Perkenalkan,Ini Emas!

Filed in Tanaman hias by on 01/06/2009 0 Comments

Lazimnya myriostigma hijau. Warna kuning muncul karena berkurangnya jumlah klorofil tanaman. ‘Sel mesofil (tempat berlangsungnya fotosintesis, red) tak mampu membentuk kloroplas sehingga pigmen klorofil tak terbentuk. Yang ada hanya pigmen xanthofil pembentuk warna kuning,’ kata Profesor Dr Benyamin Lakitan, ahli fisiologi tumbuhan dari Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Sriwijaya. Menurut Sekretaris Menteri Negara Riset dan Teknologi RI itu pigmen kuning sebetulnya juga terdapat pada tanaman normal. Hanya saja penampakannya tetutup oleh warna hijau klorofil.

Xanthofil – berada dalam kromoplas – juga pembentuk warna kuning dan jingga pada belimbing dan wortel. Pada buah matang klorofil terurai sehingga yang tersisa hanya pigmen kuning. Itulah sebabnya warna buah masak cenderung kuning atau jingga meski saat muda berwarna hijau. ‘Bedanya pada buah perubahan warna terjadi alami seiring umur kematangan,’ kata Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Pada myriostigma perubahan itu terjadi karena kelainan. Fenomena itu lazim disebut variegata. Biasanya kelainan warna itu terjadi pada daun, batang, dan kulit buah. Menurut Dr Ir Syarifah Iis Aisyah Msc. Agr, dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada tanaman variegata terdapat gen pembentuk warna hijau dan kuning sekaligus. Keduanya secara alami saling mendominasi dan mengalah. Pada bagian hijau kloroplas yang aktif, sedangkan pada bagian kuning kromoplas yang aktif.

Kelainan

Menurut Dr Susiani Purbaningsih DEA, dari Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Indonesia, variegata muncul karena mutasi genetik akibat lingkungan. Contohnya suhu dan curah hujan yang ekstrim. Polusi pun bisa menjadi biang keladi. ‘Tanaman mencoba beradaptasi. Pada tanaman yang secara genetik kurang stabil, maka kode genetik bisa berubah,’ kata Susiani.

Menurut Benyamin, jika variegata itu ekspresi genetik tanaman, maka bisa diturunkan. Namun, tidak semua turunan variegata. Lazimnya sebagian normal (hijau) dan sebagian lain ‘albino’. Yang albino lebih lemah karena tidak memiliki klorofil yang dibutuhkan untuk fotosintesis.

Pada kaktus peluang munculnya mutasi itu sangat kecil. Dari 400 kaktus tanpa duri yang didatangkan Handhi, importir di Tangerang, Banten, dari Thailand hanya 15 yang variegata. Handry Chuhairy, pemain sukulen di Tangerang, Banten, menyebut peluang munculnya variegata hanya 1:5.000 dari semaian biji. Ada pula yang menyebutkan 1:1.000.000.

Itulah sebabnya kaktus golden diburu hobiis. Aries Andi, pemilik nurseri Sekar Kampoeng di Yogyakarta, mengaku kebanjiran permintaan kaktus belang dan golden. ‘Saya sudah lepas 40 pot. Kini ada permintaan lagi dengan jumlah setara, tapi tak sanggup penuhi karena stok kosong,’ katanya kepada wartawan Trubus Imam Wiguna pada pertengahan Mei 2009.

Menurut Aries harga kaktus tanpa duri variegata itu berlipat-lipat ketimbang kaktus biasa. ‘Karena langka harganya di kisaran Rp1-juta – Rp5-juta,’ tutur Aries. Di tanahair kaktus golden lain adalah Astrophytum asterias ‘hakuun’ variegata yang nyaris seluruh tubuhnya kuning. Warna hijau hanya muncul di puncak batang dan sedikit menyebar ke lembah lekukan. Jenis lain Astrophytum asterias variegata yang lorengloreng. Seperti komentar Yoel, kaktus kini tampil beda. (Destika Cahyana/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software