan 250 – 300 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 1,5 kg – 2 kg/hari
  • Karkas 50%

 

Limousin Bos taurus

  • Sebaran di Jawa dan Lampung
  • Kategori sapi besar dengan bobot dewasa di atas 800 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 4 bulan
  • Bakalan 250 – 300 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 1,5 – 2 kg/hari
  • Karkas 50%

Brahman cross

  • Sebaran di Jawa dan Lampung
  • Kategori sapi besar dengan bobot dewasa 550 – 800 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 4 bulan
  • Bakalan 250 – 300 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 1,5 – 2 kg/hari
  • Karkas 48,6 – 54,2%

Bali hasil domestikasi banteng Bos javanicus

  • Sebaran di Bali, NTT, NTB, Lampung, dan Kalimantan
  • Kategori sapi kecil dengan bobot dewasa 300 – 400 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 5 bulan
  • Bakalan 200 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 0,66 – 1 kg/hari
  • Karkas 56,9% dan dapat mengkonsumsi hijauan dari dedaunan

Peranakan ongole (PO), hasil silangan jantan sumba ongole dan betina lokal jawa

  • Sebaran di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Kalimantan
  • Kategori sapi sedang dengan bobot dewasa 584 – 600 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 5 bulan
  • Bakalan 250 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 0,8 – 1 kg/hari
  • Karkas 45%

Sapi Simmental Bos taurus

  • Sebaran di Jawa dan Lampung
  • Kategori sapi besar dengan bobot dewasa jantan 1.150 kg/ekor dan betina 800 kg/ekor
  • Penggemukkan 3 – 4 bulan
  • Bakalan 250 – 300 kg/ekor
  • Potensi kenaikan bobot 1,5 – 2 kg/hari
  • Karkas 50%

 

Powered by WishList Member - Membership Software