Pilih Jadi Petani Jahe

Filed in Majalah, Muda by on 08/06/2016
Permintaan bibit dan rimpang jahe skala lokal dan internasional masih terbuka lebar.

Permintaan bibit dan rimpang jahe skala lokal dan internasional masih terbuka lebar.

Kehidupan Rio Erlangga yang bekerja di perusahaan otomotif multinasional sejatinya mapan. Jabatannya tinggi di Departemen Sumberdaya Manusia dengan gaji yang cukup menjamin kemapanan ekonomi. Sebuah zona nyaman yang menjadi idaman generasi muda. Namun, Rio memilih mengundurkan diri. “Semua sudah dipertimbangkan masak-masak, Rio?” ujar atasannya yang kaget menerima surat pengunduran dirinya.

Meski mendapat tawaran posisi dan imbalan yang lebih menjanjikan dari perusahaan, Rio menolaknya dengan halus. Setelah negosiasi yang cukup alot sejak Desember 2015, akhirnya perusahaan resmi melepas Rio pada Februari 2016. “Keluar dari zona nyaman, karena selama masih menjadi bawahan, sangat sulit mencapai kebebasan finansial. Saya melihat peluang dan prospek sangat cerah di bidang agribisnis,” ujar Rio.

Budidaya jahe
Setelah keluar dari perusahaan, Rio Erlangga mulai fokus membudidayakan jahe. Permintaan jahe dunia masih tinggi dan belum semua tercukupi. Pemuda kelahiran 24 November 1985 itu menanam jahe gajah di lahan 1 hektare. Lokasi kebun di Desa Cikendi, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, berketinggian 800 meter di atas permukaan laut.

Sambil menanti tanamannya panen pada umur 10—12 bulan, Rio menjalankan usaha sebagai penyalur jahe para petani ke pasaran nasional. Ia juga memperluas jejaring pertemanan dengan para ahli dan pebisnis agribisnis di Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia. Sejatinya ia sudah melihat peluang besar di bidang agribisnis sejak masih menjadi karyawan.

Rio Erlangga siap mengolah lahan berbukit untuk usaha agribisnis jahe.

Rio Erlangga siap mengolah lahan berbukit untuk usaha agribisnis jahe.

Ketika itu ia memperoleh tawaran bekerja sama bisnis datang dari teman untuk membudidayakan jahe di lahan 3 ha pada September 2015. Mereka memenuhi permintaan jahe gajah dari Vietnam. “Pucuk dicinta ulam tiba, kesempatan itu saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar seluk-beluk ekspor produk pertanian,” kata lelaki berlatarbelakang pendidikan Teknologi Informasi itu.

Sekumpulan anak muda itu berhasil mengekspor 25 ton rimpang jahe gajah dengan nilai US$800 per ton. Dengan nilai tukar rupuah terhadap dolar Amerika saat itu Rp10.500, omzet mereka Rp210-juta. Keberhasilan itu semakin menguatkan harapan besarnya untuk fokus berbisnis komoditas pertanian. Ia juga memanfaatkan potensi sebagai penghubung antara pasar dan petani.

Bisnis bibit

Bergabung dalam komunitas Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia untuk memperluas jejaring dan pengetahuan.

Bergabung dalam komunitas Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia untuk memperluas jejaring dan pengetahuan.

Penyumbang pundi-pundi Rio memang sebagian besar penjualan bibit jenis jahe gajah dan jahe merah Zingiber officinale. Ia menampung dan menyalurkan bibit gajah dari petani di Cianjur, Jawa Barat. Setiap bulan selalu ada saja permintaan bibit yang masuk melalui telepon genggamnya. “Rata-rata saya mengirim bibit jahe gajah sebanyak 2 ton per bulan ke berbagai daerah di Indonesia,” kata Rio.

Kebutuhan bibit jahe gajah mencapai 1,5 ton per ha. Bibit jahe gajah yang berkualitas tinggi harus berbobot minimal 50 gram per rimpang, hasil panen minimal 12 bulan, dan memiliki 3 mata tunas. Rio menjual bibit jahe gajah mencapai Rp15.000 per kg sehingga omzetnya Rp22,5-juta per bulan. Adapun kebutuhan jahe merah hanya 850 kg per ha. Bibit berkualitas harus harus berbobot minimal 7 gram per rimpang, hasil panen di atas 12 bulan, bebas cendawan dan secara fisik sehat.

Prospek cerah

Prospek bisnis yang cerah dan perhitungan yang matang memantapkan tekad Rio menjadi petani sukses.

Prospek bisnis yang cerah dan perhitungan yang matang memantapkan tekad Rio menjadi petani sukses.

Menurut Rio mengusahakan jahe, dari hulu ke hilir semua proses produksinya menguntungkan. Rio menghabiskan biaya Rp50-juta untuk penanaman jahe gajah di lahan 1 hektare. Itu termasuk bibit sampai upah tenaga kerja. Dari penanaman bibit 1,5 ton rimpang, ia bakal menuai 22 ton per ha dalam 10 bulan. Harga jahe di tingkat petani rata-rata Rp6.000—Rp8.000 per kg. Ia akan panen perdana pada Oktober 2016.

Jika prediksi itu benar, omzetnya mencapai Rp132-juta—Rp176-juta. “Itu adalah hasil produk segarnya. Saya berencana setelah tahap itu mengembangkan produk olahan seperti minyak asiri yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi,” ujar Rio. Sebagai bukti komitmennya terhadap pengembangan produk dan petani jahe, Rio bersama rekan merintis pembentukan Koperasi Jahe Nasional.

“Nantinya koperasi akan menampung jahe dari petani dan membeli dengan harga yang lebih tinggi daripada tengkulak,” kata lelaki yang bangga menyandang predikat petani itu. Ia menuturkan, permintaan jahe gajah ke luar negeri masih terbuka lebar. Berbagai negara seperti Bangladesh, Pakistan, Uni Emirat Arab, India, bahkan negara Eropa banyak memesan jahe gajah. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software