Petik Sendiri Jeruk Dekopon

Filed in Buah, Majalah by on 07/01/2020

Sosok jeruk dekopon amat khas, memiliki benjolan di bagian tangkai.

 

Mupu Jeruk menyajikan wisata petik jeruk dekopon hasil budidaya secara organik.

Hamparan pohon jeruk berderet rapi. Jumlahnya 1.000 pohon produktif. Hampir semua pohon di kebun itu tengah berbuah pada pertengahan Desember 2019. Yang mengejutkan, jenis yang tumbuh di kebun itu ternyata jeruk dekopon. Itulah panorama di kebun Mupu Jeruk di Kota Bandung, Jawa Barat. Jeruk asal Jepang itu bersosok khas, terdapat benjolan di pangkal buah dan berukuran jumbo. Sekilogram terdiri atas 2—4 buah.

Nit Ratmita membudidayakan dekopon secara organik.

Kulit buah berwarna jingga sehingga terlihat memikat saat pohon berbuah lebat. Menurut pengelola Mupu Jeruk, Nir Ratmita, luas kebun dekopon di Mupu Jeruk mencapai 3 hektare. “Namun, yang ditanami dekopon sekitar 2 hektare,” ujarnya. Ratmita menuturkan, dekopon di kebun itu rata-rata berumur 5 tahun. Dari populasi sebanyak itu ia memanen rata-rata 4—5 ton dekopon per bulan.

Budidaya organik

Ratmita menuturkan, “Sebetulnya tanaman bisa dipacu untuk menghasilkan buah lebih dari itu. Namun, kami menyesuaikan dengan serapan pasar.” Ia menjual hasil panen ke beberapa pasar swalayan seperti Papaya, All Fresh, dan Total Buah di Kota Bandung dan Jakarta. Harga jual Rp55.000 per kg. “Sekali kirim minimal 800 kg,” ujar pengelola Mupu Jeruk bidang pemasaran, Gagung Wari.

Menurut Ratmita kebun itu sebelumnya adalah kebun sayuran. Pada 2014 seorang rekan memperkenalkan keistimewaan jeruk dekopon introduksi asal Jepang. Ia tertarik mengembangkan buah anggota keluarga Rutaceae itu. Tak tanggung-tanggung, Ratmita dan beberapa rekan berkongsi menanam dekopon hingga 1.000 pohon sekaligus. Mereka membudidayakannya secara organik.

“Sebetulnya belum murni organik karena sebelumnya lahan itu bekas ditanami sayuran yang dibudidayakan secara konvensional,” tuturnya. Namun, sejak tanam hingga sekarang ia hanya mengandalkan pupuk organik. Ia menggunakan pupuk kandang berupa kotoran ayam dan kambing yang telah difermentasi sebagai sumber nutrisi. Ratmita juga menambahkan pupuk organik yang terbuat dari fermentasi limbah pengolahan herbal.

Meski hanya mengandalkan pupuk organik, tanaman dekopon tumbuh subur. Pada umur 3 tahun setelah tanam pohon mulai berbuah. Setahun berikutnya hasil panen terus meningkat. Bahkan, Ratmita mesti memasang “pagar” bambu di sekeliling pohon untuk menopang buah. Semula kebun itu hanya fokus untuk memproduksi buah. Namun, pada 2017 Ratmita dan tim membangun kawasan kebun dekopon untuk agrowisata bernama Mupu Jeruk.

Di kebun Mupu Jeruk tumbuh 1.000 pohon dekopon di lahan 2 hektare.

Keputusan itu karena lokasi kebun yang sangat strategis. Lokasi kebun hanya beberapa meter dari jalan Setiabudi yang selalu ramai dilewati para wisatawan yang melancong ke kawasan wisata di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ratmita yang juga seorang penata taman menyulap sebagian area kebun menjadi taman yang menyuguhkan pemandangan menawan.

Berbuah terus

Di sana para pengunjung dapat memetik sendiri buah dekopon setelah membayar tiket masuk Rp15.000 per orang. “Sebetulnya harga tiket itu kami kembalikan lagi ke pengunjung dengan memberikan minuman selamat datang segelas jus jeruk dekopon,” tutur Gagung. Setelah puas berkeliling kebun, pengelola menimbang buah yang dipetik pengunjung. Harga jual buah Rp70.000 per kg.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Mupu Jeruk juga menjadi sarana edukasi bagi para pengunjung anak sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD). Mereka bisa mengenal jeruk dekopon dan cara budidayanya. Namun, mengelola wisata petik menjadi tantangan tersendiri bagi Ratmita. Ia dan tim harus mampu membuahkan dekopon sepanjang tahun agar buah selalu tersedia bagi pengunjung.

“Kalau pengunjung datang ingin memetik jeruk, tapi buahnya tidak ada bisa mengecewakan pengunjung,” ujarnya. Caranya dengan merangsang tanaman berbuah susul-menyusul menggunakan ramuan pupuk yang terbuat dari aneka jenis bahan herbal. Cara itu terbukti ampuh. Saat Trubus berkunjung dalam satu pohon ada buah yang sudah siap panen dan ada juga yang masih hijau. Dengan begitu pengunjung dapat menikmati kesegaran dekopon sepanjang waktu.

Sebelum memasuki kebun, pemandangan taman asri menyambut kedatangan pengunjung. Permukaan tanah menghijau lantaran tertutup hamparan rumput jepang yang rapi. Di salah satu sudut taman berdiri saung berlatar seperti air terjun. Uniknya dinding air terjun itu terbuat dari kombinasi akar kayu tua dan batu alam sehingga tampak menawan. Di beberapa titik area taman juga terdapat meja dengan tempat duduk yang ternaungi payung besar. Pengunjung dapat menikmati suasana taman sambil menikmati aneka hidangan khas Sunda. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software