Petani Milenial

Filed in Majalah, Sayuran by on 14/10/2019

Kita optimis melihat petani milenial. Anak-anak muda yang lahir pada 1980-an dan 1990-an itu menjadi pelaku pertanian dan peduli kualitas hasil pertanian. Misalnya pemupukan tidak melulu mengandalkan NPK. Mereka juga memperhatikan pupuk lain demi menghasilkan panen bermutu. Pola pikir berperan penting dalam regenerasi petani. Itu karena pertanian penuh dengan risiko. Oleh karena itu, petani adalah manusia tangguh.

Orang yang hanya memikirkan keuntungan cepat tidak cocok menggeluti pertanian karena berisiko tinggi. Menanam hari ini, belum tentu besok bisa panen dengan baik. Harapannya regenerasi pertanian menghasilkan sumber daya manusia lebih baik. Para petani muda diharapkan memiliki pola pikir yang lebih dari baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Petani milenial dituntut tangguh.

Petani milenial banyak menerapkan  teknologi budidaya sayuran hidroponik.

Bisa beradaptasi dengan segala kondisi di lapangan. Kelebihan petani milenial mengenal digital, sehingga bisa memanfaatkan kemudahan dan kecepatan akses informasi. Bertani sebetulnya sebuah proses yang mengasyikkan. Banyak hal yang bisa kita ambil dari pertanian meliputi menyemai, menanam, merawat, dan akhirrnya kita memanen hasil. Sama dengan kehidupan, menyemai kebaikan akan memanen hasil baik.

Di luar sumber daya manusia, Indonesia sejatinya potensial untuk mengembangkan beragam tanaman. Petani bisa menanam dan panen tanpa kenal musim. Mereka tinggal mengembangkan komoditas yang sesuai. Meski demikian iklim juga menjadi tantangan. Pada musim kemarau, misalnya, para petani acap kekurangan air. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) saat musim hujan juga tinggi.

Solusi kekurangan air dengan menyediakan embung. Kelebihan air saat musim hujan bisa digunakan untuk irigasi pada musim kemarau. Adapun menangggulangi OPT dengan bijaksana menggunakan pestisida. Jika tidak, akan menimbulkan ledakan populasi atau resurjensi. Keruan saja pengembangan pertanian perlu sokongan pemerintah. Pertanian Indonesia tidak bisa jalan sendiri, harus ada andil dari pemegang kebijakan. Pemegang kebijakan jangan hanya berorientasi ke hasil.

Harga produk pertanian pun harus kompetitif supaya bisa mencakup semua sarana dan prasarana yang mendukung usaha pertanian. Para pemangku kebijakan harus membuat regulasi supaya produk hortikultura punya daya saing dan berkualitas ekspor. Pilihan lain, mengolah komoditas pertanian menjadi produk jadi untuk meningkatkan nilai tambah. Selain pemerintah, pengembangan agribisnis juga membutuhkan dukungan sektor swasta seperti industri pupuk, pestisida, dan benih.

PT Meroke Tetap Jaya terus menyokong dan mendukung pertanian hortikultura. Caranya dengan melengkapi kebutuhan unsur hara untuk tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Perusahaan terus berinovasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan menyediakan pupuk yang lengkap. (Ermain, Kepala Agronomis PT Meroke Tetap Jaya)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software