Philip Yamin Menekuni Jagat Walet

Filed in Majalah, Satwa by on 11/06/2019

Batal kuliah di Jerman dan memilih menekuni walet.

Pilih walet, Philip Yamin batal kuliah di Jerman.

Usia Philip Yamin baru 18 tahun ketika memutuskan mempelajari seluk-beluk sarang walet. Tiga tahun sebelumnya, orang tua Philip membangun rumah walet. Maklum kala itu, pada 1998, popularitas rumah walet memuncak. Atas bujukan seorang kerabat, orang tua Philip mendirikan rumah walet di tempat asal keluarga mereka di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara. Celakanya, baik sang kerabat maupun orang tua Philip hanya ikut-ikutan. Mereka tidak memahami cara membuat walet betah sampai bersarang.

Saat membangun, sang kerabat hanya menyarankan agar orang tua Philip mencari tukang yang bisa membuat rumah walet. Setelah bangunan jadi, sang kerabat menyarankan agar mereka bertanya kepada toko elektronik yang biasa menangani pemasangan tata suara (sound system) di rumah walet. Begitu semua rampung, tidak seekor pun walet singgah apalagi bersarang dalam bangunan seluas 4 m x 8 m setinggi 3 lantai itu. Pada 2001, Philip yang baru lulus SMA penasaran dan tertantang mempelajari walet. Padahal, semula ia ingin menyusul sang kakak yang kuliah di Jerman.

Peran media

Sejak kecil, Philip hobi memelihara ikan hias dan burung berkicau. Kegemaran itu menjadi dasar memahami perilaku walet. Bersama sang ayah, ia juga mengikuti berbagai seminar walet. “Saat itu mencari ilmu hanya mengandalkan buku atau seminar,” katanya mengenang. Sepulang seminar, mereka hanya mendapat modul yang semua berisi teks tanpa gambar. Seminar seharga jutaan rupiah itu pun belum memberi jawaban mengapa rumah walet mereka tak kunjung terisi sarang.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5375540137″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Philip tidak patah arang. Ia berkunjung dan berkonsultasi dengan berbagai pakar walet tersohor. Salah satu sumber yang ia andalkan saat itu adalah Majalah Trubus yang rutin menulis walet di setiap edisi. Sejak 1990-an Majalah Trubus mengulas walet dalam serial khusus, yakni Seri Walet. Hingga edisi Mei 2019, sudah terbit minimal 263 artikel walet dalam 21 tahun. “Trubus menghadirkan narasumber kompeten, pelatihannya pun ada kunjungan lapang sehingga peserta mendapat gambaran,” katanya. Selang 3—4 tahun, ia bertemu seorang teman yang menguasai sistem suara untuk pemanggilan walet. Bersama sang kawan, pria 35 tahun itu itu pergi ke berbagai daerah untuk memasang tata suara.

Suara pemanggil awalnya mengandalkan kaset pita bersisi 2, yang durasi setiap sisinya 30—60 menit. Begitu semua pita habis terputar, suara pemanggil otomatis terhenti. Cara itu mutlak tergantung kepada operator yang berjaga sehingga dinilainya tidak praktis. Philip lantas menggunakan teknologi terbaru dengan pemutar nirjeda (continuous play). Namun, pita kaset cenderung memanjang kalau diputar terus-terusan sehingga kualitas suaranya berubah. Ia lantas beralih kepada cakram padat (CD). “Saat yang lain masih mengandalkan kaset, saya sudah beralih ke CD,” katanya.

Banyak orang membuat rumah walet tapi tidak semua terisi.

Meski suaranya lebih bening, CD malah lebih rentan dan cepat rusak ketimbang kaset. Untuk mengakalinya, ia lantas memasang beberapa pemutar CD berturutan sehingga suara pemanggil mengumandang nonstop. Philip belum puas, sehingga menggunakan CPU komputer khusus untuk memutar CD. Selanjutnya ia beralih menggunakan flashdisk lalu cakram keras atau hard disk sampai sekarang. Ia menggunakan penguat bunyi (amplifier) yang kualitasnya beragam. Namun, “Yang paling bagus tidak mendesis sehingga kicau panggilan terdengar bersih,” kata ayah 1 anak itu.

Sel surya

Penguat bunyi kualitas standar, seperti yang digunakan di kebanyakan rumah ibadah, menghasilkan desis yang mengikuti suara asli. Dulu, penguat bunyi seperti itu pun cukup untuk mengundang walet agar mau masuk. Sekarang, “Kalau ada 2 rumah walet berdekatan, satu menggunakan penguat berdesis sedangkan lainnya bening, walet akan masuk ke rumah walet yang bunyi pemanggilnya bersih,” kata Philip. Seiring peningkatan kualitas bunyi panggil, walet pun makin pemilih.

Dahulu walet mencari rumah, kini sebaliknya.

“Dulu walet yang mencari rumah. Sekarang kebalikannya, rumah yang mencari walet,” kata Philip. Banyaknya pilihan itu membuat walet mencari rumah yang menurut mereka paling nyaman. Pengalaman blusukan ke berbagai daerah membuatnya belajar banyak hal lain. Struktur ideal rumah walet meliputi ukuran lubang masuk, dimensi ruang putar, atau bahan sirip pun ia pelajari. Jenis aroma yang membuat walet kerasan juga ia telusuri yang paling cocok. Bungsu dari 2 bersaudara itu juga mempelajari parameter fisik berupa kelembapan dan suhu dalam bangunan walet.

Ia merangkum parameter walet dengan sebutan kaca susu—akronim dari kelembapan, aroma, cahaya, suhu, dan suara. Awalnya belajar bersama Trubus, kini Philip Yamin salah satu konsultan walet yang diperhitungkan. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software