Pesona Agave Mutasi

Filed in Tanaman hias by on 03/10/2013

Agave mutasi selalu menjadi incaran para kolektor.

Foto Agave isthmensis ‘kin nakafu’ yang terpampang di situs sebuah nurseri di Jepang mengundang decak kagum Sugita Wijaya. Padahal, ukurannya sangat mungil, yakni sedikit lebih besar daripada koin Rp500. “Jenis itu memang tergolong agave kerdil,” kata kolektor tanaman kaktus dan sukulen di Surabaya, Jawa Timur, itu. Agave kin nakafu semakin istimewa karena mengalami mutasi ganda. Sebagian besar daun mengalami variegata berwarna putih kekuningan. Beberapa daun di antaranya bahkan variegata penuh, tanpa hijau daun. Mutasi lain, susunan daun tak beraturan dan menjadi ramping. “Lazimnya susunan daun agave kin nakafu roset dan lebar,” ujarnya. Ternyata tanaman asal Meksiko itu juga mengalami mutasi kristata.

Dengan berbagai keunikan itu, tanpa berpikir panjang Sugita pun turut dalam pelelangan. Sang pemilik situs membuka harga di kisaran sekitar Rp3-juta (jika dikonversi ke dalam rupiah). Demi mendapatkan agave dambaan, Sugita menawar dengan harga tinggi. Agave idaman itu akhirnya dalam genggaman setelah Sugita membelinya dengan harga setara Rp5-juta. Harga itu dua kali lipat dari harga agave sejenis yang hanya mengalami variegata yang juga ia beli. Harga yang fantastis untuk sebuah tanaman yang hanya sebesar koin.

Sangat langka

Menurut peneliti kultur jaringan dan keanekaragaman plasma nutfah hutan tropis Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, agave mutasi itu memang pantas berharga mahal. Maklum, peluang mendapatkan tanaman mutasi di alam sangat kecil. Peluangnya 1:1.000.000. Apalagi agave itu mengalami mutasi ganda, peluangnya semakin kecil. “Umumnya tanaman mutasi yang unik harganya lebih mahal dibandingkan tanaman normal. Semakin langka atau sulit diperoleh, maka harganya pun semakin mahal,” ujar Edhi.

Sepekan kemudian kedua agave pesanan tiba dikediaman Sugita. Agave mutasi ganda itu datang tanpa media. Sugita lalu menanamnya dalam pot dengan media tanam hanya berupa pasir malang. Dua pekan lamanya Sugita membiarkan tanaman tanpa siraman air. Tanaman yang baru datang dari mancanegara biasanya akar masih dalam keadaan mati sehingga tak mampu menyerap air. Malah cendawan timbul di media dan akar.

Sugita menyimpan kedua agave itu di tempat ternaungi. “Sinar matahari yang terlalu terik menyebabkan tanaman seperti terbakar karena kekurangan klorofil akibat variegata,” katanya. Setelah dua pekan barulah pria  yang juga berprofesi sebagai arsitek itu memberikan pupuk lambat urai. Dosisnya satu sendok teh per 6 bulan. Selama 2—3 bulan berselang akar baru mulai tumbuh. Saat itulah Sugita mengganti media tanam dari semula hanya pasir menjadi berupa campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 3 : 7.

Agave kin nakafu itu hanya salah satu koleksi Sugita. Pria ramah itu juga memiliki beberapa agave unik yang ia beli pada 2011. Salah satunya Agave parviflora variegata. Agave asal Meksiko yang masuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna Appendix 2 itu terlihat cantik karena daunnya memiliki paduan warna hijau dan kuning tak beraturan. Di kalangan kolektor agave mutasi seperti variegata memang selalu jadi buruan. “Dengan mutasi itu nilai jual agave ikut terdongkrak,” ujar Sugita. Itulah sebabnya hampir setiap bulan Sugita getol berburu agave variegata.

Nun di Kota Bandung, Jawa Barat, ada Erminus Temmy yang juga getol berburu agave variegata. Salah satu yang istimewa adalah Agave potatorum “snowfall” miliknya. Disebut demikian karena pada tepi daun terdapat kelir putih. Keunikan itulah yang menarik perhatian Temmy saat berburu aloe di sebuah nurseri di Amerika Serikat. Temmy tak ragu memboyong agave silangan Kelly Griffin itu dengan US$100 setara Rp960.000 (US$1= Rp9.600) untuk sepot tanaman berdiameter 6 cm.

50 kali

Temmy juga mengoleksi Agave victoriae-reginae variegata. Pada agave variegata itu terdapat semburat kuning pada bagian tengah atau mediopicta. Sugita dan Andy Chandra, kolektor di Sidoarjo, Jawa Timur, juga mengoleksi Agave victoriae-reginae variegata. Hanya saja corak variegatanya berbeda. Pada koleksi Sugita dan Andy corak kuning terdapat di bagian tepi.

Menurut pehobi tanaman sekulen di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Dwi Wahyu Setyono, variegata pinggir maupun tengah pada Agave victoriae-reginae sama saja tingkat kelangkaannya. “Namun biasanya mediopicta memiliki corak warna yang lebih bagus dibandingkan variegata di pinggir daun sehingga lebih banyak dikoleksi pehobi,” kata Dwi. Kedua variegata itu akan terdongkrak tingkat kelangkaanya jika coraknya berwarna putih. “Untuk jenis mediopicta berwarna putih memiliki nilai paling tinggi karena langka di pasaran, bisa 50 kali lipat, terutama pada beberapa jenis seperti Agave victoriae-reginae, A. utahensis var eborispina, A. parviflora, A. pumila, A. mexicana, dan A. bleuglow,” tuturnya.

Victoriae-reginae variegata bercorak kuning di tepi daun seperti koleksi Andy memang tidak terlalu langka, Namun penampilannya sangat istimewa karena sosoknya yang sangat roset dan corak yang seragam. Itulah sebabnya Andy pun tergiur untuk mengoleksi meski harus merogoh kocek agak dalam. Demi si belang, rupiah pun tak berbilang. (Pressi HF/Peliput: Lutfi Kurniwan)

FOTO:

  1. Agave isthemensis kin nakafu variegata
  2. Agave isthemensis kin nakafu variegata kristata
  3. Agave potatorum “Snowfall”
  4. Agave victoria reginae mediopicta variegata pinggir
  5. Agave parvyflora variegata marginata
  6. Agave titanota “blue ball america” (kanan), kiri normal
  7. Agave victoria reginae mediopicta
 

Powered by WishList Member - Membership Software