Pertanian Perkotaan BI, Trubus, & PKK: Profit di Lahan Sempit

Filed in Sayuran by on 20/11/2015
Tanaman cabai diletakan di atas rak bambu, sehingga tidak mengganggu saluran air.

Tanaman cabai diletakan di atas rak bambu, sehingga tidak mengganggu saluran air.

Lahan sempit bukan halangan untuk bercocok tanam sayuran. Lingkungan menjadi hijau, pendapatan pun bertambah.

Berhasrat bercocok tanam tapi tak punya lahan? Warga Kelurahan Sunter, Jakarta Utara, tak kehilangan akal. Baduriah dan rekan warga kelurahan itu memanfaatkan ruang di atas saluran air di tepi jalan sebagai lokasi untuk menanam kangkung, bayam, selada, pakcoy, dan cabai. Penempatan tanaman sayuran dan cabai itu tidak mengganggu saluran air sama sekali.

Baduriah menempatkan beragam sayuran itu di atas rak bambu, sehingga jalannya air tak tergganggu oleh tanaman. Ribuan polibag berisi tanaman sayuran berderet rapi di atas rak bambu. Maka jadilah ruang kosong di atas saluran sepanjang 50 meter dan lebar 1,5 meter menjadi lokasi budidaya beragam sayuran. Menurut Baduriah kendala bercocok tanam di perkotaan adalah lahan sempit.

Kader PKK Sunter, Jakarta Utara, memanfaatkan ruang di atas saluran air untuk bercocok tanam beragam sayuran.

Kader PKK Sunter, Jakarta Utara, memanfaatkan ruang di atas saluran air untuk bercocok tanam beragam sayuran.

Rumah susun
Untuk menyiasati kendala itu Baduriah dan rekan lainnya memanfaatkan ruang saluran air pembuangan di pinggir jalan sebagai tempat menanam sayuran. Bertahun-tahun “lahan” itu yang semula menganggur itu kini tampak hijau segar. Selain itu warga Kelurahan Sunter juga memanfaatkan lahan lain seluas 30 m2. Dengan demikian luas total lahan budidaya mencapai 105 m2.

Warga menerapkan sistem pertanian perkotaan berkat proyek kerja sama antara Bank Indonesia, Majalah Trubus, dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi DKI Jakarta. Hingga 8 Oktober 2015, Baduriah dan kawan berkali-kali panen 130 kg antara lain terdiri atas 474 polibag kangkung, 100 polibag bayam, 72 pakcoy. Dengan harga rata-rata Rp10.000 per kg mereka memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp1,3-juta.

Menurut Ketua Rukun Tetangga setempat, Drs Sagam, salah satu kunci keberlangsungan pertanian perkotaan harus ada rasa gotong royong. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan mengedukasi,” kata Sagam. Baduriah mengatakan, bentuk gotong royong itu berupa jadwal piket untuk menyiram, 2 orang setiap hari bergantian. Warga Sunter bukan satu-satunya yang sukses menerapkan pertanian perkotaan.

Pemanfaatan pekarangan dengan kegiatan bercocok tanam di rumah susun Flamboyan, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Pemanfaatan pekarangan dengan kegiatan bercocok tanam di rumah susun Flamboyan, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Penghuni rumah susun (rusun) Flamboyan di Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, juga menanam beragam sayuran seperti cabai, kangkung, dan bayam. Penanamam di tujuh lokasi di setiap blok rumah susun. Menurut warga setempat, Neneng Syahroniah, panen baru sekali sebanyak 105 kg terdiri atas kangkung, bayam, dan caisim.

Menurut Neneng sebagian besar atau 70% hasil panen dijual dengan harga rata-rata Rp10.000 per kg. Uang hasil penjualan sayuran itu sebagai uang kas dan modal penanaman berikutnya. Hanya sebagian kecil hasil panen yang dinikmati warga rumah susun. Citarasa sayurannya lebih segar dan rasanya lebih enak daripada sayuran yang dijual di pasar. “Lebih terjamin mengonsumsi sayuran hasil penanaman sendiri,” kata Neneng.

Lahan sempah
Warga Kelurahan Galur, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, juga gandrung bercocok tanam. Mereka memanfaatkan lahan menganggur seluas 30 m x 10 m di belakang Puskesmas untuk menanam beragam sayuran seperti cabai dan kangkung. Menurut warga setempat, Chorida Suratno, panen baru sekali mencapai 150 kg. Sebanyak 70% hasil panen sayuran itu dijual dengan harga Rp10.000 per kg.

PKK Kelurahan Galur, Jakarta Pusat, memanfaatkan lahan kosong di belakang Puskesmas untuk budidaya beragam sayuran.

PKK Kelurahan Galur, Jakarta Pusat, memanfaatkan lahan kosong di belakang Puskesmas untuk budidaya beragam sayuran.

“Kegiatan ini sangat positif, karena mendapat ilmu, para kader PKK menjadi lebih mengerti cara bertani di perkotaan. Lahan sempit bukan menjadi halangan lagi masyarakat. Selain itu juga mendapatkan pula penghasilan tambahan,” kata Chorida. Ia mengatakan dengan kegiatan pertanian perkotaan anggota PKK semakin termotivasi dan lebih tertarik mendalami kegiatan bercocok tanam.

Muhidin dan rekan di Kelurahan Kebonjeruk, Jakarta Barat, mengubah peruntukan lahan seluas 2.400 m2 yang semula tempat pembuangan sampah, kini kebun sayuran. Keruan saja warga memetik banyak keuntungan karena lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat. Semula aroma busuk selalu menguar dari lokasi pembuangan sampah itu. Kini justru pemandangan hijau segar yang tampak.

Muhidin, ketua RT 005 RW 013, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Muhidin, ketua RT 005 RW 013, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta.

Di lahan itu warga menanam beragam sayuran seperti pakcoy, bayam, dan selada. Total jenderal terdapat 700 polibag. Menurut Muhidin pemanfaatan lahan sempit sebagai tempat bercocok tanam dapat juga membantu memberdayakan masyarakat. Oleh karena dari hasil sayuran yang dipanen dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Selain itu juga dapat meningkatkan pendapatan lebih masyarakat dari hasil penjualan panen.

Muhidin dan rekan baru 2 kali panen pada 8 Agustus dan 8 September 2015. Mereka menuai 135 kg sayuran yang dijajakan rata-rata Rp10.000 per kg. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan urban farming yang disponsori oleh BI, Trubus, dan PKK DKI Jakarta,” kata Muhidin. Bukti bahwa lahan sempit bukan halangan untuk menanam. (Muhamad Fajar Ramadhan)

 

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software